Lagi rame banget di media sosial soal video seorang petani di Tuban, Jawa Timur, yang pulang dari kebun pisang sambil bergantung di sebuah drone berukuran gede. Jujur, pas pertama kali liat videonya, aku sempet mikir, “Ini beneran aman nggak sih?” atau “Kok bisa ya drone segede itu nahan beban orang?”. Video ini langsung bikin netizen heboh dan memicu diskusi panjang soal batas kemampuan teknologi drone saat ini.
Banyak yang jadi penasaran, apakah semua drone itu emang punya tenaga buat angkat manusia, atau jangan-jangan ada drone yang emang diciptain khusus buat jadi “ojek terbang”? Nah, biar nggak makin simpang siur, yuk kita bahas teknisnya secara santai.
Bisa Nggak Sih Drone Angkat Manusia?
Secara teori, jawabannya adalah bisa banget. Prinsip kerja drone itu simpel: dia punya baling-baling yang muter pake motor listrik buat nyiptain gaya angkat (lift). Selama tenaga yang dihasilkan motor itu lebih gede daripada total berat beban yang dibawa (termasuk berat drone itu sendiri plus beban tambahan), ya dia bakal terbang.
Tapi, masalahnya bukan cuma soal “bisa terbang” atau nggak, tapi soal keamanan dan tujuan pembuatannya. Drone yang biasa kita liat buat bikin konten estetik atau drone hobi itu cuma dirancang buat bawa kamera yang enteng. Kalau dipaksa angkat orang, ya kemungkinan besar bakal langsung jatuh atau motornya terbakar karena kerja terlalu keras.
Ada kategori drone yang emang punya tenaga “badak”, yaitu drone logistik industri. Contohnya kayak DJI FlyCart 100. Drone ini emang jagoan buat angkut barang berat di medan yang susah ditembus mobil, kayak gunung atau perkebunan. Kapasitas angkutnya bisa sampe 80 kg kalau pake satu baterai. Tapi inget ya, meskipun kuat angkat beban seberat manusia, DJI FlyCart 100 itu bukan buat transportasi orang. Dia nggak punya sistem keamanan buat penumpang, nggak ada tempat duduk, dan nggak dirancang buat stabilitas saat ada gerakan manusia yang dinamis.
Aku sih ngerasa, aksi petani di Tuban itu sebenernya berisiko banget. Kita nggak tau drone apa yang dipake, gimana kondisi baterainya, atau gimana kontrol pilotnya. Teknologi itu emang canggih, tapi kalau dipake di luar fungsinya, ya jadi bahaya.
Drone yang Emang “Dibuat” Buat Manusia
Kalau kalian mikir, “Terus kalau mau terbang pake drone yang aman gimana?”, jawabannya adalah ada teknologi yang emang dirancang khusus buat itu. Ini bukan lagi soal drone logistik, tapi udah masuk ke ranah Passenger Drone atau eVTOL (electric Vertical Take-Off and Landing).
Salah satu pemain besarnya adalah perusahaan asal China, EHang, dengan produknya EHang 184. Bedanya sama drone logistik tadi, EHang 184 ini emang didesain dari awal buat jadi kendaraan udara elektrik yang bisa bawa satu orang penumpang. Spesifikasinya lumayan gila sih buat ukuran drone penumpang:
- Kapasitas beban: Maksimal sekitar
100 kg. - Kecepatan: Bisa nyampe
100 km/jam. - Durasi terbang: Sekitar
23 menitdalam sekali jalan. - Ketahanan: Bisa tetep stabil meski kena angin sampe
50 km/jam.
EHang ini nggak cuma mikirin soal gaya-gayaan atau transportasi pribadi aja. Mereka punya visi yang lebih serius, kayak buat ambulans udara (ngirim pasien dengan cepet tanpa macet) atau buat sektor pariwisata, misalnya pindah-pindah antar pulau dengan praktis. Harganya? Jangan ditanya, bisa tembus 200.000 sampai 300.000 USD atau kalau dirupiahin bisa miliaran rupiah. Jadi, ini bukan barang yang bisa dibeli sembarangan buat ke kebun pisang ya, guys!
Kesimpulan: Jangan Asal Numpang!
Jadi, intinya teknologi drone emang udah sanggup angkat manusia, tapi penggunaannya harus sesuai porsinya. Drone logistik kayak DJI itu buat barang, sedangkan kalau mau angkut orang, harus pake drone khusus yang emang udah lolos uji keamanan ketat kayak EHang.
Pelajaran buat kita semua, jangan gampang tergiur sama video viral yang keliatannya praktis tapi sebenernya ngeri. Teknologi itu alat bantu, bukan buat ajang uji nyali tanpa standar keamanan yang jelas. Kalau emang mau pake drone buat kerja, mending investasi di alat yang emang sesuai fungsinya biar nggak ada kejadian yang nggak diinginkan.
Gimana menurut kalian? Tertarik nggak punya “ojek terbang” pribadi di masa depan? Sampai ketemu di pembahasan seru lainnya, rekan-rekanita!