Banyak dari kalian pasti sering beranggapan kalau orang Spanyol modern itu keturunan langsung dari bangsa Romawi atau mungkin bangsa Moor yang pernah berkuasa lama di sana. Wajar sih, peninggalan sejarah mereka kan megah banget. Tapi, riset DNA terbaru justru ngasih fakta yang cukup mengejutkan. Ternyata, akar genetika orang Spanyol itu jauh lebih tua, kompleks, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar itu berdiri. Yuk, kami ajak kalian menyelami sejarah yang tertulis di dalam darah mereka!
Kalau kita bicara soal sejarah Eropa, Spanyol atau Semenanjung Iberia ini ternyata punya peran yang krusial banget, lebih dari yang kita bayangkan. Studi genetika modern menunjukkan bahwa Spanyol adalah salah satu persimpangan genetik tertua di Eropa. Ceritanya bermula puluhan ribu tahun lalu, saat Zaman Es terakhir melanda. Waktu itu, sebagian besar Eropa utara tertutup gletser raksasa yang ngebuat kehidupan manusia di sana hampir mustahil bertahan. Nah, Iberia ini kondisinya beda; iklimnya relatif lebih hangat.
Kondisi ini ngebikin Semenanjung Iberia jadi tempat perlindungan atau refugium yang sangat penting bagi manusia purba. Bukti genetik ngasih tahu kami bahwa para pemburu-pengumpul (hunter-gatherers) kuno bertahan hidup di sini, sementara populasi di wilayah lain punah atau terpaksa migrasi ke selatan. Mereka ini adalah bagian dari populasi pemburu-pengumpul Eropa barat yang lebih luas. Tapi, Iberia memungkinkan mereka bertahan lebih lama dan menjaga keberlangsungan garis keturunan yang lebih stabil dibanding tempat lain di Eropa.

Menariknya, saat iklim mulai menghangat dan es mencair, Iberia memainkan peran kunci dalam mengisi ulang populasi Eropa Barat. Kelompok-kelompok yang membawa keturunan pemburu-pengumpul Iberia ini bergerak ke utara, menyebarkan gen yang sampai sekarang masih muncul di seluruh benua. Jadi, Spanyol bukan cuma tujuan migrasi, tapi justru sumber populasi yang ngebantu membangun kembali Eropa setelah Zaman Es. Hebatnya, DNA modern mengungkapkan bahwa orang Spanyol masih membawa jejak leluhur yang cukup kuat dari para penyintas Zaman Es ini. Ini menjadikan Spanyol salah satu wilayah dengan kontinuitas genetik terkuat di Eropa.
Lalu, sekitar tahun 5.500 SM, perubahan besar terjadi. Petani Neolitikum awal mulai berdatangan dari Anatolia (Turki modern), bergerak lewat jalur pesisir Mediterania. Kedatangan mereka ini bisa dibilang ngebawa revolusi gaya hidup; dari pertanian, hewan ternak, sampai tembikar. Secara genetik, kedatangan mereka menandai salah satu perubahan terbesar dalam sejarah Iberia. DNA kuno menunjukkan bahwa para petani ini sebagian besar menggantikan atau membaur dengan populasi pemburu-pengumpul lokal. Meskipun seiring waktu kedua kelompok ini bercampur, keturunan Neolitikum menjadi dominan. Lapisan genetik inilah yang ngehubungin Iberia nggak cuma ke Eropa, tapi juga ke Timur Dekat kuno.
Nggak berhenti di situ, pergeseran dramatis lainnya terjadi sekitar tahun 2.500 SM selama Zaman Perunggu. Kelompok yang terkait dengan budaya Bell Beaker menyebar ke Iberia, membawa keturunan yang asalnya dari padang rumput (Stepa) Eurasia. Bukti genetik menunjukkan migrasi ini punya dampak yang sangat besar, terutama pada garis keturunan laki-laki. Dalam beberapa abad saja, sebagian besar garis kromosom Y (laki-laki) sebelumnya tergantikan, dan haplogrup R1b menjadi dominan—pola yang masih kita lihat di Spanyol hari ini. Ini bukan cuma perubahan genetik, tapi juga sosial, yang kemungkinan besar memperkenalkan hierarki baru dan pengaruh bahasa Indo-Eropa.
Nah, ini bagian yang sering bikin salah kaprah. Banyak yang mengira penaklukan Romawi atau kekuasaan Islam (Moor) mengubah genetika Spanyol secara total. Padahal, faktanya nggak segitunya. Ketika Romawi menaklukkan Iberia, mereka memang mengubah bahasa, hukum, dan identitas secara mendalam. Tapi secara biologis? Dampaknya ternyata minim. DNA kuno mengindikasikan bahwa pemukim Romawi itu jumlahnya relatif sedikit dibanding populasi lokal yang sudah ada. Jadi, mereka mengubah cara orang hidup dan berbicara, tapi nggak mengubah siapa mereka secara biologis.
Hal yang sama juga berlaku untuk periode kekuasaan Islam dari abad ke-8 hingga ke-15. Meskipun periode ini meninggalkan jejak budaya yang sangat dalam pada arsitektur dan ilmu pengetahuan, studi genetik menunjukkan bahwa kekuasaan Moor tidak melibatkan penggantian populasi skala besar. Masukan genetik Afrika Utara memang ada, tapi relatif terbatas dan sinyal terkuatnya cuma terlihat di wilayah selatan kayak Andalusia. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan Islam dipertahankan oleh elit pemerintahan yang kecil, bukan pemukiman massal. Jadi, konversi agama dan pertukaran budaya lebih berpengaruh daripada percampuran biologi.
Meski orang Spanyol punya fondasi genetik yang sama, perbedaan regional tetap ada. Contoh paling mencolok adalah populasi Basque. Mereka sering digambarkan sebagai salah satu kelompok paling kontinu di Eropa karena menunjukkan lebih sedikit percampuran dengan pendatang dari Stepa maupun migrasi belakangan. Mereka sepertinya menjaga profil yang lebih dekat ke Iberia masa Neolitikum awal. Selain itu, ada gradien genetik dari utara ke selatan. Wilayah utara cenderung punya pengaruh Atlantik dan Zaman Perunggu yang lebih kuat, sementara selatan membawa sedikit lebih banyak input Mediterania dan Afrika Utara.
Jadi, bisa dibilang orang Spanyol modern bukanlah produk dari satu kekaisaran atau invasi saja. DNA mereka adalah perpaduan berlapis dari pemburu-pengumpul Zaman Es, petani Neolitikum, dan migran Zaman Perunggu yang membentuk kembali Eropa Barat. Pengaruh sejarah belakangan seperti Romawi, Jermanik, atau Islam cuma nambahin jejak genetik kecil di atas fondasi purba yang sudah kokoh itu.
Melihat fakta-fakta di atas, rasanya kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap sejarah Spanyol. Alih-alih melihat mereka sebagai hasil cetakan ulang oleh Romawi atau Moor, kita harus melihat mereka sebagai penyintas yang tangguh. DNA mereka merekam kisah adaptasi dan keberlangsungan hidup selama ribuan tahun, dari dinginnya Zaman Es hingga panasnya persaingan antar-peradaban. Identitas genetik mereka sudah terbentuk kuat jauh sebelum nama “Spanyol” ada di peta dunia.
Demikianlah ulasan mendalam kami mengenai asal-usul genetik bangsa Spanyol yang ternyata penuh kejutan. Semoga wawasan ini bisa ngebantu kalian memahami bahwa sejarah manusia itu nggak selalu sama dengan sejarah politik atau kerajaan. Kadang, apa yang tertulis di buku sejarah berbeda dengan apa yang tersimpan di dalam sel tubuh kita. Sampai jumpa di artikel selanjutnya, rekan-rekanita! Terima kasih sudah membaca.