Pernah nggak sih kalian merasa bingung pas ditanya soal refleksi diri di Platform Merdeka Mengajar (PMM)? Pertanyaan “Bagaimana refleksi Anda tentang praktik kinerja Anda selama observasi?” sering banget bikin pusing. Yuk, simak cara menjawabnya biar performa kalian makin oke dan terlihat benar-benar kompeten di depan atasan!
Mengisi dokumen tindak lanjut di PMM sebenarnya bukan cuma soal menggugurkan kewajiban administratif aja. Sepertinya, banyak dari kita yang masih ngerasa kalau refleksi itu adalah ajang buat nyari-nyari kesalahan sendiri. Padahal, tujuan utamanya adalah buat ngebangun kesadaran profesional dan ngebantu kita melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas. Pas kepala sekolah atau pengawas datang buat observasi, mereka tuh pengen lihat gimana cara kita ngajar dan gimana respon siswa. Nah, setelah itu, tugas kita adalah ngejelasin proses tadi lewat tulisan refleksi yang bermakna. Kami merangkum beberapa hal teknis yang perlu kalian perhatikan supaya jawaban refleksi nggak sekadar formalitas belaka.
Sebelum masuk ke langkah teknis, ada beberapa prinsip dasar yang perlu kalian pegang teguh. Menulis refleksi itu kuranglebihnya kayak lagi ngomong sama diri sendiri tapi dalam versi yang lebih terstruktur. Kalian harus bisa ngebandingin antara rencana awal yang udah dibuat sama kenyataan yang terjadi di lapangan. Nggak perlu merasa gagal kalau ada hal yang nggak berjalan lancar, karena kejujuran adalah kunci utama di sini. Penilaian kinerja bakal terasa lebih objektif kalau kita berani mengakui area mana yang masih butuh perbaikan. Jangan sampai kita cuma nulis yang bagus-bagus aja tapi aslinya di kelas siswanya pada bingung.
Berikut adalah langkah-langkah detail untuk menyusun jawaban refleksi praktik kinerja yang berbobot:
- Memulai dengan Meninjau Hal Positif secara Detail
Langkah pertama, kalian harus bisa ngasih gambaran tentang apa saja yang sudah berjalan sukses. Jangan cuma nulis “pembelajaran berjalan baik”, itu terlalu umum dan kayaknya nggak ngasih info apa-apa. Coba jelaskan metode spesifik yang kalian gunakan, misalnya penggunaan media interaktif atau teknik diskusi kelompok. Ceritakan gimana respon peserta didik; apakah mereka jadi lebih aktif nanya atau mereka terlihat semangat pas ngerjain tugas? Dengan ngejelasin hal positif, kalian udah ngasih bukti kalau kalian punya kompetensi dalam mengelola kelas. - Mengidentifikasi Tantangan dan Kendala yang Dialami
Di bagian ini, kalian dituntut untuk jujur. Rasanya hampir nggak mungkin sebuah proses belajar-mengajar itu 100% sempurna tanpa hambatan. Mungkin kalian ngerasa kalau manajemen waktunya agak berantakan, atau ada beberapa siswa yang ternyata belum paham sama instruksi yang kalian kasih. Sebutkan kendala itu secara spesifik. Misalnya, “Saya ngerasa penggunaan media proyektor tadi memakan waktu terlalu lama buat persiapan teknis, sehingga waktu diskusi kelompok jadi kepotong.” Pengakuan kayak gini justru nunjukin kalau kalian adalah guru yang kritis terhadap diri sendiri. - Menganalisis Dampak Kinerja terhadap Peserta Didik
Kalian perlu menghubungkan apa yang kalian lakukan dengan apa yang mereka dapatkan. Fokus utama dari kinerja kita adalah mereka, para siswa. Coba amati, apakah gaya mengajar kalian bikin mereka makin paham atau malah bikin mereka ngantuk? Refleksi yang kuat harus bisa ngejelasin hubungan sebab-akibat antara tindakan guru dan respon siswa. Kalau kalian ngajar pake metode ceramah terus dan siswanya pasif, ya sebutkan itu sebagai poin yang perlu dievaluasi. - Menyusun Rencana Perbaikan yang Konkret
Setelah tahu yang bagus dan yang kurang, langkah selanjutnya adalah ngebangun rencana buat ke depannya. Jangan cuma janji-janji manis kayak “saya akan lebih baik lagi”, tapi buatlah rencana yang nyata. Misalnya, kalian mau ikut pelatihan pengelolaan kelas di PMM, atau pengen nanya-nanya dan diskusi sama rekan sejawat soal cara ngeprint bahan ajar yang lebih menarik. Rencana yang konkret ngebikin atasan kalian yakin kalau kalian emang punya kemauan buat berkembang. - Menggunakan Bahasa yang Profesional namun Tetap Luwes
Meskipun kalian bisa pake gaya bahasa yang agak santai, tetap jaga profesionalitas. Gunakan istilah-istilah pendidikan yang relevan tapi jangan terlalu kaku. Fokuskan pada solusi, bukan sekadar curhatan atau keluhan. Dengan cara ini, mereka yang membaca refleksi kalian bakal ngerasa kalau kalian itu guru yang berwawasan luas dan terbuka terhadap perubahan.
Kalau kalian ngikutin langkah-langkah di atas, rasanya proses pengisian refleksi di PMM nggak bakal jadi beban lagi. Refleksi adalah jembatan antara apa yang sudah kita lakukan dan apa yang ingin kita capai di masa depan. Rekomendasi kami, sisihkan waktu khusus setelah observasi buat merenung sebentar sebelum mulai nulis. Jangan nunggu sampai deadline mepet karena biasanya ide-ide segar malah nggak muncul pas kita lagi buru-buru. Ingat, tujuan akhirnya adalah kualitas belajar siswa yang lebih baik, dan itu semua dimulai dari kesediaan kita buat belajar dari pengalaman sendiri.
Satu hal yang paling penting adalah jangan takut buat dikritik. Masukan dari kepala sekolah atau pengawas itu tujuannya buat ngebantu kita naik kelas secara profesional. Dengan nulis refleksi yang jujur dan solutif, kalian udah ngebuktikan kalau kalian adalah pendidik yang punya dedikasi tinggi. Semoga tips ini membantu kalian semua dalam menyusun dokumen refleksi yang mantap dan bermakna.
Demikian pembahasan singkat dari kami mengenai cara menjawab refleksi praktik kinerja. Semoga bermanfaat buat rekan-rekanita sekalian dalam meningkatkan karir dan kualitas pengajaran di sekolah masing-masing. Terimakasih sudah membaca sampai selesai, sukses terus buat kita semua!