JAKARTA – Gelombang polemik yang menyeret nama dokter sekaligus kreator konten populer, Richard Lee, akhirnya menemui titik terang setelah pihak terkait mulai angkat bicara. Hanny Kristianto, sosok yang memiliki peran penting dalam proses konversi agama Richard Lee, secara resmi memberikan pernyataan terbuka untuk mengklarifikasi berbagai isu miring yang selama ini beredar di tengah masyarakat. Dalam sebuah kesempatan wawancara daring pada Selasa (5/5/2026), Hanny mengungkapkan sebuah keputusan krusial yang mengejutkan publik, yakni pencabutan sertifikat mualaf atas nama Richard Lee.
Meski langkah pencabutan sertifikat ini memicu berbagai spekulasi, Hanny memberikan penegasan yang sangat jelas guna menghindari kesalahpahaman yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa keputusan untuk mencabut sertifikat tersebut sama sekali tidak memiliki kaitan dengan status keislaman Richard Lee secara personal. Dengan kata lain, pencabutan administrasi ini merupakan konsekuensi dari dinamika yang terjadi, namun tidak serta-merta menghapus keyakinan yang telah diikrarkan oleh sang dokter.
Namun, pernyataan Hanny tidak berhenti pada masalah administratif tersebut. Ia justru membuka tabir mengenai beberapa klaim yang dianggapnya tidak sesuai dengan fakta lapangan yang sebenarnya terjadi. Salah satu poin paling tajam yang disoroti Hanny adalah narasi yang dibangun oleh Richard Lee mengenai hubungannya dengan ulama internasional ternama, Zakir Naik. Selama ini, muncul kesan di publik bahwa Richard Lee mendapatkan kehormatan dengan diundang langsung oleh Zakir Naik untuk melakukan sesi bincang-bincang atau podcast. Hanny secara tegas membantah narasi tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah kekeliruan informasi yang menyesatkan.
Menurut penjelasan Hanny, realitas yang terjadi justru berbanding terbalik dari apa yang selama ini terkesan di media sosial. Hanny mengungkapkan bahwa Zakir Naik tidak pernah mengundang Richard Lee untuk sebuah konten podcast. Sebaliknya, pihak Zakir Naik justru merasa keberatan dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh tim Richard Lee untuk mendekati sang ulama demi kepentingan konten digital. “Jadi ini ada satu kejadian yang mana dibalik sama Richard Lee. Seolah-olah, coba lihat, ‘Oh saya diundang sama Zakir Naik untuk podcast’. Nggak, nggak, Zakir Naik nggak pernah mengundang. Beliau sampai komplain, ‘Lo, yang minta datang, minta bertemu dengan Zakir Naik itu Richard Lee’,” ujar Hanny dengan nada tegas dalam sesi wawancara tersebut.
Lebih lanjut, Hanny memaparkan kronologi di balik pertemuan yang sempat viral tersebut. Ia menjelaskan bahwa tim kreatif Richard Lee lah yang secara proaktif mendatangi dirinya di studio TV One, kawasan Pulogadung, untuk meminta bantuan agar bisa menjembatani pertemuan antara Richard Lee dengan Zakir Naik. Tujuan utama dari pertemuan tersebut, menurut Hanny, murni untuk keperluan produksi konten. Hal ini dinilai kontradiktif dengan profil Zakir Naik yang dikenal sangat selektif dan tidak pernah terlibat dalam pembuatan konten podcast komersial atau hiburan semata, mengingat jangkauan dakwahnya yang telah menyentuh ratusan juta pemirsa melalui Peace TV.
Hanny juga menceritakan betapa besarnya upaya yang dilakukan pihak dirinya untuk membantu memfasilitasi pertemuan tersebut. Ia bahkan menyebutkan bahwa pihaknya turut membantu mengatur logistik perjalanan hingga ke Malaysia. Menariknya, Hanny mengungkapkan sebuah detail yang menunjukkan perbedaan perlakuan antara pihak penyelenggara dengan pihak Richard Lee. Meskipun pertemuan tersebut dianggap penting bagi konten Richard, Hanny menyebutkan bahwa tim Richard tidak mendapatkan fasilitas kelas VIP sebagaimana yang mungkin dibayangkan publik, melainkan harus menggunakan fasilitas ekonomi. “Saya hubungkan dan saya antar ke Malaysia. Bahkan tiket itu kami beli sendiri. Bisa bayangkan tidak, tiket itu dia di VIP, semuanya ditaruh di ekonomi,” ungkapnya.
Selain masalah klaim pertemuan dengan ulama internasional, Hanny juga menyentuh isu sensitif lainnya yang berkaitan dengan kewajiban ibadah sebagai seorang muslim. Hanny memberikan teguran keras terkait perilaku Richard Lee yang disebut kerap meninggalkan ibadah salat. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah berulang kali mencoba mengingatkan Richard Lee secara langsung saat berkunjung ke kediamannya di apartemen Verde. Hanny mengaku sering berada di sana dalam durasi yang cukup lama, mulai dari waktu zuhur hingga menjelang magrib, dan dalam kesempatan tersebut ia selalu mengajak Richard Lee untuk menunaikan kewajiban salat.
Persoalan ibadah ini menjadi semakin rumit ketika dikaitkan dengan perseteruan Richard Lee dengan seorang sosok bernama Doktif. Hanny menyoroti bagaimana Doktif sempat melontarkan sebuah tantangan atau sayembara di platform media sosial seperti TikTok maupun Instagram. Dalam sayembara tersebut, Doktif menjanjikan imbalan uang sebesar Rp10 juta bagi siapa saja yang mampu menunjukkan bukti berupa foto atau video saat Richard Lee sedang melaksanakan salat Jumat. Hanny menilai bahwa bagi seorang figur publik dengan jumlah pengikut (follower) yang sangat besar seperti Richard Lee, seharusnya sangat mudah untuk membuktikan konsistensi ibadahnya jika hal itu memang benar dilakukan.
Hanny juga memberikan edukasi kepada publik mengenai prinsip dasar dalam ajaran Islam, khususnya bagi mereka yang baru memeluk agama Islam atau mualaf. Ia menekankan bahwa status mualaf bukanlah sebuah alasan atau dispensasi untuk meninggalkan kewajiban ibadah dasar seperti salat lima waktu. Dalam proses syahadat, seorang calon mualaf akan diingatkan secara langsung mengenai kewajiban-kewajiban agama, termasuk kesediaan untuk menjalankan salat. “Secara Islam, tidak ada istilah, ‘Oh orang kalau baru masuk Islam atau mualaf itu tidak salat, wajar’. Oh, tidak bisa. Ketika seseorang syahadat itu, langsung diingatkan, ‘Kamu harus salat wajib. Bersediakah kamu menjalankan salat?’. ‘Iya’,” tegas Hanny.
Lebih dalam lagi, Hanny mengungkapkan bahwa ia telah memberikan bekal edukasi yang cukup bagi Richard Lee saat proses sertifikasi mualaf dilakukan. Ia bahkan memberikan buku panduan tata cara salat agar Richard memiliki rujukan yang jelas. Hanny juga menyarankan agar Richard Lee dapat belajar langsung dengan cara mengikuti jamaah di masjid, terutama pada waktu-waktu salat berjamaah seperti Subuh, Magrib, dan Isya, agar ia dapat memahami cara membaca surat Al-Fatihah dan gerakan salat dengan benar. Namun, berdasarkan informasi yang diterima dari tim kreatif Richard Lee, kebiasaan meninggalkan salat tersebut tetap menjadi sorotan utama dalam polemik ini.
Klarifikasi dari Hanny Kristianto ini diharapkan dapat meredam simpang siur informasi yang berkembang di masyarakat. Dengan terbukanya fakta mengenai klaim pertemuan dengan Zakir Naik serta isu kedisiplinan ibadah, publik kini diajak untuk melihat permasalahan ini secara lebih objektif, bukan sekadar berdasarkan potongan konten yang beredar di media sosial. Kasus ini menjadi pengingat bagi para kreator konten mengenai pentingnya integritas dalam menyampaikan informasi dan tanggung jawab moral dalam menjalankan keyakinan yang telah diikrarkan di hadapan publik.