Skip to content

emka.web.id

writing knowledge, recording civilization

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Review Asus ExpertBook PM5 G2: Laptop Bisnis Rasa AI, Ringan tapi Gak Kaleng-kaleng

Posted on July 9, 2026

Dunia kerja sekarang emang udah beda banget. Kalau dulu kita cuma butuh laptop yang penting bisa buka Excel atau bikin PowerPoint, sekarang tuntutannya makin tinggi. Apalagi sekarang lagi musimnya AI (Artificial Intelligence) masuk ke mana-mana. Nah, Asus baru aja ngerilis ExpertBook PM5 G2 di Indonesia buat ngejawab kebutuhan itu. Bukan cuma sekadar laptop bisnis biasa, tapi laptop ini emang didesain buat orang-orang yang kerjanya udah mulai dibantu sama kecerdasan buatan.

Pas pertama kali denger speknya, aku sih ngrasa Asus kayak lagi serius banget narik pasar profesional yang sering pindah-pindah tempat kerja atau hybrid worker. Bayangin aja, laptop sekelas ini beratnya cuma 1,27 kg. Buat kita yang sering bawa laptop di tas seharian, angka segitu lumayan bikin lega punggung, sih.

Performa AI yang Bukan Sekadar Gimmick

Hal paling menarik dari ExpertBook PM5 G2 ini adalah penggunaan prosesor AMD Ryzen AI. Asus nawarin beberapa opsi, mulai dari yang AMD Ryzen AI 7 445 sampai yang paling kenceng AMD Ryzen AI 9 HX 470. Yang bikin gila, kemampuan AI-nya (NPU) bisa nyampe 55 TOPS. Buat yang belum paham, TOPS itu semacam ukuran seberapa pinter si laptop ini ngerjain tugas-tugas AI secara lokal tanpa harus selalu bergantung sama internet.

Artinya apa? Kalau kalian pake aplikasi AI generatif atau butuh analisis data yang berat, laptop ini bakal kerasa jauh lebih enteng dibanding laptop bisnis konvensional. Ditambah lagi, kapasitas RAM-nya bisa di-upgrade sampe 64GB DDR5 dan penyimpanan SSD bisa sampe 3TB. Ini sih udah lebih dari cukup buat nampung semua file kerjaan atau proyek besar tanpa perlu takut lag atau kehabisan ruang.

Harga Asus Expertbook P1 sih terakhir segini https://s.shopee.co.id/6pyyWuo5bD

Fitur MyExpert: Asisten Pribadi di Dalam Laptop

Aku pribadi paling tertarik sama platform Asus MyExpert yang disematkan di sini. Jadi, laptop ini nggak cuma nunggu perintah, tapi bisa bantu kita ngerjain hal-hal administratif yang ngebosenin. Contohnya, dia bisa bantu nyusun draf email, ngerangkum hasil rapat, sampe ngurangin gangguan pas kita lagi fokus.

Buat urusan meeting online, Asus juga nggak pelit. Mereka kasih AI Noise Cancelling buat ngeredam suara berisik di sekitar kita—penting banget kalau kalian lagi kerja di kafe yang rame. Kameranya juga udah resolusi 5MP dengan fitur AI yang bisa otomatis ngatur cahaya dan framing. Jadi, muka kita nggak bakal kelihatan gelap atau miring-miring pas lagi presentasi di depan klien.

Layar dan Ketahanan: Pilih Mana?

Asus ngasih dua pilihan layar 14 inci yang bisa kalian sesuaikan sama kebutuhan kerja:

  • Panel OLED: Cocok buat kalian yang kerja di bidang kreatif atau desain yang butuh akurasi warna tinggi.
  • Panel IPS 2,5K 144Hz: Lebih pas buat yang pengen tampilan mulus pas scrolling dokumen atau sekadar biar mata nggak cepet capek.

Meskipun tipis dan ringan, jangan mikir laptop ini ringkih. ExpertBook PM5 G2 udah dapet sertifikasi MIL-STD-810H. Jadi, kalau nggak sengaja kesenggol atau keguncang pas dibawa di tas, dia udah punya standar ketahanan militer. Baterainya juga lumayan gede, 70Wh, yang harusnya cukup buat nemenin kerja seharian tanpa harus dikit-dikit nyari colokan.

Keamanan Data yang “Enterprise” Banget

Buat urusan data perusahaan, Asus pake sistem ExpertGuardian. Ini bukan cuma soal password doang, tapi ada perlindungan berlapis dari sisi hardware sampe BIOS. Ada juga privacy shutter buat nutup kamera secara fisik. Hal sepele kayak gini sebenernya krusial banget buat ngejaga privasi biar nggak ada kejadian nggak enak kayak kamera tiba-tiba aktif sendiri.

Soal harga, Asus ngebanderol seri ini di kisaran Rp19.799.000 sampai Rp21.599.000. Kalau dibandingin sama performa AI dan portabilitasnya, menurutku ini worth it banget buat para profesional yang emang butuh alat tempur serius buat jangka panjang.

Jadi, kesimpulannya? Kalau kalian adalah tipe pekerja yang mobilitasnya tinggi dan mulai ngerasa butuh bantuan AI buat mempercepat kerjaan, ExpertBook PM5 G2 ini bisa jadi investasi yang oke. Daripada beli laptop murah tapi tiap kali buka aplikasi berat malah bikin emosi, mending nabung dikit buat dapet perangkat yang emang siap diajak kerja keras.

Gimana menurut kalian? Apakah fitur AI di laptop beneran bakal ngebantu atau cuma tren sesaat aja? Kabari ya, rekan-rekanita!

Terbaru

  • GNOME Founder Attacks Omarchy Founder as “Lazy, Racist, Ignorant”
  • Why I Stopped Using Plain Command Line Docker and Use Portainer 3.0 To Make My Home Projects Fun Again
  • Why I Switched to a Proper Firewall Box with OPNSense for My Homelab Stuff
  • Fixing Windows Error 0x80070005 Hyper-V Export Access Denied Error the Right Way
  • Fixing Hyper V Export Errors and Building a Better Virtual Machine Setup (error 0x80070002, 0x80070005)
  • Fixing the Dreaded Windows Audio Service Stuck on Stopping Error
  • Windows SIM Error, Unknown error 0xc1420127
  • How I’m Building a Cat Breeding Management App with Python Qt6 + Microsoft Litebox, in 1 Week
  • Why Windows Keeps Nuking Your GPU Drivers (And How to Take Back Control)
  • Copy Prompt: A Modern Men’s Casual Fashion Studio Shoot
  • Why I Finally Ditched Mainstream Windows Cleaners (And Why I Use ‘Kudu’ Instead)
  • AI Made Everything Faster, Including Bad Decisions
  • Raspberry Pi Desktop Available of PC and Mac, Based on Debian 13
  • Why I Stopped Yelling at My PC When Error; Getting Windows 11 Voice Isolation and Access to Actually Work
  • Berobat Kanker ke Malaysia: Berapa Biayanya dan Apa Saja yang Perlu Disiapkan?
  • Stop Sending Every Prompt to the Biggest AI Model You Can Find
  • Stop Building AI Agents from Scratch: My Pick for the Best Native Windows Setup
  • Jev Is Faster and Cheaper, But I Still Recommend Clef. Here’s Why.
  • Weird XCP-NG Bug or Feature? Enable Maintenance Mode = Host Not Enough Memory
  • Vinix OS: Another OS That Want to Beat Linux, Try it!
  • Trying NVX, An Ultra-Light Micro-VM Sandbox from Microsoft
  • Learning NocoDB from Scratch: Creating a Simple Greenhouse App
  • How RHEL 10.2 Quietly Turned Into an Absolute Security Beast
  • Grab Videos from Anywhere with ReClip (Can Running Locally)
  • Jumped onto Ubuntu 26.04 LTS? Here’s How to Add a New User Account
  • Tutorial Cara Install WPS Office di Linux (Alternatif Microsoft Office)
  • Tutorial Upgrade Server Ubuntu 24.04 LTS ke Ubuntu 26.04 LTS dengan Aman
  • Inilah Alasan kenapa akun TikTok dibatasi tidak bisa klaim koin dan masalah pembatasan lainnya?
  • Apa penyebab gagal kirim SMS ke 89888 padahal pulsa masih ada?
  • Mengenal Donghua: Kenapa Animasi dari Tiongkok Ini Lagi Naik Daun Banget
  • Canonical: Ubuntu coming soon to Snapdragon X2 Series platforms
  • Finally, wolfSSL adds post-quantum algorithms!
  • How to Run Gemma Embedding Models Using Docker
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • Trying Nemotron 3.5 Super VL: NVIDIA’s Open Multimodal Model Built for Agents That Actually See and Act
  • Pruna AI Release their Qwen-Image 2.1 LoRA Adapter, 6x Faster than Regular Qwen
  • The Rise and Fall of the Coding Holy Grail: Is Stack Overflow Just AI Fuel Now?
  • Zyphra is The Pioneer, Why Everyone is Suddenly Obsessed with AMD and Not Just Nvidia Anymore
  • Stop Trusting Your Prompts to Save Your Business Data
  • Lagi rame dicari, ini bedanya Jenny Mod Minecraft Java sama Bedrock biar nggak salah download
  • Lagi rame istilah Blunder Lagi di TikTok sama Instagram, sebenernya apa sih artinya?
  • Info Demo Mahasiswa Jakarta Hari Ini 20 Oktober 2026: Lokasi, Jam, dan Tuntutan Terkait Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
  • Sering lewat di TikTok, ini arti istilah Oppa Gajima, Hajima, sampai ajakan makan ramyeon yang sebenarnya
  • Bingung jawab soal orientasi PPPK? Iki rangkuman materi Agenda 1 lan Manajemen ASN nggo referensi warga

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme