Memasuki arus percepatan digitalisasi pendidikan di tahun 2026 ini, kalian pasti semakin sering berhadapan dengan berbagai formulir survei atau diskusi di Komunitas Belajar (Kombel). Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah mengenai keberadaan IFP/PID di sekolah. Yuk, kita bahas biar nggak bingung lagi!
Belakangan ini, pertanyaan “Apakah di sekolahmu sudah ada IFP/PID?” sering banget muncul di lembar isian kegiatan atau pendampingan sekolah. Sepertinya pertanyaan ini sepele, tapi nyatanya banyak guru yang merasa ragu buat ngejawabnya. Ada sekolah yang barangnya sudah nangkring di kelas tapi gurunya belum berani nyentuh, ada yang barangnya masih di dalam dus, bahkan ada yang salah sangka kalau TV biasa di ruang guru itu adalah IFP.
Kalian harus paham kalau cara ngejawab pertanyaan ini nggak bisa dipukul rata cuma dengan centang “Ya” atau “Tidak” saja. Jawaban yang kalian kasih harus jujur dan ngegambarin kondisi riil di lapangan. Sebelum kita masuk ke teknis jawabannya, kami ingin ngejelasin dulu apa sih sebenernya IFP dan PID itu biar nggak salah kaprah.
IFP adalah singkatan dari Interactive Flat Panel, sedangkan PID adalah singkatan dari Papan Interaktif Digital. Keduanya sebenernya ngerujuk ke barang yang sama. Ini bukan sekadar proyektor atau Smart TV biasa yang sering kita liat. IFP/PID itu kayak tablet raksasa yang punya layar sentuh sensitif. Perangkat ini didesain khusus buat ngebangun ekosistem belajar yang interaktif.
Kemendikdasmen negasin kalau IFP bukan cuma layar buat nampilin salindia (slide) presentasi doang. Alat ini punya fitur cerdas yang bisa dipake buat muter video edukatif, nampilin model tiga dimensi (3D) yang bisa diputar-putar pake tangan, muter audio, sampai mainin gim edukatif. Yang paling keren, guru dan murid bisa langsung nyoret-nyoret layar itu kayak di papan tulis biasa tapi versinya digital. Di wilayah 3T sekalipun, alat ini terbukti bisa ngebikin suasana kelas jadi jauh lebih hidup.
Ketika dinas atau fasilitator nanya soal ini, mereka sebenernya nggak cuma mau ngitung jumlah barang, tapi mau ngukur sejauh mana literasi digital kalian di sekolah. Makanya, kami sudah nyusun beberapa pilihan jawaban yang bisa kalian pake sesuai kondisi sekolah masing-masing:
- Gunakan jawaban ini jika sekolah sudah punya dan lancar memakainya
Kalau perangkatnya sudah kepasang, nyala, dan guru-guru di tempat kalian sudah mahir gunainnya buat ngajar tiap hari, kalian bisa jawab dengan nada yang mantap. Jelasin kalau alat ini sudah ngebantu proses visualisasi materi.- “Ya, di sekolah kami sudah ada IFP/PID dan sudah dimanfaatkan secara aktif dalam pembelajaran. Perangkat ini sangat membantu kami dalam menampilkan materi secara visual dan interaktif.”
- Atau versi lebih detailnya: “Ya, sekolah kami sudah memiliki IFP/PID yang digunakan rutin untuk memutar video pembelajaran serta memfasilitasi aktivitas interaktif agar siswa lebih aktif di kelas.”
- Gunakan jawaban ini jika sekolah sudah punya, tapi pemanfaatannya belum maksimal
Ini kondisi yang paling sering terjadi. Barangnya ada, tapi guru-guru masih ngerasa asing atau takut rusak kalau nyentuh. Kalian nggak perlu malu buat jujur, karena adaptasi itu butuh proses.- “Ya, sekolah kami sudah memiliki fasilitas IFP/PID, tapi pemanfaatannya masih berlangsung secara bertahap karena rekan-rekan guru masih dalam tahap eksplorasi penggunaan perangkat.”
- Kalian juga bisa bilang: “IFP/PID sudah tersedia, namun kami saat ini sedang fokus pada penguatan kapasitas guru agar ke depannya bisa mengintegrasikan perangkat tersebut ke dalam modul ajar dengan lebih optimal.”
- Gunakan jawaban ini jika barang baru datang dan masih dalam tahap instalasi
Kadang bantuan datang tapi teknisinya belum sempet masang kabel atau ngecek tegangan listrik. Kalau situasinya kayak gini, jangan jawab sudah ada secara fungsional.- “Sekolah kami bersyukur sudah menerima bantuan IFP/PID. Namun, saat ini perangkat tersebut masih dalam tahap penyiapan dan instalasi infrastruktur kelas agar aman saat digunakan nantinya.”
- Gunakan jawaban ini jika sekolah beneran belum punya IFP/PID sama sekali
Jangan minder kalau emang sekolah kalian belum kebagian atau belum mampu beli secara mandiri. Jawab aja apa adanya tapi tetep kasih kesan kalau kalian punya semangat buat maju.- “Belum, saat ini sekolah kami belum memiliki fasilitas IFP/PID. Namun, kami sangat berharap ke depannya bisa memperoleh fasilitas tersebut untuk mendukung pembelajaran yang lebih interaktif.”
- Atau kalau mau lebih diplomatis: “Sampai saat ini belum tersedia, namun kami terus berupaya memaksimalkan sarana digital yang ada sembari menunggu kesempatan untuk mengadopsi Papan Interaktif Digital tersebut.”
- Gunakan jawaban ini untuk laporan evaluasi program pendampingan
Kalau pertanyaannya dateng dari fasilitator yang mau ngeliat refleksi sekolah, kalian butuh jawaban yang lebih dalem. Jelasin tantangan yang kalian hadapi.- “IFP/PID sudah tersedia dan mulai dimanfaatkan. Tantangan utama kami saat ini adalah meningkatkan frekuensi penggunaan secara merata di semua mata pelajaran dan mengasah kompetensi digital seluruh guru.”
- Gunakan jawaban ini untuk diskusi santai di grup WhatsApp atau Kombel
Kalau ngomong sama sesama guru di grup WA, bahasanya nggak perlu kaku banget. Yang penting informasinya nyampe.- “Alhamdulillah, di sekolah kami sudah ada PID dan sudah dipakai. Ngebantu banget sih buat nampilin materi visual, anak-anak jadi makin semangat buat maju ke depan.”
- Kalau belum ada: “Di sekolah kami belum kebagian nih, jadi sementara kami masih maksimalkan proyektor dan laptop yang tersedia dulu saja.”
Memahami perbedaan antara IFP/PID dengan perangkat display biasa itu penting banget biar kita nggak salah ngasih data ke pemerintah. Kejujuran kalian dalam ngejawab pertanyaan ini bakal ngebantu pengambil kebijakan buat nentuin langkah pendampingan apa yang paling pas buat sekolah kalian. Kalau emang sudah ada, yuk mulai berani buat ngeksplor fiturnya. Kalau belum ada, tetep semangat gunain alat yang ada sekarang buat ngebikin murid-murid kalian makin pinter.
Semoga penjelasan dan contoh jawaban di atas bisa ngebantu kalian pas lagi ngisi laporan atau survei pendidikan ya. Intinya, jangan takut salah jawab selama kalian jujur sama kondisi yang ada di sekolah. Tetap semangat mengabdi untuk kemajuan pendidikan Indonesia!
Terima kasih banyak buat rekan-rekanita yang sudah meluangkan waktu buat membaca artikel ini sampai selesai. Mari kita simpulkan bahwa teknologi itu cuma alat, tapi hati dan kreativitas kalianlah yang sebenernya ngebikin perubahan di kelas. Sampai jumpa di artikel berikutnya!