Pernah nggak sih kalian ngebayangin ada daerah di Indonesia yang pendapatan per kapitanya ngalahin Jakarta Pusat? Yap, itu ada di Sulawesi Tengah. Tapi, provinsi ini nggak cuma soal tambang nikel yang ngebikin kaya raya lho. Di balik hiruk-pikuk industri, tersimpan misteri kota gaib berlapis emas sampai situs purba yang bikin ilmuwan garuk kepala. Penasaran? Yuk, kita bedah bareng-bareng!
Kita mulai dari “bintang utama” ekonomi saat ini, yaitu Kabupaten Morowali. Buat kalian yang belum tahu, Morowali ini adalah kabupaten hasil pemekaran dari Poso. Luasnya sekitar 5.472 km persegi dengan penduduk ratusan ribu jiwa. Nah, yang bikin mata dunia melirik ke sini adalah kandungan nikelnya yang melimpah ruah. Saking kayanya, data menunjukkan kalau PDRB per kapita Morowali itu tembus angka Rp927,23 juta, mengalahkan Jakarta Pusat yang “cuma” Rp819,38 juta. Gila banget, kan? Morowali ini rasanya sudah jadi tulang punggung pasokan nikel, bahkan digadang-gadang memasok 50% komoditas nikel Indonesia.
Tapi, kekayaan alam ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, industri ini ngebangun ekonomi, nyiptain lapangan kerja, dan ngebikin infrastruktur jadi lebih maju. Tapi di sisi lain, kerusakan lingkungannya juga nggak main-main. Kalau kalian lihat langsung, tutupan hutan yang dulu hijau sekarang banyak yang gundul. Bekas galian nikel ngebuat tanah jadi merah sejauh mata memandang. Belum lagi debu pekat yang beterbangan kayak bekas ledakan bom atom pas truk-truk pengangkut ore lewat. Bahkan, reklamasi pantai buat pelabuhan—yang jumlahnya bisa puluhan—ngebuat laut yang tadinya tempat ikan berenang jadi timbunan tanah merah. Ini dilema besar: kita butuh nikel buat baterai mobil listrik dan kemajuan teknologi, tapi alam kita yang jadi korbannya.
Geser sedikit dari urusan duit, Sulawesi Tengah juga punya sisi historis yang unik banget, tepatnya di sekitar Danau Poso. Di sana, ditemukan tradisi penguburan kuno di dalam gua, mirip kayak yang ada di Toraja. Suku Pamona zaman dulu punya kebiasaan nyimpen jenazah kerabat mereka di peti-peti kayu bermotif hewan di dalam ceruk tebing. Salah satu yang paling terkenal adalah Gua Latea. Di gua yang usianya diperkirakan 30 juta tahun ini, kalian bisa nemuin puluhan tengkorak dan peti jenazah. Sayangnya, tradisi ini mulai ditinggalkan sejak masuknya agama Kristen di abad ke-19 dan ke-20. Meski begitu, keberadaan situs ini ngebuktikkin kalau peradaban di sana sudah maju sejak lama dan punya hubungan erat dengan suku Toraja.
Nah, kalau yang ini mungkin bakal bikin bulu kuduk kalian merinding. Pernah denger soal Wentira? Banyak orang lokal percaya kalau Wentira adalah kota gaib paling angker, bahkan disebut-sebut sebagai kerajaan jin terbesar di Asia Tenggara. Lokasinya ada di jalur Trans Sulawesi antara Palu dan Parigi Moutong. Kalau mata kita yang awam ini ngelihat, di sana cuma ada hutan lebat dan tugu kuning sederhana bertuliskan “Ngapa Uentira”. Tapi, buat mereka yang punya “kelebihan”, Wentira katanya adalah kota emas yang super modern, gedung-gedungnya bertingkat dilapisi emas, dan peradabannya jauh lebih maju dari kita.
Mitos soal Wentira ini kenceng banget beredar. Katanya, penghuninya punya ciri fisik kayak manusia tapi nggak punya garis di atas bibir (filtrum). Ada juga larangan keras buat siapa pun yang lewat sana: jangan pakai baju warna kuning! Warna kuning dianggap warna kesukaan mereka, dan kalau nekat, bisa-bisa kalian “diajak” masuk dan nggak bisa pulang. Cerita mistis kayak pilot Belanda yang ngelihat kota emas dari atas pesawat sampai orang hilang di sana sudah jadi rahasia umum. Entah benar atau nggak, aura mistis di sana emang kerasa banget.
Terakhir, kita nggak bisa ngomongin Sulawesi Tengah tanpa bahas situs megalitikum di Lembah Bada, Napu, dan Besoa. Di sini, tersebar patung-patung batu raksasa yang usianya ribuan tahun (sekitar 2.500–5.000 SM). Yang paling ikonik adalah Patung Palindo yang posisinya miring seolah lagi menghibur. Uniknya, patung-patung ini dipahat tanpa kaki dan punya ekspresi wajah yang misterius. Selain patung manusia, ada juga “Kalamba”, yaitu wadah batu besar kayak tong.
Para peneliti menduga Kalamba ini dulunya dipakai buat kuburan massal atau tempat nyimpen tulang belulang, karena ditemuin sisa-sisa jasad di dalamnya. Tapi, masyarakat lokal punya mitos sendiri. Katanya, patung-patung itu dulunya manusia yang dikutuk jadi batu karena dosa-dosa mereka. Ada yang dikutuk karena bejat, ada juga yang karena nyuri beras. Terlepas dari mitosnya, keberadaan batu-batu yang dipahat rapi ini nunjukin kalau nenek moyang kita di Sulawesi dulu punya teknologi dan kebudayaan yang canggih banget buat zaman itu.
Sulawesi Tengah itu bener-bener paket lengkap, ya. Ada kekayaan alam yang ngebikin iri daerah lain, ada sejarah peradaban purba yang menakjubkan, sampai misteri gaib yang bikin penasaran. Dari pembahasan ini, kita jadi sadar kalau kemajuan ekonomi lewat nikel itu penting, tapi menjaga warisan alam dan budaya juga nggak kalah krusial. Jangan sampai demi mengejar status daerah terkaya, kita malah kehilangan identitas dan merusak lingkungan yang harusnya kita wariskan ke anak cucu nanti.
Sekian dulu pembahasan panjang kita kali ini. Semoga bisa nambah wawasan kalian tentang kekayaan nusantara yang nggak ada habisnya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya, rekan-rekanita, dan terima kasih banyak sudah membaca sampai tuntas!