Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam (PM) adalah dua konsep pendidikan di lingkungan madrasah yang bertujuan untuk memanusiakan murid. KBC berperan sebagai kompas nilai karakter, sementara PM menjadi kerangka proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan agar ilmu meresap hingga ke hati.
Kalian mungkin sering dengar istilah ini di lorong madrasah, tapi kayaknya masih banyak yang bingung gimana sih wujud aslinya di dalam kelas? Jadi begini, KBC itu ibarat “Ruh” atau nilai-nilai yang ingin kita tanamkan, sedangkan PM itu “Jasad” atau metode gimana cara kita ngajar. Kalau keduanya digabung, proses belajar nggak bakal terasa kaku kayak robot, tapi lebih hidup karena ada sentuhan emosional dan logika yang jalan barengan.
Secara teknis, integrasi ini ditandai dengan tujuan belajar yang nggak cuma sekadar teori. Misalnya, kalian nggak cuma belajar Fikih buat tahu syarat sah salat, tapi dikaitkan sama nilai cinta lingkungan. Selain itu, suasananya harus mindful (sadar tujuan), meaningful (relevan sama hidup), dan joyful (asik dan aman). Kira-kiranya, kalau kalian mau menerapkan ini di kelas, ada beberapa langkah atau contoh konkret yang bisa dilakukan:
- Pembiasaan Ibadah yang Berkesadaran
Langkah ini mengubah rutinitas ibadah jadi lebih bermakna. Guru nggak cuma nyuruh baris atau absen pas Salat Dhuha. Sebelum mulai, kalian ajak murid buat hening sejenak (mindful) buat menata niat. Setelah selesai, minta mereka refleksi sebentar, kira-kiranya apa yang dirasakan pas sujud tadi? Dengan begitu, ibadah bukan lagi beban tapi kebutuhan yang menggembirakan. - Proyek Kolaborasi Antar Mapel
Kalian bisa gabungin dua materi berbeda, misalnya Sains dan Fikih dalam proyek “Wudu Hemat Air”. Di sini, nilai KBC-nya adalah cinta lingkungan, sementara PM-nya adalah proses eksperimen gimana caranya wudu sah tapi cuma pakai satu botol air. Murid jadi mikir kritis, nggak cuma dengerin ceramah di depan kelas. - Aksi Sosial Berbasis Empati
Pembelajaran nggak selamanya harus di balik meja. Kalian bisa buat proyek kayak “Dapur Berbagi” atau ngajarin adik kelas membaca. Ini namanya mengintegrasikan ilmu dengan aksi nyata. Di sini guru berperan ngasih umpan balik selama prosesnya, biar murid paham kalau ilmu mereka itu sebegitu bergunanya buat orang lain. - Metode Inkuiri untuk Memicu Rasa Ingin Tahu
Nggak perlu lagi nyuruh murid hafal mati definisi pencemaran. Coba kasih pertanyaan pemantik kayak, “Kenapa ya selokan sekolah kita bau banget pas hujan?” Dari situ, biarkan mereka turun ke lapangan buat menyelidiki. Rasanya bakal lebih seru karena mereka belajar dari rasa penasaran sendiri, bukan karena dipaksa hafal buku teks. - Penerapan Disiplin Positif
Budaya kelas harus bebas dari rasa takut. Integrasi KBC dan PM itu benci banget sama yang namanya perundungan atau hukuman yang mempermalukan. Kalau ada yang melanggar kesepakatan, gunakan restitusi atau ajak ngobrol buat memperbaiki kesalahan. Ini penting banget biar martabat murid tetap terjaga dan mereka merasa aman buat belajar.
Sebenarnya, melakukan integrasi antara Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam ini bukan berarti kalian harus mengubah semua perangkat administrasi dari nol sampai pusing sendiri. Intinya adalah bagaimana kita membingkai setiap materi dengan nilai Panca Cinta yang dieksekusi lewat cara-cara yang menyenangkan dan masuk akal buat murid. Wujud nyatanya ya itu tadi, ada pengalaman nyata, ada refleksi, dan yang paling penting ada iklim kelas yang saling memuliakan. Jangan sampai nilai cinta cuma jadi jargon di poster dinding kelas, tapi nggak kerasa di interaksi harian. Yuk, mulai pelan-pelan kasih ruang buat murid berekspresi dan menemukan makna dari setiap lembar buku yang mereka baca.
Terima kasih sudah meluangkan waktu buat baca ulasan singkat ini, semoga bisa kasih sedikit pencerahan buat praktik di kelas nanti, rekan-rekanita.