Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Mengenal Kitab Pesantren (68): Kitab Ta’limul Muta’allim, Ketika Irasionalitas Menentukan Intelektualitas

Posted on April 12, 2022

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Syaddad Ibnu Hambari

Syaikh Said Ramadan al Buty pernah melempar kritik keras kepada Husain Haikal, atas karakteristik penulisan sejarah Nabi Muhammad yang dirasa terlalu rasional dalam bukunya Hayatu Muhammad. Husain Haikal bisa jadi memilih karakter ini karena dunia modern lebih siap menerima cerita-cerita yang masuk akal dibanding cerita-cerita yang irasional.

Kisah Isra’ Mi’raj misalnya, digambarkan oleh Husain Haikal sebagai perjalanan ruh semata menuju Sidratul Muntaha. Unsur-unsur mukjizat dihilangkan oleh Husain Haikal sehingga bukunya tampak lebih ilmiah. Terkait hal ini, beberapa pakar menyebut bahwa ini dilakukan oleh Husain Haikal agar buku ini dapat diterima oleh orang-orang barat yang cenderung rasionalis. Tetapi bagi Al-Buty, unsur irasionalitas telah menyatu dengan identitas umat Islam sehingga tak semestinya dicerabut.

Beragama memang perlu menggunakan akal (rasio) tetapi sisi irasional dalam Islam menjadi urgen untuk diyakini. Ada beberapa hal dari ajaran agama yang akal tidak akan bisa menjamahnya, sehingga peran hati (iman) menjadi penentu utama. Dalam sejarahpun, beberapa kali Nabi menujukkan hal-hal irasional yang tidak dapat dinalar dengan akal dan hanya berpatokan pada iman, semisal perjanjian Hudaibiyah. Poin-poin perjanjian Hudaibiyah secara akal sangat merugikan, memojokkan dan mendiskrimasi muslimin, tetapi karena persetujuan atas perjanjian ini dikawal oleh wahyu, maka akal musti diletakkan terlebih dahulu untuk kemudian menggantinya dengan peran hati. Dan secara de facto, sejarah telah menjawab bahwa perjanjian ini justru menguntungkan umat Islam.
Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (57): Kitab Lathaif at-Thaharah Karya Kiai Sholeh Darat
Mukaddimah di atas cukup untuk menjadi gambaran bahwa Islam meskipun sangat menghargai akal, tetapi tak benar-benar melepaskan diri dari unsur irasional. Sehingga di kalangan pesantren, unsur-unsur irasional ini menjadi warna tersendiri yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Di sinilah kitab Ta’lim Mutallim mengambil tempat, ia hadir menambah legalitas pesantren sebagai komunitas yang mempercayai unsur rasional dan irasional secara bersamaan, bahkan di kalangan pesantren tertentu, unsur irasional menempati tempat yang melebihi unsur rasional.

Ta’lim Muta’allim lahir dari kegelisahan Burhanuddin Al-Zarnuji terhadap hilangnya nilai-nilai budi di kalangan para pencari ilmu, kecemasan itu menjadi alasan terkuat baginya untuk menulis kitab ini. Para pencari ilmu yang notabene cemerlang di dalam masa belajarnya, bisa mendadak tidak mampu berperan lebih di masyarakat setelah ia pulang. Kematangan ilmunya selama masa perantauan seperti hilang taringnya saat terjun di masyarakat. Oleh az-Zarnuji, kasus ini dianggap terjadi karena abainya mereka terhadap unsur irasionalitas yang turut menentukan kiprah intelektualitas seseorang.

Kelompok rasionalis mungkin akan menganggap bawa intelektualitas akan direngkuh dengan belajar dan kesungguhan semata. Tetapi Az-Zarnuji telah menyihir kaum sarungan (pesantren_ dengan paradigma baru bahwa ada unsur besar lain yang menunjang intelektualitas seseorang dan unsur itu murni melibatkan hati. Az-Zarnuji menyebutkan misalnya, hormat kepada guru dan keluarganya, berdiri saat mereka berjalan, menyayangi anak-cucu dari sang guru juga menjadi penentu dari terbukanya intelektualitas seseorang.
Baca juga:  Buku Tua dan Ingatan Iklan
Redaksi beliau dalam Ta’lim Mutaallim sebagai berikut:

Bentuk dari menghargai guru adalah tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, tidak memulai cakap dengannya kecuali diizinkan, tidak banyak bicara di hadapannya, tidak bertanya saat ia bosan, menjaga waktunya, tidak mengetuk pintunya tetapi menunggunya keluar.

Kalimat magis tersebut sarat akan muatan akhlak dan diyakini oleh az-Zarnuji dapat menunjang kemapanan keilmuan seseorang. Az-Zarnuji secara umum telah berhasil mendoktrin pondok-pondok dalam mengaplikasikan tatanan akhlak baru di atas standar akhlak pada umumnya. Dan hebatnya, pemahaman akan unsur irasionalitas sebagai penunjang keilmuan ini benar-benar diyakini di kalangan pesantren sebagai hal yang nyata dan faktual. Standar akhlak lain ala Az-Zarnuji yang sarat nilai semisal; jangan meletakkan pena di atas buku, seyogyanya meletakkan kitab tafsir di susunan teratas, tidak memakan makanan pasar dan lain sebagainya.

Poin-poin akhlak di atas dikuatkan oleh Az-Zarnuji melalui kisah Khalifah Harun al Rasyid yang menyaksikan putranya menuangkan air untuk sang guru (Imam Al-Asmu’i) sementara sang guru meratakan air di kakinya. Khalifah tidak berkenan dengan kejadian ini dan mengatakan kepada Imam Al-Asmu’i saat itu: Kenapa tidak kau suruh anakku menyiram dengan tangan kanan dan meratakannya di kakimu dengan tangan kirinya? Seroang raja hebat, bergelimang harta, berkedudukan, tetap mempercayai bahwa unsur irasionalitas memiliki peran terhadap keilmuan anaknya
Baca juga:  Salim Nabhan, Kitab, dan Kertas Eropa
Tapi meski begitu, Az-Zarnuji tak melupakan begitu saja unsur rasional, ia juga menuliskan teknik-teknik belajar yang tepat dalam Ta’lim Mutallim untuk mengasah akal para pencari ilmu. Dalam bab al-Jiddi wa al Muwadlobah wa al-Himmah beliau menuturkan:

“Wajib bagi pencari ilmu untuk mempelajari pelajarannya, mengulang-ulang di awal dan akhir malam, karna waktu antara maghrib dan isya serta waktu sahur adalah waktu yang diberkahi… wajib bagi pencari ilmu untuk memiliki hasrat yang besar dalam belajar, karena manusia akan terbang dengan impiannya seperti burung terbang dengan sayapnya.”

Maka Az-Zarnuji membuka mata muslimin secara khusus, bahwa kematangan intelektual selain ditentukan dengan belajar, juga terdapat unsur irasionalitas yang juga turut andil mendorong keberhasilan belajar seseorang. Kedua unsur ini musti berjalan beriring tanpa menanggalkan salah satunya. Dan di dunia pesantren, kita mendapati keduanya berjalan secara mesra dan harmonis. Paradigma yang telah mengakar di pesantren adalah bahwa irasionilatas juga turut berperan pernting dalam menunjang intelektualitas, sesuai apa yang diajarkan oleh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Unsur irasionalitas ini di kalangan pesantren biasa disebut dengan barokah.

Baca Juga

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.

Terbaru

  • Inilah Syarat dan Cara Pendaftaran IMEI Internasional Mulai Mei 2026
  • Bocoran Spek Samsung Galaxy S27 Ultra Nih, Kamera 3X Hilang + Teknologi AI
  • Inilah Perbedaan Motorola G47 dan Motorola G45, Cuma Kamera 108 Megapiksel Doang?
  • Update Baru Google Gemini: Bisa Bikin File Word, PDF, Excel secara Otomatis
  • Rekomendasi Motor Listrik 2026 Anti Mogok!
  • Ini Loh Honda Vision 110, Motor Baru Seharga Beat & Rangka eSAF Khusus Pasar Eropa
  • Inilah Mobil-Mobil Paling Cocok Transisi ke Bioetanol E20 dan Biodiesel B50!
  • Inilah Ternyata Batas Minimal Daya Cas Mobil Listrik di Rumah
  • DJP Geser Batas Akhir Lapor Pajak Sampai 31 Mei 2026
  • PKB Tanggapi Dingin Usul Yusril Ihza Mahendra Soal Parliamentary Treshold 13 Kursi
  • LPTNU Kritik Keras Rencana Penutupan Prodi: Kenapa Tidak Komprehensi & Berbasis Problematika Nyata?
  • Gus Rozin PWNU Jawa Tengah Setuju Cak Imin, Konflik PBNU bikin Warga Kesal dan Tidak Produktif
  • Pengamat: Prabowo Harus Benahi KAI, Aktifkan juga Jalur Kereta Lama & Baru
  • Sekjend PBNU: Jadwal Muktamar Usulan PWNU Sejalan Hasil Rapat Pleno & Rais Aam
  • PKB Desak Hukuman Maksimal Kasus Little Aresha & Evaluasi Total Sistem Penitipan Anak secara Nasional
  • PKB Usul Modernisasi Sistem Kereta dan CCTV di Kabin Masinis, Setuju?
  • Menteri PPA Arifah Fauzi Minta Maaf Soal Polemik Pindah Gerbong Wanita di KRL
  • Cara Kirim Robux Mudah di Roblox Beli Skin Shirt Preview
  • Kronologi kasus dugaan penyebaran konten asusila oleh anak anggota DPRD Kutai Barat?
  • Inilah Alasan Kenapa Gelembung Air di Luar Angkasa Bisa Jadi Eksperimen Fisika yang Keren Banget
  • Inilah Contoh Naskah Doa Upacara Hardiknas 2026 yang Syahdu dan Penuh Makna
  • Inilah 10 Peringkat SMP di Daerah Istimewa Yogyakarta Berdasarkan Hasil TKA TKAD 2025/2026 Terbaru
  • Inilah Cara Download FF Beta Versi Terbaru 2026, Lengkap Dengan Cara Daftar Advanced Server Resmi
  • Inilah Cara Menghilangkan YouTube Shorts di Beranda Biar Nggak Menghambat Scrolling Kalian!
  • Inilah Kabar Gembira Program Magang Nasional 2026, Kuota Naik Drastis Jadi 150 Ribu Peserta!
  • Inilah House of Amartha: Mengenal Bisnis Thariq Halilintar di Balik Pernikahan Mewah El Rumi dan Syifa Hadju
  • Inilah Cara Kuliah S1-S2-S3 Gratis dan Cepat Lewat Beasiswa BIB Kemenag Jalur Akselerasi 2026
  • Inilah Aturan Baru Penugasan Guru Non-ASN 2026, Nasib Kalian Ditentukan Sampai Tanggal Ini!
  • Inilah Cara Daftar Pra SPMB Banten 2026 Biar Proses Masuk Sekolah Jadi Makin Lancar
  • Inilah Rincian Biaya Jalur Mandiri Untirta 2026 Lengkap Per Fakultas dan Program Studi
  • How to Build Ultra-Resilient Databases with Amazon Aurora Global Database and RDS Proxy for Maximum Uptime and Performance
  • How to Build Real-Time Personalization Systems Using AWS Agentic AI to Make Every User Feel Special
  • How to Transform Your Windows 11 Interface into a Sleek and Modern Aesthetic Masterpiece
  • How to Understand Google’s New TPU 8 Series for Massive AI Training and Inference
  • How to Level Up Your PC Gaming Experience with the New Valve Steam Controller and Its Advanced Features
  • How to build a smart voice agent with the AssemblyAI Voice Agent API and Universal-3 Pro for high-accuracy conversations
  • How to create Cinematic AI Kungfu Movie using Flower.ai and SeaDance 2.0
  • How to Build a Professional Headless Shopify Store from Scratch with the New Shopify AI Toolkit and Claude Code
  • How to Use Nvidia Nemotron-3 Nano Omni for Advanced Multimodal AI Reasoning
  • How to use Google Gemini Deep Research to automate professional analysis and save hours of work every week
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme