Dunia lagi heboh nih gara-gara Israel secara mengejutkan mengakui kedaulatan Somaliland sebagai sebuah negara. Padahal, Amerika Serikat saja sampai sekarang belum berani mengambil langkah nekat ini. Kira-kira ada agenda apa sebenarnya di balik keputusan ini? Apakah murni diplomasi, atau ada strategi militer licik buat ngamanin Laut Merah dari ancaman Houthi? Yuk, kita bedah bareng-bareng!
Mungkin banyak dari kalian yang masih bingung atau bahkan baru dengar nama “Somaliland”. Kalau kalian berpikir ini sama dengan Somalia, sebenarnya anggapan itu nggak salah-salah banget, tapi juga nggak sepenuhnya benar. Somaliland secara geografis memang terletak di ujung timur benua Afrika, tepatnya di wilayah yang dikenal sebagai Tanduk Afrika. Secara internasional, wilayah ini masih dianggap sebagai bagian dari Somalia. Tapi faktanya, Somaliland sudah mendeklarasikan kemerdekaan mereka sejak tahun 1991. Jadi, sudah lebih dari 30 tahun mereka menjalankan pemerintahan sendiri yang terpisah dari Mogadishu.
Yang ngebuat situasi ini unik, Somaliland itu secara de facto sudah beroperasi layaknya negara berdaulat. Mereka punya bendera sendiri, paspor, angkatan kepolisian, militer, parlemen, bahkan mata uang sendiri yang bernama Somaliland Shilling. Ironisnya, kondisi politik di sana justru jauh lebih stabil dan demokratis kalau dibandingin sama induknya, Somalia, yang masih sering dilanda perang saudara dan ancaman teror Al-Shabaab. Tapi ya itu tadi, karena nggak ada pengakuan internasional, status mereka jadi terkatung-katung.
Nah, sejarah kenapa mereka pengen banget pisah itu mirip-mirip kayak sejarah kolonial di tempat lain. Dulu, Somaliland itu jajahan Inggris (British Somaliland), sedangkan Somalia dijajah Italia. Mereka sempat gabung jadi satu negara pada tahun 1960. Tapi, penyatuan ini berakhir tragis di bawah rezim diktator Siad Barre. Rezim ini ngebantai orang-orang utara (Somaliland), khususnya klan Isaaq, bahkan sampai ngebom kota Hargeisa hingga rata dengan tanah. Trauma sejarah inilah yang ngebikin mereka ogah balik lagi ke pelukan Somalia.
Tiba-tiba, Israel masuk ke dalam chat dan menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Somaliland. Benjamin Netanyahu bahkan menyebut ini sebagai langkah besar dan semangat baru dari Abraham Accords. Tentu saja, rakyat Somaliland senang bukan main. Kalian bisa lihat di media sosial, banyak video perayaan di sana di mana bendera Israel dikibarkan bersandingan dengan bendera Somaliland. Bagi mereka, pengakuan ini adalah angin segar setelah puluhan tahun diacuhkan dunia.
Tapi, jangan buru-buru terharu dulu. Banyak ahli geopolitik yang melihat ada “udang di balik batu” dari keputusan Israel ini. Rasanya terlalu naif kalau kita mikir Israel melakukan ini cuma atas dasar kemanusiaan. Lokasi Somaliland itu strategis banget, nempel langsung sama Teluk Aden dan pintu masuk Laut Merah (Bab el-Mandeb). Ini adalah jalur perdagangan paling vital di dunia yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Masalah utamanya adalah siapa yang ada di seberang lautan sana. Tepat di utara Somaliland, ada Yaman yang sebagian wilayahnya dikuasai oleh kelompok Houthi. Kita semua tahu gimana agresifnya Houthi menyerang kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel belakangan ini. Serangan-serangan ini jelas ngeganggu jalur logistik Israel. Nah, Israel butuh “mata” dan “telinga” di dekat situ. Djibouti, negara tetangga Somaliland, sudah penuh sesak dengan pangkalan militer asing (AS, Prancis, China) dan cenderung pro-Palestina, jadi mustahil bagi Israel buat masuk ke sana. Somalia? Lebih nggak mungkin lagi karena mereka sangat anti-Israel.
Jadi, Somaliland adalah opsi yang paling masuk akal. Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) bahkan ngasih analisis kalau wilayah ini bisa banget dijadikan markas intelijen terdepan buat mantau pergerakan Houthi, atau yang lebih ngeri, jadi tempat nyimpen persenjataan buat serangan balik jarak dekat. Intinya, Israel butuh tanah pijakan di Tanduk Afrika buat ngamanin kepentingan mereka.
Yang lebih bikin merinding, ada rumor yang beredar dari arsip Evie Magazine yang menyebutkan kemungkinan relokasi warga Gaza ke wilayah Afrika. Salah satu tempat yang digadang-gadang adalah Somaliland. Meskipun ini masih sebatas dugaan dan belum ada pernyataan resmi, kedekatan Israel-Somaliland yang tiba-tiba ini ngebikin spekulasi tersebut jadi terdengar masuk akal. Apalagi Somaliland juga dikabarkan sedang gencar melobi Amerika Serikat—khususnya kubu Partai Republik—dengan nawarin penggunaan pelabuhan dan landasan udara bekas Perang Dingin sebagai imbalan pengakuan kedaulatan.
Tentu saja, langkah Israel ini bikin marah banyak pihak. Presiden Somalia menganggap ini sebagai invasi terang-terangan terhadap kedaulatan wilayahnya. Uni Eropa, Mesir, Turki, dan 21 negara Arab lainnya juga langsung mengeluarkan kecaman keras. Bahkan Amerika Serikat di bawah Presiden Trump, meski membela hak Israel untuk menjalin hubungan diplomatik, secara tegas menjawab “No” saat ditanya apakah akan ikut mengakui Somaliland. Posisi Amerika ini unik; nggak mau mengakui, tapi ngebelain Israel yang mengakui.
Kami melihat situasi ini sebagai pedang bermata dua buat Somaliland. Di satu sisi, mereka dapat pengakuan yang didambakan. Tapi di sisi lain, ini bisa ngebuat mereka dimusuhi oleh tetangga-tetangga Arab dan Afrika yang sentimennya kuat terhadap isu Palestina. Secara hukum internasional pun, posisi mereka jadi makin terjepit karena dianggap melanggar piagam PBB soal integritas wilayah negara anggota.
Kondisi geopolitik di Tanduk Afrika ini bakal makin panas kedepannya. Israel jelas nggak cuma sekadar cari teman baru, tapi sedang ngebangun benteng pertahanan di jalur maritim krusial. Buat kita yang mengamati dari jauh, manuver ini ngasih pelajaran penting bahwa dalam politik internasional, nggak ada yang namanya makan siang gratis. Selalu ada kepentingan strategis yang dipertukarkan, entah itu pangkalan militer, jalur dagang, atau pengaruh politik. Kita tunggu saja apakah negara-negara lain bakal ngikutin jejak Israel atau Somaliland justru bakal jadi medan konflik baru.
Oke rekan-rekanita, sekian dulu pembahasan kita kali ini. Situasi ini memang rumit dan penuh intrik, tapi setidaknya sekarang kita jadi lebih paham kenapa tiba-tiba nama Somaliland jadi headline di mana-mana. Terima kasih sudah membaca sampai akhir.