Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Inilah Inovasi Terbaru Profesor UI: Pelumas Mobil dari Minyak Nabati!

Posted on May 10, 2026

JAKARTA – Ketergantungan industri global terhadap penggunaan pelumas berbahan dasar minyak bumi selama ini telah menjadi bom waktu yang mengancam kelestarian ekosistem bumi. Penggunaan pelumas mineral secara masif tidak hanya menyumbang jejak karbon yang signifikan, tetapi juga meninggalkan residu berbahaya yang sangat sulit terurai secara alami. Dampaknya tidak main-main; limbah sisa pelumas mineral berpotensi besar mencemari lapisan tanah serta sumber air tanah, yang pada akhirnya merusak rantai makanan dan kesehatan manusia.

Menanggapi ancaman lingkungan yang kian nyata ini, muncul sebuah terobosan ilmiah yang menawarkan harapan baru bagi masa depan industri hijau. Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. Sukirno, M.Eng., secara tegas mendorong sektor manufaktur dan otomotif untuk segera beralih ke penggunaan pelumas berbasis minyak nabati. Menurutnya, transisi dari bahan berbasis fosil ke bahan berbasis nabati bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan demi keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam sebuah forum ilmiah bergengsi bertajuk “Teknologi Pelumasan (Lubrication Technology): Produksi Pelumas Bio (Biobased) Berbasis Minyak Nabati dan Pilihan Aplikasinya”, Prof. Sukirno memaparkan secara mendalam mengenai urgensi inovasi dalam dunia pelumasan. Beliau menekankan bahwa dalam setiap mekanisme kerja mesin, pelumas memegang peranan yang sangat krusial dan tidak tergantikan.

Fungsi utama pelumas adalah sebagai lapisan pelindung yang meminimalisir kontak langsung antar komponen logam yang bergerak. Tanpa sistem pelumasan yang presisi dan berkualitas, gesekan ekstrem antarlogam akan terjadi secara terus-menerus. Hal ini akan memicu timbulnya panas berlebih (overheating) yang tidak terkendali, mempercepat laju keausan komponen, hingga pada titik paling fatal, menyebabkan kerusakan mesin secara total atau kegagalan mekanis yang merugikan secara ekonomi. Oleh sebab itu, menciptakan inovasi pelumas yang mampu memberikan efisiensi tinggi namun tetap menjaga kelestarian alam menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi berbagai sektor industri saat ini.

Keunggulan Teknis dan Ekologis Pelumas Nabati

Berbicara mengenai perbandingan antara pelumas konvensional dan pelumas nabati, Prof. Sukirno menjelaskan bahwa pelumas berbasis minyak nabati memiliki paket keunggulan yang lengkap, baik dari sisi teknis performa maupun sisi ekologis. Dari sudut pandang lingkungan, keunggulan paling mencolok adalah sifatnya yang biodegradable atau mudah terurai secara alami. Data menunjukkan bahwa pelumas berbasis nabati mampu terurai di alam hingga mencapai angka lebih dari 90 persen. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan pelumas mineral yang membutuhkan waktu sangat lama dan seringkali meninggalkan residu beracun yang menetap di tanah.

Namun, keunggulan pelumas nabati tidak berhenti pada aspek ramah lingkungan saja. Dari sisi performa mesin, pelumas ini memiliki karakteristik daya lekat (adhesivitas) yang lebih unggul pada permukaan logam. Kemampuan untuk menempel lebih kuat ini memastikan bahwa lapisan pelindung tetap terjaga meskipun mesin bekerja dalam intensitas tinggi, sehingga perlindungan terhadap gesekan menjadi jauh lebih optimal dibandingkan pelumas berbasis minyak bumi.

Lebih lanjut, Prof. Sukirno memaparkan bahwa pelumas nabati memiliki stabilitas penggunaan yang sangat baik. Bahan ini tidak mudah menguap, yang berarti volume pelumas akan lebih stabil selama masa pemakaian. Selain itu, pelumas nabati memiliki titik nyala (flash point) yang lebih tinggi. Karakteristik ini memberikan aspek keamanan ekstra bagi operator mesin, karena risiko terjadinya kebakaran akibat suhu tinggi pada pelumas menjadi jauh lebih rendah.

“Sebagai alternatif, pelumas berbasis minyak nabati dinilai jauh lebih aman karena kemampuannya yang sangat mudah terurai di alam. Bahkan, tingkat penguraiannya bisa mencapai lebih dari 90 persen, sebuah angka yang jauh melampaui kemampuan pelumas mineral dalam hal biodegradabilitas,” ungkap Prof. Sukirno sebagaimana dikutip dari laman resmi Universitas Indonesia.

Potensi Aplikasi di Berbagai Sektor

Berkat kombinasi antara performa teknis yang mumpuni dan sifatnya yang aman bagi lingkungan, pelumas nabati diproyeksikan akan sangat relevan untuk digunakan pada berbagai aplikasi yang memiliki risiko pencemaran tinggi. Prof. Sukirno merinci beberapa sektor penggunaan yang paling mendesak untuk segera mengadopsi teknologi ini.

Beberapa di antaranya adalah penggunaan pada grease (gemuk), oli hidrolik, cairan pemotongan logam (cutting fluids), hingga oli mesin dua langkah (2-stroke). Sektor-sektor tersebut seringkali bersentuhan langsung dengan ekosistem terbuka, di mana kebocoran atau pembuangan limbah kecil sekalipun dapat berdampak luas pada pencemaran air dan tanah. Dengan menggunakan pelumas nabati, risiko kerusakan lingkungan akibat kecelakaan kerja atau pembuangan limbah dapat ditekan seminimal mungkin.

Tantangan Teknologi dan Langkah Masa Depan

Meskipun memiliki potensi yang sangat menjanjikan, perjalanan menuju adopsi massal pelumas nabati bukannya tanpa hambatan. Prof. Sukirno mengakui bahwa saat ini masih terdapat sejumlah kendala teknis yang perlu dipecahkan oleh para peneliti dan pengembang teknologi. Salah satu tantangan utama adalah mengenai ketahanan pelumas terhadap suhu ekstrem.

Agar dapat bersaing dengan pelumas mineral yang sudah mapan, performa pelumas nabati pada kondisi suhu yang sangat tinggi maupun sangat rendah harus terus ditingkatkan. Mesin-mesin modern saat ini menuntut standar spesifikasi yang sangat ketat. Oleh karena itu, fokus riset saat ini diarahkan pada rekayasa kimia tingkat lanjut dan pengembangan formula bahan aditif (additive) yang mampu menyempurnakan karakteristik pelumas nabati agar tetap stabil dalam kondisi operasional yang paling menantang sekalipun.

Dengan adanya inovasi yang berkelanjutan, masa depan industri pelumasan diprediksi akan bergeser secara signifikan. Pelumas berbasis minyak nabati tidak hanya akan menjadi pelengkap, tetapi diproyeksikan akan menjadi pemain utama yang menggantikan peran pelumas konvensional di pasar global. Transisi ini bukan hanya tentang mengganti satu produk dengan produk lain, melainkan tentang mengubah paradigma industri menuju sistem produksi yang lebih cerdas, efisien, dan yang paling penting, selaras dengan upaya penyelamatan bumi.

Langkah yang diambil oleh para akademisi seperti Prof. Sukirno melalui riset mendalam ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi industri manufaktur di Indonesia untuk mulai berinvestasi pada teknologi hijau. Jika tantangan teknis dapat segera diatasi melalui kolaborasi antara akademisi dan pelaku industri, maka Indonesia berpeluang besar untuk menjadi pemimpin dalam pengembangan teknologi pelumas berkelanjutan di kawasan regional.

Terbaru

  • Tutorial Upgrade Server Ubuntu 24.04 LTS ke Ubuntu 26.04 LTS dengan Aman
  • Inilah Alasan kenapa akun TikTok dibatasi tidak bisa klaim koin dan masalah pembatasan lainnya?
  • Apa penyebab gagal kirim SMS ke 89888 padahal pulsa masih ada?
  • Mengenal Donghua: Kenapa Animasi dari Tiongkok Ini Lagi Naik Daun Banget
  • OpenAI Bocorin Data Gambar Pengguna? Ini Kabar Terbaru Soal Insiden AI yang Bikin Heboh
  • Kenapa Postingan Instagram Kalian Sepi Like Padahal Followers Udah Banyak? Ini Rahasianya
  • Cara Menambah View Story Instagram Gratis Biar Nggak Sia-sia
  • Kenapa View TikTok Kalian Mentok di Angka Kecil dan Cara Ngatasinnya
  • Imbas Pesatnya Laporan CVE, Ubuntu Bakal Rilis Kernel Update Tiap Dua Minggu
  • Cara Gampang Cari Kata di Google Sheets Pakai Laptop sama HP
  • Kabar Terbaru Antigravity SDK: Sekarang Bisa Pakai Model Lokal Kayak Gemma 4 26B Tanpa Perlu Internet
  • Kabar Terbaru Model K2 Horizon Dirilis: MoVA 36B EXL3 Buat Kalian yang Punya GPU Beragam
  • Ini Alasan Kenapa Kalian Harus Cek Masa Dukungan HP Android Kalian Sekarang Juga
  • Cara Cek Followers Baru Asli atau Bot Tanpa Harus Ngitung Satu-Satu
  • Claude Opus 5.5 Baru Rilis, Bikin AI Kalian Jadi Jauh Lebih Powerfull!
  • Update Kondisi Market Bitcoin BTC/USDT Per 23 September 2026, Beli atau Jual Nih?
  • Paham Semua Keluarga Model AI Gemma 4
  • Rumor Laptop Android Ternyata Bener, Ini Daftar 4 Laptop Android dari Google!
  • LCOS Lagi Naik Daun: OS Buatan Lunduke Tembus Peringkat 12 DistroWatch dan Punya Kernel Sendiri
  • Cara Pindah Data Android ke iPhone Tanpa Reset iPhone
  • Valve: Steam Deck 2 Tetap di Develop, Meski RAM Naik Harga Gila-gilaan
  • Apa itu Dumpling? dari Sejarah Sampai Tren Saat ini
  • Jadwal Event Cosplay dan Pop Culture Oktober 2026 yang Wajib Kalian Pantau
  • Cara Ganti Nama Facebook di Android, iPhone, Laptop, dan Facebook Lite Terbaru
  • Apa saja yang baru di WordPress 7.1.1?
  • Pilih Mana: XAMPP, Laragon, atau Herd Buat Belajar PHP?
  • Kenapa Views Reels Kalian Tiba-tiba Anjlok? Ini Penyebab dan Cara Ngatasinya
  • Android Bench versi 2.0 Dirilis, Apa saja Fitur Barunya?
  • MagicOS 11 dari Honor Sudah Dirilis Nih, Ini Cara Cek Smartphonemu Dapet Update Atau Nggak
  • Samsung Galaxy Z Fold 8 Jadi Makin Populer Karena iPhone Duo dirilis :)
  • Canonical: Ubuntu coming soon to Snapdragon X2 Series platforms
  • Finally, wolfSSL adds post-quantum algorithms!
  • How to Run Gemma Embedding Models Using Docker
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • Pruna AI Release their Qwen-Image 2.1 LoRA Adapter, 6x Faster than Regular Qwen
  • The Rise and Fall of the Coding Holy Grail: Is Stack Overflow Just AI Fuel Now?
  • Zyphra is The Pioneer, Why Everyone is Suddenly Obsessed with AMD and Not Just Nvidia Anymore
  • Stop Trusting Your Prompts to Save Your Business Data
  • How to Automate Your Entire SEO Strategy Using a Swarm of 100 Free AI Agents Working in Parallel
  • Lagi rame soal FF Kipas my id sama Naruto, mending hati-hati ojo asal klik verify UID
  • Info Demo Buruh di DPR Hari Ini 29 September 2026, Ada Apa Sih Sama RUU Ketenagakerjaan?
  • Kabar duka siswi SMA Santo Yosef Pangkalpinang, Caren Aurelia Estelle meninggal dunia di usia 17 tahun
  • Bukan cuma soal rukun iman, ternyata ada 77 cabang iman yang perlu dipahami warga lewat penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani
  • Gilang Dirga kok ra ketok neng DA8? Warga bingung, jane metu opo piye?

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme