Kalau selama ini kita sering ngebahas pulau terpencil di belahan bumi utara, kali ini kami ajak kalian nengok jauh ke selatan. Ada satu tempat misterius yang rasanya asing banget di telinga, padahal secara teknis wilayah ini masih bagian dari Australia. Namanya Kepulauan Heard dan McDonald. Tempat ini benar-benar definisi “liar”, dikelilingi badai abadi, dan punya gunung berapi yang masih aktif meletus tanpa ada manusia yang ngelihat.
Kepulauan Heard dan McDonald ini bisa dibilang salah satu wilayah liar terakhir yang benar-benar asli di planet kita. Lokasinya ada sekitar 4.100 km di barat daya kota Perth dan 1.700 km di utara Antartika. Saking terpencilnya, kalau kalian berdiri di Pulau Heard dan nengok ke segala arah, manusia terdekat dari posisi kalian kemungkinan besar adalah astronaut yang lagi ada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang kebetulan lewat di atas kepala. Gila banget, kan? Pulau berpenghuni terdekat saja, yaitu Madagaskar, jaraknya hampir 4.000 km. Meskipun wilayah Australia, pulau ini justru lebih dekat ke Antartika daripada ke kota mana pun di Australia. Isolasi ekstrem inilah yang ngebikin tempat ini jadi laboratorium alami yang sempurna buat ngebaca kondisi bumi tanpa gangguan tangan jahil manusia.
Cerita penemuannya juga nggak kalah dramatis. Pada 25 November 1853, Kapten John Heard dari kapal Amerika “Oriental” lagi berlayar menembus kabut tebal di Samudra Selatan ketika krunya ngelihat daratan. Sebuah gunung raksasa muncul dari laut, puncaknya ketutup awan. Kapten Heard langsung ngeklaim penemuan itu, meskipun dia nggak pernah benar-benar menginjakkan kaki di pantainya karena ombaknya terlalu ganas. Enam minggu kemudian, Kapten William McDonald menemukan sekelompok pulau berbatu di dekatnya yang sekarang dikenal sebagai Kepulauan McDonald. Yang menarik, penemuan ini terjadi sangat terlambat dalam sejarah eksplorasi dunia karena lokasinya yang dilindungi oleh kondisi alam yang brutal.
Wilayah laut di sini dikenal sebagai “Furious 50s”, area di mana angin barat berputar mengelilingi Antartika tanpa terhalang daratan, ngehasilkan ombak raksasa dan badai paling kejam di planet ini. Sayangnya, kabar penemuan ini menyebar cepat ke industri perburuan anjing laut. Antara tahun 1850-an sampai 1880-an, pantai Pulau Heard berubah jadi tempat pembantaian massal. Ribuan anjing laut gajah selatan dibunuh buat diambil minyaknya. Para pemburu ini ngebangun kamp sementara, tapi mereka nggak pernah menetap permanen karena cuacanya nggak masuk akal. Setelah populasi anjing laut habis dan bisnis nggak lagi menguntungkan, mereka pergi ninggalin puing-puing kamp yang sampai sekarang masih bisa dilihat sebagai saksi bisu eksploitasi manusia.
Secara geologis, pulau ini unik banget. Mereka duduk di atas Dataran Tinggi Kerguelen, sebuah benua yang tenggelam, dan berada tepat di atas “hotspot” vulkanik. Ini mirip kayak proses terbentuknya Kepulauan Hawaii. Pulau Heard didominasi oleh Big Ben, stratovolcano raksasa setinggi 2.745 meter. Ini lebih tinggi dari gunung mana pun di daratan utama Australia! Puncaknya, Mawson Peak, punya danau lava aktif yang sering kelihatan menyala merah dari citra satelit. Tapi yang lebih gila adalah Kepulauan McDonald. Dulunya, McDonald cuma pulau hijau datar. Tapi sejak 1980, aktivitas vulkanik di sana ngubah segalanya. Pulau ini ukurannya bertambah dua kali lipat pada tahun 2000 karena aliran lava baru yang ngebentuk daratan anyar dan nyatuin pulau-pulau kecil di sekitarnya. Jadi, secara harfiah pulau ini sedang “tumbuh” di depan mata kita.
Iklim di sini benar-benar nggak kenal ampun. Angin kencang bertiup sepanjang tahun, dan saat badai musim dingin, kecepatannya bisa lebih dari 190 km/jam. Suhunya juga ekstrem, rata-rata cuma 5°C di musim panas dan jauh di bawah nol saat musim dingin. Hujan, salju, atau hujan es turun lebih dari 300 hari dalam setahun. Hari cerah itu barang langka di sini. Kondisi lautnya juga mematikan, dengan suhu air yang cukup dingin buat membunuh manusia dalam hitungan menit tanpa pelindung. Makanya, ekspedisi ke sini butuh perencanaan matang dan peralatan khusus karena risikonya nyawa.
Meskipun kondisinya sekeras itu, satwa liar di sini justru berkembang pesat setelah era perburuan berakhir. Pantai-pantainya sekarang kembali dipenuhi ribuan anjing laut gajah selatan dan anjing laut bulu. Burung laut kayak albatros dan petrel raksasa juga bersarang di tebing-tebingnya. Karena nggak ada predator invasif kayak tikus atau kucing, ekosistem di sini masih sangat murni. Perairan di sekitarnya juga jadi cagar alam laut raksasa yang ngelindungi spesies ikan berharga kayak Patagonian toothfish. Menariknya, gletser di Pulau Heard sedang mengalami penyusutan cepat, yang ngasih data penting bagi para ilmuwan buat neliti perubahan iklim global.
Rasanya, sulitnya akses ke Kepulauan Heard dan McDonald justru jadi berkah tersendiri. Tempat ini tetap lestari karena manusia nggak bisa sembarangan datang buat ngerusak atau sekadar berwisata. Biarlah satelit dan para peneliti terpilih saja yang memantau bagaimana alam bekerja dengan caranya sendiri di sana. Kita cukup mengaguminya dari jauh, menyadari bahwa di bumi yang semakin padat ini, masih ada tempat di mana alam liar berkuasa sepenuhnya tanpa kompromi. Sampai jumpa di artikel selanjutnya rekan-rekanita, terimakasih sudah membaca!