Lagi-lagi kalian bersikap aneh. Kalian menuduh lagu “Indung Indung” sebagai lagu Syi’ah yang menjelekkan Sayyidatuna ‘Aisyah hanya karena ada penyebutan nama Siti Aisyah dalam lirik lagunya.
Ulasan tidak jelas itu dimulai dari situs tidak jelas pemiliknya, syiahindonesia.com.
Nama Siti Aisyah sudah sangat membumi di Nusantara atau Melayu sehingga dipakai oleh siapapun, termasuk dalam sajak, puisi dan lagu.
Tuduhan tolol seperti itu hanya muncul akhir-akhir ini muncul sebagai bagian dari kampanye kafirkan Syi’ah secara membabi buta.
Apa yang mereka inginkan? Mereka ingin konflik sektarian terjadi di Nusantara seperti di Timur Tengah. Yang bisa mereka adu disini adalah Sunni vs Syiah, atau Islam vs Non-muslim. Tidak mungkin mereka akan membawa wacana NU vs Muhammadiyah karena dua organisasi besar ini sudah sangat dewasa berdampingan.
Pahami Lagu Indung-indung
Lirik lagu “Indung-Indung” sejak lama tak pernah dikait dengan Syi’ah, kecuali oleh Wahhabi akhir-akhir ini. Sebaliknya lagu tersebut mendapat sambutan baik dari orang-orang Islam di Indonesia karena indahnya lirik dan nasehat yang terkandung dalam isi liriknya.
Nasehat menjadi gadis yang terhormat dengan memakai kerudung, beriman kepada Tuhan YME, tentang siksa kubur bila tidak sembahyang tidak puasa, dan jadi anak yang disayang Ibunya.
Lirik Lagu Indung-indung
Indung Indung Kepala Lindung
Hujan Di Udik Di Sini Mendung
Anak Siapa Pakai Kerudung
Mata Melirik Kaki Kesandung
La Haula Wala Kuwwatta
Mata Melihat Seperti Buta
Tiada Daya Tiada Upaya
Melainkan Tuhan Yang Maha Esa
Aduh Aduh Siti Aishah
Mandi Di Kali Rambutnya Basah
Tidak Sembahyang Tidak Puasa
Di Dalam Kubur Mendapat Siksa
Duduk Goyang Di Kusi Goyang
Beduk Subuh Hampir Siang
Bangunkan Ibu Suruh Sembahyang
Jadilah Anak Yang Tersayang