Bayangkan lagi asyik-asyiknya pesan tiket pesawat buat liburan atau lagi mau check-in hotel favorit, eh tiba-tiba aplikasinya nggak bisa dibuka karena diblokir pemerintah. Kedengarannya kayak skenario film buruk, tapi ini beneran bisa kejadian kalau 22 platform digital yang lagi dapet “surat cinta” dari Komdigi nggak gercep urus izin mereka.
Baru-baru ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi ngasih peringatan keras ke puluhan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) lingkup privat. Masalahnya simpel tapi krusial: mereka belum daftar sebagai PSE resmi di Indonesia. Kalau sampai batas waktu 13 Juli 2026 lewat dan mereka masih belum taat aturan, pemerintah nggak bakal ragu buat melakukan pemutusan akses atau blocking.
Daftar perusahaan yang kena tegur ini isinya pemain besar semua. Sektornya pun beragam, mulai dari perhotelan mewah, maskapai penerbangan internasional, sampai platform edukasi. Kalau kita lihat daftarnya, banyak banget nama yang mungkin sering temen-temen pake pas lagi traveling.
Beberapa nama besar yang masuk daftar peringatan itu antara lain:
- Sektor Perhotelan: Accor (yang megang brand Raffles dan Pullman), Banyan Tree, BarcelĂł Hotel Group, Best Western, The Ascott Limited, WorldHotels, Archipelago International, Aryaduta Hotels Group, Hotel Indonesia Group (HIG), sampe Tauzia Hotel Management.
- Sektor Maskapai: ANA, Qantas Airways, dan Qatar Airways.
- Sektor Edukasi: Kodland dan Stimuler.
Gila sih, kalau sampe maskapai kayak Qatar Airways atau Qantas beneran kena blokir, urusannya bakal ribet banget buat para traveler. Belum lagi kalau jaringan hotel internasional kayak Accor tiba-tiba nggak bisa diakses lewat aplikasi mereka sendiri.
Tapi tenang dulu, nggak semuanya dalam kondisi bahaya. Dari total 25 platform yang awalnya dapet pemberitahuan, ternyata ada tiga yang udah proaktif banget. Mereka udah komunikasi sama Komdigi dan lagi proses pendaftaran biar aman. Ketiga platform itu adalah Strava (aplikasi buat temen-temen yang hobi lari atau sepedaan), AYO: Super Sport Community App, dan aplikasi Six Senses.
Aku sih ngerasa langkah Strava ini patut diapresiasi. Sebagai pengguna, kita pasti pengen aplikasi yang kita pake itu legal dan punya kepastian hukum di sini. Jadi kalau ada apa-apa sama data kita, ada payung hukumnya yang jelas di Indonesia.
Aku sih ngerasa, sebenernya ini bukan soal pemerintah mau ribet-ribet urus administrasi doang. Masalahnya, kalau perusahaan asing ini beroperasi di Indonesia tapi nggak terdaftar, kita sebagai pengguna jadi agak “abu-abu” posisinya. Kalau terjadi kebocoran data atau masalah transaksi, kita mau lapor ke mana? Makanya, pendaftaran PSE ini penting banget buat ngasih perlindungan ke kita semua.
Kenapa Harus Daftar PSE?
Mungkin temen-temen mikir, “Ah, kan mereka perusahaan gede, masa urusan daftar aja ribet?”. Nah, menurut Alexander Sabar dari Komdigi, pendaftaran ini bukan cuma soal kertas kerja atau urusan administratif doang. Ini soal kepastian hukum dan tata kelola ruang digital yang aman.
Dengan terdaftar sebagai PSE, pemerintah jadi punya kendali buat melakukan pengawasan. Jadi, kalau ada layanan yang nggak sesuai standar atau merugikan masyarakat, pemerintah punya dasar yang kuat buat negur atau menindak. Ini semacam cara biar ekosistem digital kita nggak jadi “hutan rimba” yang nggak ada aturannya.
Pemerintah juga sebenernya masih kasih ruang buat diskusi. Kalau ada kendala teknis atau masalah administrasi yang bikin mereka telat daftar, mereka masih boleh komunikasi sama Komdigi. Tapi ya itu, batas waktunya udah mepet banget di pertengahan Juli 2026 nanti.
Buat kita sebagai pengguna, sekarang sih mending pantau aja dulu. Selama platform yang kalian pake masih lancar jaya, berarti mereka lagi proses atau emang udah patuh. Tapi, kalau tiba-tiba aplikasi hotel atau maskapai langganan kalian nggak bisa diakses, ya mungkin itu salah satu dari 22 perusahaan tadi yang telat bayar “tiket masuk” ke regulasi Indonesia.
Saran aku, kalau kalian punya rencana booking hotel atau tiket pesawat lewat platform yang masuk daftar di atas, mending cek lagi statusnya atau coba cari alternatif platform lain yang udah pasti aman dan terdaftar. Lebih baik cari aman daripada rencana liburan berantakan gara-gara aplikasi kena blokir.
Tetap waspada dan bijak dalam menggunakan layanan digital ya, rekan-rekanita!