Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu
kenapa logika bisa berbeda-beda

Apa itu Logis? Kenapa Logika Bisa Berbeda-beda?

Posted on January 11, 2026

Pernah nggak sih kalian lagi asyik diskusi, eh tiba-tiba lawan bicara nyeletuk, “Ah, omongan lo nggak logis!”? Rasanya pasti kesel banget, seolah-olah pendapat kita itu sampah cuma karena nggak sesuai sama jalan pikiran mereka. Padahal, apa yang dianggap logis buat satu orang belum tentu logis buat yang lain, dan akhirnya malah berujung debat kusir tanpa ujung. Di artikel ini, kami bakal ngebongkar apa sebenarnya itu logika dan kenapa “nggak logis” itu belum tentu salah.

Sebetulnya, kalau kita ngomongin soal logika, kita sedang bicara soal aturan main cara berpikir. Banyak orang menggunakan istilah “logika” secara serampangan. Misalnya, ketika ada pendapat yang bertentangan, langsung dianggap nggak logis. Contoh gampangnya begini, ada yang bilang “sekarang hujan”, tapi orang lain bilang “sekarang panas”. Ini sering dianggap kontradiktif. Padahal, realitasnya bisa saja terjadi “hujan monyet”, kondisi di mana hujan turun tapi matahari bersinar terik. Jadi, sebelum kita nuduh orang lain nggak logis, kita harus paham dulu kerangka berpikir apa yang dipakai.

Dalam sejarah pemikiran manusia, logika itu berkembang dan nggak cuma satu jenis saja. Biar kalian lebih paham dan bisa ngebedain argumen yang valid, berikut adalah penjabaran mengenai jenis-jenis logika yang ngebangun cara berpikir kita hari ini:

  1. Logika Klasik (Classical Logic)
    Ini adalah pondasi paling dasar yang sudah ada sejak zaman Aristoteles dan kemudian dipercanggih di abad ke-20 oleh filsuf kayak Gottlob Frege dan Bertrand Russell. Logika ini punya standar yang ketat banget dan sering dipakai di matematika atau ilmu alam. Ciri utamanya ada dua. Pertama, The Law of Non-Contradiction, yang artinya kontradiksi itu selalu salah. Sesuatu nggak bisa jadi “A” dan “Bukan A” di saat yang sama. Kedua, The Law of Excluded Middle atau penolakan jalan tengah. Jadi, opsinya cuma benar atau salah, nggak ada tuh yang namanya “agak benar”. Di sistem ini, sebuah pernyataan disebut logis kalau dia bersifat tautologi alias selalu benar dalam situasi apa pun, kayak “Jika P maka P”. Russell bahkan nulis buku tebal Principia Mathematica cuma buat ngebuktin hal-hal dasar kayak 2+2=4 pakai sistem ini.
  2. Logika Paradoks (Paraconsistent Logic)
    Nah, kalau logika klasik menolak kontradiksi, logika paradoks justru merangkulnya. Sistem ini dikembangkan karena logika klasik dianggap nggak mampu ngejelasin fenomena yang sifatnya kontradiktif tapi nyata. Logika yang dikembangkan oleh Graham Priest ini ngasih ruang bahwa kontradiksi itu bisa bernilai benar. Contoh simpelnya saat kalian berdiri tepat di ambang pintu. Kalian ada di dalam ruangan atau di luar? Secara logika paradoks, kalian bisa dibilang berada di dalam sekaligus di luar ruangan. Pola pikir ini sering dipakai buat memahami filsafat Timur kayak konsep Yin dan Yang, di mana dua hal yang berlawanan bisa eksis barengan.
  3. Logika Intuisionistik (Intuitionistic Logic)
    Sistem ini menantang prinsip “jalan tengah” dari logika klasik. Menurut logika yang dikembangkan matematikawan Belanda kayak L.E.J. Brouwer ini, kalau sesuatu itu “tidak salah”, bukan berarti otomatis dia “benar”. Mereka ngebedain antara proof of absence (bukti ketiadaan) dan absence of proof (ketiadaan bukti). Contohnya perdebatan soal Tuhan. Cuma karena seseorang nggak nemu bukti Tuhan itu ada, nggak bisa langsung disimpulkan bahwa Tuhan tidak ada. Atau contoh lain, pernyataan “Angka 2 berwarna biru”. Ini nggak benar, tapi juga nggak salah, karena angka itu konsep abstrak yang nggak punya warna. Jadi nilainya bukan benar atau salah, tapi tidak keduanya.
  4. Logika First Degree Entailment (Logika AI)
    Sistem ini unik banget karena ngebuka empat kemungkinan nilai kebenaran: benar, salah, tidak benar dan tidak salah, serta benar sekaligus salah. Logika ini dirakit oleh Nuel Belnap tahun 1977, awalnya buat kebutuhan Artificial Intelligence (AI). Komputer atau mesin itu perlu sistem buat mengolah informasi yang mungkin bertabrakan tanpa jadi error. Dengan logika ini, mesin bisa menalar data yang kompleks yang mungkin buat manusia terlihat membingungkan.

Jadi, ketika kita melihat betapa beragamnya sistem logika yang ada, rasanya naif kalau kita masih ngotot bahwa cuma ada satu cara berpikir yang benar. Apa yang disebut logis itu sangat bergantung pada “kacamata” logika mana yang kalian pakai. Sesuatu yang kontradiktif itu “salah” di mata logika klasik, tapi bisa jadi “benar” di mata logika paradoks. Perdebatan kita sehari-hari seringkali bukan soal logis atau tidak logis secara teknis (teorema), tapi lebih ke arah proposisi kontingen—hal-hal yang kebenarannya tergantung situasi, kayak “kalau punya banyak uang pasti bahagia”. Itu bukan kebenaran mutlak.

Mulai sekarang, kalau kalian terlibat debat sengit, daripada buru-buru ngecap lawan bicara nggak logis, coba deh tarik napas dan telaah dulu. Apakah kalian menggunakan standar logika yang sama? Atau jangan-jangan kalian cuma beda perspektif dalam melihat kebenaran? Dengan memahami keragaman ini, kita bisa lebih toleran dan diskusi pun jadi lebih berbobot, bukan sekadar adu urat leher. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, rekan-rekanita, dan terima kasih sudah membaca sampai tuntas!

Terbaru

  • Inilah Syarat dan Prosedur Ikut Seleksi Siswa Unggul ITB Jalur Tes Tulis 2026/2027
  • Inilah Kronologi & Latar Belakang Kasus Erin Taulany vs ART Hera: Masalah Facebook Pro?
  • Inilah Alasan Kenapa Ending Film Children of Heaven diubah di Indonesia
  • Ini Alasan Hanny Kristianto Cabut Sertifikat Mualaf Richard Lee
  • Inilah Syarat Dokumen SSU ITB 2024-2026 yang Wajib Kalian Siapkan Supaya Nggak Gagal Seleksi Administrasi
  • Inilah Episyrphus Balteatus, Lalat Unik Penyamar yang Sangat Bermanfaat bagi Taman Kalian
  • Inilah Cara Lolos Seleksi Siswa Unggul ITB Lewat Jalur Tes Tulis Biar Jadi Mahasiswa Ganesha
  • Inilah Penemuan Fosil Hadrosaurus yang Ungkap Bahwa Penyakit Langka Manusia Sudah Ada Sejak Zaman Prasejarah
  • Inilah Penemuan Terbaru yang Mengungkap Bahwa Sunburn Ternyata Disebabkan Oleh Kerusakan RNA
  • Inilah Alasan Kenapa Manusia Lebih Sering Hamil Satu Bayi daripada Kembar Menurut Penelitian Terbaru
  • Inilah Syarat dan Cara Pendaftaran IMEI Internasional Mulai Mei 2026
  • Bocoran Spek Samsung Galaxy S27 Ultra Nih, Kamera 3X Hilang + Teknologi AI
  • Inilah Perbedaan Motorola G47 dan Motorola G45, Cuma Kamera 108 Megapiksel Doang?
  • Update Baru Google Gemini: Bisa Bikin File Word, PDF, Excel secara Otomatis
  • Rekomendasi Motor Listrik 2026 Anti Mogok!
  • Ini Loh Honda Vision 110, Motor Baru Seharga Beat & Rangka eSAF Khusus Pasar Eropa
  • Inilah Mobil-Mobil Paling Cocok Transisi ke Bioetanol E20 dan Biodiesel B50!
  • Inilah Ternyata Batas Minimal Daya Cas Mobil Listrik di Rumah
  • DJP Geser Batas Akhir Lapor Pajak Sampai 31 Mei 2026
  • PKB Tanggapi Dingin Usul Yusril Ihza Mahendra Soal Parliamentary Treshold 13 Kursi
  • LPTNU Kritik Keras Rencana Penutupan Prodi: Kenapa Tidak Komprehensi & Berbasis Problematika Nyata?
  • Gus Rozin PWNU Jawa Tengah Setuju Cak Imin, Konflik PBNU bikin Warga Kesal dan Tidak Produktif
  • Pengamat: Prabowo Harus Benahi KAI, Aktifkan juga Jalur Kereta Lama & Baru
  • Sekjend PBNU: Jadwal Muktamar Usulan PWNU Sejalan Hasil Rapat Pleno & Rais Aam
  • PKB Desak Hukuman Maksimal Kasus Little Aresha & Evaluasi Total Sistem Penitipan Anak secara Nasional
  • PKB Usul Modernisasi Sistem Kereta dan CCTV di Kabin Masinis, Setuju?
  • Menteri PPA Arifah Fauzi Minta Maaf Soal Polemik Pindah Gerbong Wanita di KRL
  • Cara Kirim Robux Mudah di Roblox Beli Skin Shirt Preview
  • Kronologi kasus dugaan penyebaran konten asusila oleh anak anggota DPRD Kutai Barat?
  • Inilah Alasan Kenapa Gelembung Air di Luar Angkasa Bisa Jadi Eksperimen Fisika yang Keren Banget
  • How to build a high-performance private photo cloud with Immich and TrueNAS SCALE
  • How to Build an Endgame Local AI Agent Setup Using an 8-Node NVIDIA Cluster with 1TB Memory
  • How to Master Windows Event Logs to Level Up Your Cybersecurity Investigations and SOC Career
  • How to Build Ultra-Resilient Databases with Amazon Aurora Global Database and RDS Proxy for Maximum Uptime and Performance
  • How to Build Real-Time Personalization Systems Using AWS Agentic AI to Make Every User Feel Special
  • ComfyUI SaaS Analysis: How to Optimize Workflow and Save Money on API Credits
  • How to access Kimi k2.6 for free to build professional software applications using Nvidia’s powerful AI infrastructure
  • Codex CLI New Feature: /Goal and It’s awesome
  • How to Build a Passive Income Machine with Faceless YouTube Channels
  • How to Use DeepSeek V4 Pro for Insane Coding Performance
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme