Kalian pernah bayangin nggak sih ada kereta yang bisa lari kencang banget sampai 500 km per jam tapi nggak nyentuh rel sama sekali? Kedengarannya kayak film fiksi ilmiah ya, tapi ini beneran lagi dikerjain sama Jepang di bawah pegunungan Alpen mereka. Negara ini lagi jor-joran nuangin duit sekitar 11 triliun yen atau setara 73 miliar dolar cuma buat ngebangun jalur kereta peluru magnetik yang bakal jadi salah satu proyek kereta paling mahal sepanjang sejarah manusia.
Kalo proyek ini sukses, perjalanan dari Tokyo ke Osaka yang biasanya makan waktu lama bakal bisa ditempuh cuma dalam sejam-an aja, yang pastinya bakal ngebongkar ulang tatanan ekonomi Jepang. Tapi pertanyaannya, kenapa Jepang berani banget taruhan segede itu buat kereta yang bahkan nggak punya roda? Kita bakal ngebahas tuntas soal SC Maglev ini, mulai dari teknologinya yang ajaib sampai drama politik di baliknya yang bikin pusing tujuh keliling.
SC Maglev ini singkatan dari Superconducting Magnetic Levitation, simpelnya sih ini kereta yang mengapung, bukan menggelinding. Alih-alih pakai roda baja kayak kereta biasa, mereka pakai kekuatan magnet yang super kuat buat ngangkat badan kereta sekitar 10 cm di atas lintasannya. Karena nggak ada gesekan sama sekali antara roda dan rel, kereta ini bisa dipacu sampai kecepatan yang nggak masuk akal buat ukuran transportasi darat. Bayangin aja, kecepatan operasionalnya direncanain bakal stabil di 500 km per jam, jauh lebih kencang dibanding Shinkansen sekarang yang mentok di 300-an km per jam. Malah kalau kalian ngebaca catatan sejarahnya, prototipe kereta ini pernah mecahin rekor dunia di angka 603 km per jam pas lagi uji coba, gila banget kan? Teknologi ini butuh infrastruktur yang beda total, bukan pakai rel besi lagi tapi pakai dinding beton berbentuk parit yang isinya penuh sama kumparan magnet.
Cara kerjanya juga unik banget, kayak ada “jabat tangan magnetik” yang terus-menerus narik dan dorong kereta ini biar maju kencang. Magnet yang ada di kereta itu didinginkan sampai suhu ekstrem minus 269 derajat Celsius pakai helium cair biar bisa jadi superkonduktor. Nah, pas kereta mulai jalan, awalnya dia masih pakai roda karet kecil kayak pesawat buat ancang-ancang. Begitu kecepatannya sudah nyentuh 150 km per jam, kekuatan magnetnya baru jadi cukup kuat buat ngangkat seluruh badan kereta, rodanya masuk ke dalam, dan keretanya pun melayang terbang rendah. Sepertinya Jepang emang pengen nunjukin kalau mereka masih jadi raja teknologi di dunia transportasi. Tapi ngebangun jalurnya itu tantangan yang luar biasa berat karena rutenya nggak lewat pesisir kayak Shinkansen lama, tapi motong lurus nembus pegunungan Alpen Jepang yang isinya batu-batu keras.
Kalian harus tahu kalau sekitar 86% jalur dari Tokyo ke Nagoya itu isinya terowongan semua. Mereka benar-benar ngebongkar gunung buat bikin lubang lurus sepanjang 25 km di kedalaman 1,4 km di bawah tanah. Ini bakal jadi terowongan kereta terdalam dan terpanjang di Jepang. Kenapa harus se-ekstrem itu? Karena buat lari 500 km per jam, keretanya nggak boleh banyak belok-belok, jadi ya jalurnya harus lurus kayak ditembak laser. Masalahnya, pengerjaan proyek raksasa ini nggak mulus-mulus amat karena sempat kejegal drama lingkungan di Prefektur Shizuoka. Gubernur di sana sempat nolak ngasih izin karena takut terowongan ini bakal ngerusak aliran air sungai Oi yang jadi sumber kehidupan warga lokal. Gara-gara masalah ini doang, proyek yang harusnya beres tahun 2027 jadi molor jauh sampai tahun 2030-an atau bahkan 2040-an.
Selain masalah teknis dan lingkungan, biaya yang terus membengkak juga bikin banyak orang mulai ragu. Dengan jumlah penduduk Jepang yang makin menyusut dan budaya kerja dari rumah yang makin ngetren, apa iya nanti penumpangnya bakal sebanyak yang dibayangin? Ada yang bilang ini cuma proyek kebanggaan doang yang mungkin bakal rugi besar. Tapi buat pendukungnya, SC Maglev ini adalah asuransi buat Jepang kalau-kalau ada gempa bumi besar di jalur pantai, mereka masih punya jalur cadangan yang aman di pedalaman. Terlepas dari segala kontroversinya, kalau kita ngelihat kegigihan insinyur Jepang selama puluhan tahun ngebangun teknologi ini, kayaknya mereka nggak bakal berhenti gitu aja. Kita tinggal nunggu waktu aja sampai akhirnya bisa ngerasain gimana rasanya terbang rendah di atas tanah dengan kecepatan peluru.
Kesimpulannya, proyek SC Maglev ini adalah pertaruhan harga diri dan masa depan teknologi Jepang yang luar biasa mahal. Walaupun penuh hambatan mulai dari masalah geologi yang rumit sampai drama politik lokal, Jepang sepertinya sudah nggak mungkin balik kanan karena duit yang keluar sudah terlalu banyak. Kalau ini berhasil, wajah ekonomi mereka bakal berubah total, tapi kalau gagal, ini bakal jadi pelajaran paling mahal dalam sejarah transportasi dunia. Kita doakan saja semoga inovasi ini bisa benar-benar bermanfaat buat banyak orang nantinya. Sampai ketemu di bahasan seru lainnya ya rekan-rekanita.