JAKARTA – Industri perfilman tanah air bersiap menyambut sebuah karya besar yang menjanjikan kedalaman emosional luar biasa. Salah satu proyek yang paling dinantikan adalah adaptasi layar lebar dari mahakarya legendaris asal Iran, Children of Heaven. Menariknya, dalam proses transformasi dari versi asli ke versi Indonesia ini, terdapat sebuah perubahan fundamental yang menjadi sorotan utama, yakni pada bagian akhir atau ending cerita.
Produser film ini, Manoj Punjabi, dalam sebuah kesempatan memberikan pernyataan resmi mengenai arah kreatif yang diambil oleh tim produksi. Ia mengungkapkan bahwa salah satu keputusan paling signifikan dalam proses adaptasi ini adalah mengubah konklusi cerita agar lebih selaras dengan karakteristik penonton di tanah air. Perubahan ini bukanlah keputusan yang diambil secara impulsif, melainkan hasil dari diskusi mendalam dan pertimbangan matang antara pihak produser dengan sutradara kenamaan Indonesia, Hanung Bramantyo.
Dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Senin (4/5/2026), Manoj Punjabi menegaskan bahwa meskipun terdapat perbedaan pada bagaimana cerita ini berakhir, esensi utama yang menjadi jiwa dari karya asli sutradara Majid Majidi tersebut tidak akan luntur. Ia memastikan bahwa pesan moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi utama Children of Heaven tetap dijaga dengan sangat ketat.
“Ending-nya memang berbeda dengan versi aslinya, namun kami menjamin bahwa pesan atau message yang ingin disampaikan tetap tersampaikan dengan utuh kepada penonton,” tegas Manoj Punjabi di hadapan awak media.
Untuk memahami mengapa perubahan ini dianggap krusial, kita perlu menengok kembali kekuatan versi aslinya. Film Children of Heaven versi Iran dikenal luas karena kemampuannya menyentuh sisi paling rapuh dari kemanusiaan melalui akhir cerita yang bersifat bittersweet atau pahit sekaligus manis. Dalam versi aslinya, penonton disuguhkan realitas yang cukup getir ketika tokoh utama, Ali, gagal meraih juara ketiga dalam lomba lari yang sangat ia harapkan untuk mendapatkan sepasang sepatu. Kegagalan tersebut terasa menyakitkan, meskipun pada akhirnya terungkap bahwa sang ayah sebenarnya telah membelikan sepatu baru tanpa sepengetahuan Ali. Ironi inilah yang membuat film aslinya begitu membekas di hati penonton dunia.
Namun, untuk versi Indonesia, Manoj Punjabi memiliki visi yang sedikit berbeda. Ia ingin memberikan pengalaman sinematik yang memberikan kepuasan emosional yang lebih mendalam bagi penonton saat mereka melangkah keluar dari ruang bioskop. Menurutnya, penyesuaian narasi ini sangat penting agar film tersebut menjadi lebih komunikatif dan dapat diterima dengan baik oleh psikologi serta karakteristik penonton di Indonesia.
Manoj menjelaskan bahwa terdapat perbedaan nada atau tone yang cukup mencolok antara kedua versi tersebut. Jika versi aslinya cenderung memiliki tone yang sangat serius dan mungkin terasa berat bagi sebagian kalangan, versi adaptasi Indonesia ini dirancang untuk lebih komunikatif.
“Aslinya sangat berbeda, tone-nya jauh lebih serius. Sedangkan untuk versi kita, menurut saya tone-nya lebih komunikatif. Meskipun ada momen-momen yang sangat serius, kita tetap mempertahankan nilai-nilai (values) yang sama, namun kami melakukan adaptasi agar penonton kita bisa mencerna ceritanya dengan lebih mudah,” terang Manoj Punjabi memberikan penjelasan teknis mengenai pendekatan artistik mereka.
Ketelitian tim produksi tidak hanya berhenti pada penulisan naskah atau penentuan ending saja. Detail teknis dalam pengambilan gambar, terutama pada adegan klimaks, menjadi perhatian yang sangat serius. Salah satu bagian paling krusial dalam film ini adalah adegan maraton yang menjadi puncak ketegangan sekaligus emosi dalam cerita. Manoj Punjabi membeberkan bahwa proses syuting untuk adegan maraton ini dilakukan dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi, bahkan hingga mencapai tahap yang ekstrem.
Ia mengungkapkan bahwa ia bersama sutradara Hanung Bramantyo harus melakukan perubahan konsep hingga tiga kali khusus untuk adegan maraton tersebut. Hal ini dilakukan semata-mata demi memastikan bahwa pesan visual dan emosional yang ingin disampaikan tidak meleset sedikit pun dari visi awal yang telah mereka tetapkan.
“Waktu adegan maraton itu, kita sudah melakukan syuting dengan perubahan konsep sampai tiga kali. Kami sangat detail karena kami ingin memastikan pesan dalam adegan tersebut tidak berubah. Jika nanti Anda menontonnya, Anda akan melihat betapa spesifiknya setiap detail yang kami bangun,” ungkap Manoj dengan penuh semangat.
Melalui pendekatan adaptasi yang berani ini, Manoj Punjabi memiliki ambisi besar. Ia tidak ingin Children of Heaven versi Indonesia hanya dipandang sebagai sebuah remake biasa yang sekadar memindahkan latar tempat dari Iran ke Indonesia. Ia ingin film ini memiliki kekuatan narasi yang mandiri, sebuah identitas yang kuat yang mampu berdiri tegak sebagai karya orisinal dalam bingkai adaptasi.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan sebuah karya yang mampu memberikan inspirasi dan energi positif bagi para penontonnya. Manoj ingin penonton tidak hanya sekadar melihat sebuah cerita, tetapi merasakan sebuah pengalaman yang membangkitkan semangat.
“Di film ini, setelah melihat endingnya, kita akan merasa lebih puas. Saya pribadi merasa hasilnya sangat segar (fresh) dan membuat saya sangat bersemangat (excited). Ini adalah sesuatu yang berbeda dari yang dibayangkan sebelumnya,” pungkasnya menutup pernyataan.
Film Children of Heaven versi Indonesia ini akan menampilkan deretan talenta muda berbakat, di antaranya adalah Jared Ali, Humaira, dan Andri Mashadi, yang diharapkan mampu membawakan karakter-karakter dalam film ini dengan penuh penjiwaan. Kehadiran mereka diharapkan dapat menghidupkan kembali nuansa kemanusiaan yang menjadi ruh dari cerita ini.
Bagi para pecinta film yang sudah tidak sabar untuk menyaksikan perjalanan emosional ini, Children of Heaven dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop di Indonesia mulai tanggal 27 Mei 2026. Jadwal penayangan ini sangat strategis karena bertepatan dengan momen libur panjang Idul Adha, yang diharapkan dapat menarik minat keluarga untuk menonton bersama di bioskop.
Dengan sentuhan tangan dingin Hanung Bramantyo dan visi produksi dari Manoj Punjabi, film ini diprediksi akan menjadi salah satu film paling berpengaruh di tahun 2026, sebuah karya yang tidak hanya mengandalkan nostalgia dari versi aslinya, tetapi juga menawarkan perspektif baru yang relevan dengan masyarakat Indonesia.