Skip to content

emka.web.id

writing knowledge, recording civilization

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Inilah 45 Planet Berbatu yang Paling Berpotensi Jadi Rumah Kedua Manusia di Masa Depan

Posted on April 9, 2026

Pernah terpikir nggak kalau kita ini sebenarnya nggak sendirian di alam semesta yang luas banget ini? Dari ribuan planet yang sudah mereka temukan, para astronom akhirnya mempersempit pencarian kehidupan ke 45 planet berbatu yang paling menjanjikan. Kayaknya, petualangan kita buat nemuin “Bumi kedua” makin dekat ke titik terang nih!

Sejauh ini, para ilmuwan sebenarnya sudah nemuin lebih dari 6.000 eksoplanet di luar sana. Tapi tentu nggak semuanya bisa ditinggali, kan? Ada yang cuma berupa bola gas raksasa, ada yang suhunya panas banget sampai bisa melelehkan besi, atau malah dinginnya nggak masuk akal. Nah, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society (RAS) ini mencoba memilah mana saja yang benar-benar punya kondisi mirip Bumi. Menariknya, riset ini terinspirasi dari film Project Hail Mary, yang nyeritain perjalanan manusia buat nyari solusi nyelamatin Bumi sekaligus nemuin alien.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Lisa Kaltenegger dari Carl Sagan Institute, Cornell University, nggak asal pilih dalam nentuin daftar ini. Kami melihat mereka menggunakan data paling mutakhir dari misi Gaia milik European Space Agency (ESA) dan juga NASA Exoplanet Archive. Tujuan utamanya adalah buat ngidentifikasi planet yang ada di zona layak huni atau habitable zone. Wilayah ini sering disebut zona “Goldilocks”, di mana suhunya nggak terlalu panas dan nggak terlalu dingin, sehingga air cair bisa tetap ada di permukaan planet. Keberadaan air cair ini krusial banget karena sepertinya mustahil ada kehidupan kalau nggak ada air.

Berdasarkan hasil analisis mendalam, para peneliti berhasil mengidentifikasi 45 planet berbatu yang berada tepat di zona layak huni tersebut. Nggak cuma itu, mereka juga nemuin 24 planet tambahan yang masuk dalam kategori zona layak huni tiga dimensi kalau kita pakai asumsi suhu yang lebih ketat atau konservatif. Kalau kalian penasaran planet mana saja yang masuk daftar emas ini, beberapa di antaranya adalah nama-nama yang mungkin sudah nggak asing lagi buat penggemar astronomi, kayak Proxima Centauri b, TRAPPIST-1f, dan Kepler-186f.

Salah satu yang paling bikin para ilmuwan antusias adalah sistem TRAPPIST-1. Di sana ada planet TRAPPIST-1 d, e, f, dan g yang jaraknya “cuma” sekitar 40 tahun cahaya dari tempat kita sekarang. Rasanya jarak segitu memang jauh kalau pakai teknologi sekarang, tapi buat skala alam semesta, mereka itu tetangga dekat kita. Selain itu, ada juga LHS 1140 b yang berjarak sekitar 48 tahun cahaya yang kondisinya dinilai sangat stabil.

Kenapa sih fokusnya harus ke planet berbatu? Begini langkah-langkah para ilmuwan dalam memverifikasi kelayakhunian sebuah planet:

  1. Mengidentifikasi Jenis Komposisi Planet: Ilmuwan pertama-tama harus memastikan planet tersebut berbatu (rocky), bukan raksasa gas kayak Jupiter. Kehidupan yang kita kenal butuh pijakan tanah yang padat buat berkembang.
  2. Menghitung Jarak dari Bintang Induk: Jarak ini ngebikin kita tahu berapa besar energi yang diterima planet. Planet nggak boleh terlalu dekat supaya atmosfernya nggak “terbakar” dan airnya nggak menguap, tapi juga nggak boleh terlalu jauh supaya nggak membeku jadi es abadi.
  3. Menganalisis Kemampuan Mempertahankan Atmosfer: Ini adalah kunci utama. Sebuah planet bisa saja ada di zona nyaman, tapi kalau dia nggak punya atmosfer buat nahan panas dan ngelindungi dari radiasi, ya percuma saja. Atmosfer ini yang ngebuat suhu permukaan jadi stabil.
  4. Memperhatikan Bentuk Orbit: Peneliti juga ngelihat apakah orbit planet itu bulat sempurna atau elips (lonjong). Orbit yang lonjong bisa ngebikin suhu planet berubah drastis saat dia mendekat atau menjauh dari bintangnya, dan ini sangat memengaruhi kelangsungan hidup makhluk di sana.
  5. Membandingkan dengan Tata Surya Kita: Ilmuwan memakai Bumi, Mars, dan Venus sebagai referensi. Kita tahu Bumi layak huni, sementara Venus terlalu panas dan Mars terlalu kering. Mereka nyari planet yang menerima energi di rentang antara yang diterima Venus dan Mars.

Beberapa planet yang menerima energi dari bintang yang mirip banget sama yang kita terima dari Matahari antara lain TRAPPIST-1 e, TOI-715 b, Kepler-1652 b, dan Wolf 1069 b. Mereka-mereka inilah yang sekarang jadi target utama buat diamati lebih lanjut. Para peneliti bilang kalau mengidentifikasi target-target terbaik ini penting banget supaya kita nggak buang-buang waktu pas nanti teleskop raksasa masa depan sudah siap beroperasi.

Ke depannya, daftar 45 planet ini bakalan jadi panduan utama buat teleskop canggih kayak James Webb Space Telescope (JWST). Selain itu, bakal ada Nancy Grace Roman Space Telescope yang mau diluncurkan tahun 2027, Extremely Large Telescope di tahun 2029, sampai Habitable Worlds Observatory yang direncanakan buat tahun 2040-an. Semua alat canggih ini bakal ngeprint data-data baru yang lebih detail soal komposisi atmosfer planet-planet tersebut. Apakah ada oksigen? Apakah ada metana? Atau mungkin tanda-tanda teknologi alien?

Mencari kehidupan di luar Bumi memang bukan perkara mudah, tapi dengan adanya daftar target yang jelas, kerja keras para astronom ini sepertinya bakal membuahkan hasil yang menarik buat kita semua. Kita sekarang jadi tahu ke mana harus ngarahin teleskop buat nyari jawaban dari pertanyaan besar: “Apakah kita sendirian?”. Identifikasi awal ini ngebuat proses pencarian jadi jauh lebih efektif dan terarah, bukannya cuma nebak-nebak di tengah kegelapan ruang angkasa yang luas.

Semoga wawasan ini bisa nambah pengetahuan kalian soal betapa kerennya perkembangan ilmu astronomi saat ini. Kita cuma perlu nunggu teknologi teleskop masa depan buat ngasih bukti yang lebih konkret lagi soal kehidupan di 45 planet tersebut. Terimakasih sudah membaca sampai selesai ya, rekan-rekanita sekalian. Mari kita simpulkan bahwa masa depan penjelajahan ruang angkasa kita kayaknya bakal seru banget!

Terbaru

  • GNOME Founder Attacks Omarchy Founder as “Lazy, Racist, Ignorant”
  • Why I Stopped Using Plain Command Line Docker and Use Portainer 3.0 To Make My Home Projects Fun Again
  • Why I Switched to a Proper Firewall Box with OPNSense for My Homelab Stuff
  • Fixing Windows Error 0x80070005 Hyper-V Export Access Denied Error the Right Way
  • Fixing Hyper V Export Errors and Building a Better Virtual Machine Setup (error 0x80070002, 0x80070005)
  • Fixing the Dreaded Windows Audio Service Stuck on Stopping Error
  • Windows SIM Error, Unknown error 0xc1420127
  • How I’m Building a Cat Breeding Management App with Python Qt6 + Microsoft Litebox, in 1 Week
  • Why Windows Keeps Nuking Your GPU Drivers (And How to Take Back Control)
  • Copy Prompt: A Modern Men’s Casual Fashion Studio Shoot
  • Why I Finally Ditched Mainstream Windows Cleaners (And Why I Use ‘Kudu’ Instead)
  • AI Made Everything Faster, Including Bad Decisions
  • Raspberry Pi Desktop Available of PC and Mac, Based on Debian 13
  • Why I Stopped Yelling at My PC When Error; Getting Windows 11 Voice Isolation and Access to Actually Work
  • Berobat Kanker ke Malaysia: Berapa Biayanya dan Apa Saja yang Perlu Disiapkan?
  • Stop Sending Every Prompt to the Biggest AI Model You Can Find
  • Stop Building AI Agents from Scratch: My Pick for the Best Native Windows Setup
  • Jev Is Faster and Cheaper, But I Still Recommend Clef. Here’s Why.
  • Weird XCP-NG Bug or Feature? Enable Maintenance Mode = Host Not Enough Memory
  • Vinix OS: Another OS That Want to Beat Linux, Try it!
  • Trying NVX, An Ultra-Light Micro-VM Sandbox from Microsoft
  • Learning NocoDB from Scratch: Creating a Simple Greenhouse App
  • How RHEL 10.2 Quietly Turned Into an Absolute Security Beast
  • Grab Videos from Anywhere with ReClip (Can Running Locally)
  • Jumped onto Ubuntu 26.04 LTS? Here’s How to Add a New User Account
  • Tutorial Cara Install WPS Office di Linux (Alternatif Microsoft Office)
  • Tutorial Upgrade Server Ubuntu 24.04 LTS ke Ubuntu 26.04 LTS dengan Aman
  • Inilah Alasan kenapa akun TikTok dibatasi tidak bisa klaim koin dan masalah pembatasan lainnya?
  • Apa penyebab gagal kirim SMS ke 89888 padahal pulsa masih ada?
  • Mengenal Donghua: Kenapa Animasi dari Tiongkok Ini Lagi Naik Daun Banget
  • Canonical: Ubuntu coming soon to Snapdragon X2 Series platforms
  • Finally, wolfSSL adds post-quantum algorithms!
  • How to Run Gemma Embedding Models Using Docker
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • Trying Nemotron 3.5 Super VL: NVIDIA’s Open Multimodal Model Built for Agents That Actually See and Act
  • Pruna AI Release their Qwen-Image 2.1 LoRA Adapter, 6x Faster than Regular Qwen
  • The Rise and Fall of the Coding Holy Grail: Is Stack Overflow Just AI Fuel Now?
  • Zyphra is The Pioneer, Why Everyone is Suddenly Obsessed with AMD and Not Just Nvidia Anymore
  • Stop Trusting Your Prompts to Save Your Business Data
  • Lagi rame dicari, ini bedanya Jenny Mod Minecraft Java sama Bedrock biar nggak salah download
  • Lagi rame istilah Blunder Lagi di TikTok sama Instagram, sebenernya apa sih artinya?
  • Info Demo Mahasiswa Jakarta Hari Ini 20 Oktober 2026: Lokasi, Jam, dan Tuntutan Terkait Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
  • Sering lewat di TikTok, ini arti istilah Oppa Gajima, Hajima, sampai ajakan makan ramyeon yang sebenarnya
  • Bingung jawab soal orientasi PPPK? Iki rangkuman materi Agenda 1 lan Manajemen ASN nggo referensi warga

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme