Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Posted on September 18, 2015

Banyak gambar dan postingan di media sosial seputar kejadian runtuhnya alat berat (crane) yang tengah mengerjakan perluasan Masjidil Haram. Musibah yang terjadi Jumat (11/9) jelang Maghrib tersebut akhirnya merenggut 11 nyawa jamaah dari Indonesia. Puluhan korban luka tengah dirawat di rumah sakit setempat.

Bagaimana suasana sebelum dan sesudah kejadian? Berikut catatan dari H Nur Hidayat, salah seorang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia atau TPIHI yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jatim. Ia melaporkan  dari penginapan atau maktab jamaah haji di kawasan Misfalah.

Senin (7/9) dinihari, calon jamaah haji Kloter SUB 14 memasuki Kota Suci Makkah. Kelompok penerbangan atau kloter yang terdiri dari 450 orang jamaah dari Kabupaten Jombang ini menempati pemondokan Nomor 902, di sektor IX. Tepatnya di Hotel Jauharot Adham, yang berjarak sekitar 1.125 meter dari Masjidil Haram. Di hotel ini, jamaah kloter SUB 14 tinggal bersama dengan kloter SUB 05 SUB, JKS 25 dan sebagian jamaah kloter BTH 17.

Melalui “jalur tikus”, jamaah yang menghuni Hotel Jauharot Adham dapat memperpendek jarak tempuh ke Masjidil Haram menjadi sekitar 750 meter. Karena itu, hampir semua jamaah yang masih berusia di bawah 60 tahun dan kondisinya sedang fit selalu berusaha melaksanakan shalat fardlu di Masjidil Haram. Adapun jamaah yang lansia dan kurang sehat, biasa melaksanakan di mushalla berkapasitas sekitar 500 di hotel setempat.

Usai melaksanakan umrah wajib pada Senin dinihari hingga pagi, sebagian jamaah kloter SUB 14 pun mulai mencuci kain ihram dan pakaian yang sudah kotor. Selasa pagi adalah “hari mencuci berjamaah”, usai menghilangkan kepenatan akibat perjalanan Madinah-Makkah yang memakan waktu hingga hampir 12 jam dan menunaikan umrah wajib.

Menerima pertanda

Keesokan harinya, Selasa (8/9) sore, sekitar pukul 17:10 WAS, Nanik Kusyani (37), seorang jamaah kloter SUB 14, mengirimkan pemberitahuan melalui grup WhatsApp Ketua Regu dan Rombongan, agar jamaah yang memiliki jemuran segera mengambil jemurannya. “Angin sore ini sangat kencang, hingga banyak pakaian jamaah yang beterbangan dan terjatuh dari tempat jemuran,” pesannya.

Sebagian jamaah di pemondokan 902 sempat agak kalut sore itu. Sebab, beberapa orang mengatakan ada badai pasir yang sedang berlangsung dan meminta jamaah untuk turun ke lobi hotel. Tapi, angin kencang Selasa sore itu sebenarnya tidak seberapa terasa dibandingkan apa yang terjadi pada Jumat (11/9) petang, yang berujung petaka jatuhnya (atau lebih tepatnya: terjungkal) mobile crane di proyek perluasan Masjidil Haram.

Karena itu, ketika Kamis (10/9) malam ada teman karib yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta menanyakan kabar dan berusaha mengonfirmasi kebenaran video badai pasir Jeddah yang beredar di media sosial, saya hanya menjawab santai. Pasalnya, saya kebetulan menyanggong jamaah yang kembali dari Masjidil Haram untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya’ di lobi hotel. Setiap saya tanya, rata-rata jamaah menjawab santai dan tidak ada kondisi yang mengejutkan. “Mboten wonten nopo-nopo, cuma radi gerimis kolowau (Tidak ada apa-apa. Cuma memang tadi agak gerimis),” kata M Syaikhu Amirulloh (43), salah seorang jamaah yang baru pulang dari Masjidil Haram.

Kepada teman karib tersebut, saya menjawab, “Sejak akhir Agustus, memang beberapa kali ada badai gurun.” Ya, maskapai Saudia Airlines juga sempat menunda beberapa jam penerbangan haji karena badai pasir, termasuk keberangkatan kloter SUB 13 yang berisi jamaah dari Kabupaten Jember. Tapi, sepertinya itu sesuatu yang biasa di sini. Buktinya, di video badai pasir Jeddah yang beredar, kendaraan penumpang yang merekam badai pasir tersebut tetap melaju dengan santai sambil menyalakan lampu hazard. “Mungkin hal itu menjadi ‘sesuatu’ bagi orang Indonesia,” jawab saya dalam pesan WA pada Kamis (10/9) pukul 19.46 WAS.

Tapi, semuanya berubah pada Jumat (11/9) petang itu. Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan ketika menyaksikan badai pasir disusul hujan yang datang secara tiba-tiba, sekitar pukul 17:15 WAS. Saat itu, calon jamaah haji di pemondokan 902 sedang bersiap melaksanakan Shalat Maghrib di Masjidil Haram.

Awalnya, saya berencana mengajak Mbah Karnadi (75), seorang jamaah lansia berangkat ke Masjidil Haram bersama-sama. Ketika akan mengambil sajadah, saya melihat gumpalan pasir yang terbawa angin dari jendela kamar di lantai 7. Menyadari potensi bahaya yang muncul, pukul 17:24 saya segera mengirimkan pesan singkat ke grup Ketua Regu dan Rombongan Kloter SUB 14, “Alert!!! Hujan Badai… Mohon tidak usah ke Masjidil Haram!”.

Setelah itu, saya segera menuju lobi hotel untuk memastikan tidak ada jamaah yang memaksakan diri berangkat ke Masjidil Haram. Selebihnya, saya berusaha merekam momen langka tersebut dengan kamera video telepon seluler. Hujan deras disertai angin kencang yang berlangsung sekitar 30 menitan itu, merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Makkah.

Abdurrahman (51), petugas kebersihan hotel asal Bangladesh yang sudah lima tahun bekerja di Makkah juga sibuk merekam momen langka itu dengan kamera video di telepon selulernya. Ketika saya tanya apakah hujan seperti ini sering terjadi, ia menjawab hal itu jarang terjadi. Dahsyatnya hujan dan angin yang menerpa, sampai harus membuat petugas hotel mematikan sensor pintu otomatis yang menjadi akses keluar masuk jamaah.

Tidak berselang lama, Faisol Adib (34) warga Sidokerto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang baru turun ke lobi hotel bercerita, menyaksikan sebuah crane yang patah dan terjungkal karena terpaan angin. Faisol dan istrinya, Aisyah Muniroh (27), yang tinggal di lantai 11, menduga yang patah dan terjungkal itu adalah crane proyek pembangunan di sekitar Masjidil Haram.

Usai Shalat Maghrib berjamaah di mushalla hotel, saya segera menemui beberapa jamaah untuk menghimbau agar mereka tidak berangkat ke Masjidil Haram, hingga cuaca stabil. Tetapi, saya tidak menduga bahwa cerita Faisol tentang crane patah dan terjungkal itu terjadi di sekitar mathaf (area thawaf) dan memakan puluhan korban jiwa. Saat memasuki kamar, Susanto Slamet (31), salah satu anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), menunjukkan tiga foto yang diterimanya dari anggota TKHI yang sedang berada di Masjidil Haram. Saat itu, saya baru menyadari bahwa suara sirine yang bergema di sekitar maktab kami sejak hujan mereda ternyata sedang mengevakuasi jamaah yang meninggal dan terluka.

Sontak, saya segera menyalakan televisi, untuk menyaksikan berita di saluran televisi Al-Arabiya. Sekitar pukul 20.00 WAS, Al-Arabiya melaporkan data 62 jamaah yang meninggal dan lebih dari 100 orang terluka akibat tertimpa crane proyek perluasan Masjidil Haram tersebut. Saya pun segera menemui salah satu pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang sudah mengagendakan untuk umrah sunnah malam itu.

Fatimatuz Zahro (51), pimpinan KBIH Al-Kautsar yang mengagendakan umrah sunnah untuk sekitar 324 orang jamaah malam itu, menjawab santai ketika saya minta menunda kegiatannya. Fatimah berada di Mushalla Nisa’ (tempat shalat khusus perempuan, berlokasi di sekitar pintu 84 Masjidil Haram) saat kejadian berlangsung menjelang Maghrib. Dia bercerita melihat beberapa petugas mengevakuasi jamaah yang berlumuran darah melalui kawasan Mushalla Nisa’.

Ketika saya tanya apakah bisa agenda umrah sunnahnya ditunda, dia bilang akan jalan terus. “Tidak ada apa-apa kok. Tadi sudah selesai evakuasinya,” tutur anggota DPRD Kabupaten Jombang ini. Tapi, muka Fatimah mendadak merah padam ketika saya tunjukkan gambar situasi di area mathaf yang tertimpa crane. Dia pun buru-buru menelepon muthawif untuk membatalkan sewa bis dan menunda pada hari lain.

Fatimah juga sempat menyatakan keheranannya karena imam hanya membaca dua ayat pendek dalam Shalat Maghrib saat itu. Hanya saja, saat itu dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. “Kalau tahu ada musibah itu, mungkin saya akan lari ke mathaf untuk menyaksikan secara langsung. Tapi karena tidak tahu, saya hanya memastikan suami saya aman karena berada di hotel,” imbuh perempuan kelahiran Pasuruan ini.

Cerita berbeda diungkap oleh Abdurrahman (37). Pengusaha muda asal Jember yang kini tinggal di Bandung itu sedang melakukan thawaf di lantai 2, saat hujan mulai turun. Bersama ibu dan istrinya, Abdurrahman yang menginap di Hotel Hilton sore itu sedang melaksanakan thawaf sunnah. “Kami sedang memasuki putaran kelima saat badai pasir menerpa. Banyak botol air mineral, plastik dan pasir yang beterbangan di udara,” tuturnya.

“Pas putaran ketujuh, hujan mulai turun. Banyak orang di lantai 2 dan lantai 3 mathaf yang panik, karena hujannya masya Allah (dahsyat). Langit juga penuh pasir dan angin kencang,” imbuhnya.

Karena mengkhawatirkan keselamatan, Abdurrahman segera mengajak ibu dan istrinya berteduh di Mas’a (tempat Sai). Sempat berjalan perlahan, karena lantai sudah banjir dan licin. Dalam ingatan Abdurrahman, crane jatuh sekitar 17.32 WAS. “Saat itu, evakuasi jenazah sudah dimulai,” kisahnya.

Dari siaran langsung televisi Masjidil Haram, tampak bahwa mathaf lantai 2 dan lantai 3 sempat ditutup hingga Sabtu sore. Tapi, aktivitas jamaah lainnya sudah mulai normal saat Shalat Subuh. Hanya sebagian area jatuhnya crane yang ditutup aksesnya untuk jamaah. Sabtu jelang Subuh, saya akhirnya memenuhi janji mengantar Mbah Karnadi ke Masjidil Haram. 

(Ibnu Nawawi/Fathoni)

Keterangan gambar: Suasana mathaf lantai dua Masjidil Haram usai musibah jatuhnya crane.

Sumber: NU Online

Terbaru

  • LPTNU Kritik Keras Rencana Penutupan Prodi: Kenapa Tidak Komprehensi & Berbasis Problematika Nyata?
  • Gus Rozin PWNU Jawa Tengah Setuju Cak Imin, Konflik PBNU bikin Warga Kesal dan Tidak Produktif
  • Pengamat: Prabowo Harus Benahi KAI, Aktifkan juga Jalur Kereta Lama & Baru
  • Sekjend PBNU: Jadwal Muktamar Usulan PWNU Sejalan Hasil Rapat Pleno & Rais Aam
  • PKB Desak Hukuman Maksimal Kasus Little Aresha & Evaluasi Total Sistem Penitipan Anak secara Nasional
  • PKB Usul Modernisasi Sistem Kereta dan CCTV di Kabin Masinis, Setuju?
  • Menteri PPA Arifah Fauzi Minta Maaf Soal Polemik Pindah Gerbong Wanita di KRL
  • Cara Kirim Robux Mudah di Roblox Beli Skin Shirt Preview
  • Kronologi kasus dugaan penyebaran konten asusila oleh anak anggota DPRD Kutai Barat?
  • Inilah Alasan Kenapa Gelembung Air di Luar Angkasa Bisa Jadi Eksperimen Fisika yang Keren Banget
  • Inilah Contoh Naskah Doa Upacara Hardiknas 2026 yang Syahdu dan Penuh Makna
  • Inilah 10 Peringkat SMP di Daerah Istimewa Yogyakarta Berdasarkan Hasil TKA TKAD 2025/2026 Terbaru
  • Inilah Cara Download FF Beta Versi Terbaru 2026, Lengkap Dengan Cara Daftar Advanced Server Resmi
  • Inilah Cara Menghilangkan YouTube Shorts di Beranda Biar Nggak Menghambat Scrolling Kalian!
  • Inilah Kabar Gembira Program Magang Nasional 2026, Kuota Naik Drastis Jadi 150 Ribu Peserta!
  • Inilah House of Amartha: Mengenal Bisnis Thariq Halilintar di Balik Pernikahan Mewah El Rumi dan Syifa Hadju
  • Inilah Cara Kuliah S1-S2-S3 Gratis dan Cepat Lewat Beasiswa BIB Kemenag Jalur Akselerasi 2026
  • Inilah Aturan Baru Penugasan Guru Non-ASN 2026, Nasib Kalian Ditentukan Sampai Tanggal Ini!
  • Inilah Cara Daftar Pra SPMB Banten 2026 Biar Proses Masuk Sekolah Jadi Makin Lancar
  • Inilah Rincian Biaya Jalur Mandiri Untirta 2026 Lengkap Per Fakultas dan Program Studi
  • Inilah Cara Daftar Pra SPMB Kota Semarang 2026 untuk Calon Siswa SD, Jangan Sampai Ketinggalan!
  • Inilah Cara Daftar PPOP DKI Jakarta 2026: Persiapkan Diri Kalian Jadi Calon Atlet Elite Ibu Kota!
  • Inilah Alasan Raja Ampat Disebut Surga Terakhir di Bumi dengan Biodiversitas Laut Paling Gokil di Dunia
  • Inilah Tanggapan PKB Soal KPK Usul Syarat Capres Harus Kader Partai
  • Inilah 5 Calon Ketua DPC PKB Timor Tengah Selatan dan Perubahan Aturan Seleksi yang Perlu Kalian Perhatikan
  • Inilah 51 Kode Redeem FF Terbaru 29 April 2026, Ada Gintoki Bundle dan Skin Eksklusif!
  • Inilah Profil Abdul Kadir Karding, Politikus PKB yang Resmi Dilantik Menjadi Kepala Badan Karantina Nasional!
  • Inilah 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru Mei 2026, Ada Trik Rahasia Dapetin Pemain OVR 119 di Event TOTS!
  • Inilah iPhone Ultra, Bocoran Ponsel Lipat Pertama Apple dan MacBook Ultra Layar Sentuh yang Siap Mengguncang Pasar!
  • Inilah Bocoran Tanggal Rilis dan Gameplay EA Sports UFC 6 yang Paling Dinantikan
  • How to Build Ultra-Resilient Databases with Amazon Aurora Global Database and RDS Proxy for Maximum Uptime and Performance
  • How to Build Real-Time Personalization Systems Using AWS Agentic AI to Make Every User Feel Special
  • How to Transform Your Windows 11 Interface into a Sleek and Modern Aesthetic Masterpiece
  • How to Understand Google’s New TPU 8 Series for Massive AI Training and Inference
  • How to Level Up Your PC Gaming Experience with the New Valve Steam Controller and Its Advanced Features
  • How to Master Excite Audio Bloom Drum Kits to Create High-Energy Rhythms in Your Digital Audio Workstation
  • How to Create Professional Animated Movies for Free Using Anijam AI and the Cedence 2.0 Video Model
  • How to Build Professional AI Designs Locally Using the Open Design Open Source Project
  • How to Sharpen Blurry Text and Recover Unreadable Documents Using Professional AI Enhancement Tools
  • How to use Claude Code for free by connecting to Open Router models
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme