Jadi begini, kalau kamu lagi asyik ngopi sambil scrolling berita teknologi, mungkin kamu bakal nemu kabar yang agak bikin dahi berkerut soal masa depan konsol genggam kesayangan kita semua. Valve itu, lewat omongan Pierre-Loup Griffais, salah satu software developer mereka, sebenarnya sudah kasih kode keras kalau proyek Steam Deck 2 itu nggak berhenti di tengah jalan. Mereka masih jalan terus, kok.
Tapi ya itu, masalahnya klasik banget dan menyebalkan: harga RAM dan kapasitas penyimpanan di pasar global lagi nggak bersahabat, harganya meroket naik terus. Kalau kita dengar dari wawancara dia bareng IGN, krisis memori yang lagi melanda dunia perangkat keras ini ternyata nggak bikin Valve mutusin buat ngebatalin rencana mereka. Mereka tetap mau bikin sesuatu yang baru, tapi ada satu syarat yang nggak bisa ditawar, yaitu performanya harus terasa bedanya. Jangan sampai kita beli perangkat baru tapi pas dimainkan rasanya cuma kayak upgrade tipis-tipis yang nggak berasa di mata pemain. Valve itu tipe yang nggak mau asal rilis kalau cuma buat sekadar ganti angka di spesifikasi, apalagi soal daya tahan baterai. Sejak tahun 2024, mereka sudah kasih sinyal kalau mereka lebih milih nunggu momen yang pas, momen di mana ada lompatan performa yang signifikan tapi nggak bikin baterai konsol cepat habis. Capek juga kan kalau punya mesin kencang tapi baru main sebentar sudah harus cari colokan.
Ngomongin soal kapan rilisnya, ya jujur saja, nggak ada yang tahu pasti. Rumor yang paling kencang beredar di kalangan komunitas itu bilang kalau Steam Deck 2 baru bakal muncul sekitar tahun 2028. Jauh banget ya? Tapi ya Griffais sendiri cuma bilang kalau tim mereka masih memantau kondisi pasar dan teknologi saat ini buat nentuin kapan target itu bisa benar-benar tercapai. Jadi jangan berharap ada pengumuman mendadak minggu depan. Oh iya, selain soal konsol genggam, Valve juga lagi sibuk-sibuknya ngomongin soal Steam Frame. Ini bukan konsol, tapi headset VR standalone yang rencananya bakal buka sistem reservasi di tanggal 14 September 2026 nanti. Harganya? Wah, siap-siap dompet agak tipis. Buat yang mau varian 256GB, kamu harus nyiapin sekitar US$1.059, dan kalau mau yang lega 1TB, harganya tembus US$1.299. Tapi tenang, ada “pemanisnya” sedikit, setiap pembelian sudah termasuk game Half-Life: Alyx gratis. Konsepnya sendiri agak unik karena mereka pakai pendekatan streaming-first. Jadi, Steam Frame ini paling jago kalau dipakai buat streaming game VR dari PC gaming kamu lewat koneksi nirkabel. Logikanya, game-game VR zaman sekarang kan berat banget, jadi lebih masuk akal kalau proses beratnya dikerjakan sama PC, sementara headset ini tinggal terima hasilnya saja.
Tapi ya, ada harga ada rupa, dan ada juga biaya-biaya tersembunyi yang kadang bikin kita kaget pas buka kotak. Di Steam Frame ini, kamu nggak bakal dapat semuanya lengkap. Misalnya, kalau mau aksesori ergonomis, kamu harus beli Ergonomic Accessories Kit seharga US$59 secara terpisah. Terus yang paling klasik, chargernya pun nggak ada di dalam kotak. Kamu harus pakai charger USB-C sendiri yang minimal punya daya 45W, atau kalau mau aman ya beli charger resmi Valve yang harganya US$29. Ribet? Ya begitulah dunia gadget sekarang. Dan jangan lupa, dampak dari krisis memori ini sudah mulai terasa ke barang yang ada sekarang. Ingat nggak kalau di Mei 2026 kemarin, harga Steam Deck OLED tiba-tiba naik? Ini bukan rahasia lagi kalau kenaikan harga komponen memaksa Valve buat menyesuaikan harga jual. Steam Deck OLED yang kapasitas 512GB yang tadinya US$549 melonjak jadi US$789, atau kalau dirupiahkan sekarang sekitar Rp13,95 juta. Yang 1TB pun nggak kalah ngeri, naik dari US$649 jadi USUS$949, alias sekitar Rp16,77 juta. Bahkan Steam Machine pun kena imbasnya dengan harga termurah di angka US$1.049. Valve sendiri sadar kalau kenaikan harga yang drastis begini pasti bakal pengaruh ke angka penjualan mereka, meskipun mereka belum bisa mastiin seberapa parah dampaknya nanti.
Situasi ini sebenarnya jadi tantangan yang sangat berat buat masa depan Steam Deck 2. Dari awal, orang-orang kenal Steam Deck itu sebagai perangkat handheld yang harganya masih masuk akal dan terjangkau buat banyak orang. Sekarang, dengan harga komponen yang gila-gilaan, gimana caranya Valve bisa mempertahankan identitas itu? Di sisi lain, mereka juga punya saingan kayak ROG Ally yang kalau bicara soal tenaga memang lebih gahar, tapi ya harganya juga jauh lebih tinggi. Jadi sekarang kita semua cuma bisa menunggu dan melihat, apakah Valve bakal berhasil menciptakan konsol yang kencang, baterainya awet, tapi harganya nggak bikin kita harus jual ginjal buat membelinya. Sampai detik ini, Valve masih bungkam soal angka pasti dan tanggal peluncuran Steam Deck 2, jadi ya, kita balik lagi ke mode menunggu sambil berharap teknologi komponen bisa lebih stabil dan murah di masa depan.