Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

100 Tahun Dick Hartoko: Buku dan Ketakjuban Sastra

Posted on May 9, 2022

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Bandung Mawardi

Pada tiap zaman, ada buku-buku berpengaruh di dunia. Buku-buku mengubah dan melanggeng. Kemunculan buku-buku itu jarang bisa diramalkan berpijak arus sastra dan pasar perbukuan.

Dulu, Dick Hartoko (9 Mei 1922-1 September 2001) menikmati masa kecil dengan bacaan cerita asal Eropa dan Amerika Serikat. Sekian nama pengarang dan judul buku mengantar petualangan cerita. Masa sebagai bocah, masa ketakjuban. Buku-buku itu memberi pengaruh, membekali perjalanan menjadi dewasa dan tua.

Di buku berjudul Tifa Budaya, Dick Hartoko urun pendapat: “Kalau manusia mau hidup tersedia terus, ia tak boleh terikat oleh rel-rel dan rumus-rumus yang sudah berani membebaskan diri dari kerutinan, dan membuka diri untuk masa depan… Fantasi membuka kemungkinan untuk mengadakan pembaruan.” Hari-hari menjadi manusia memerlukan sengatan atau kenikmatan berfantasi dari repetisi. Fantasi diperoleh dari sastra, musik, film, dan lain-lain.

Di Indonesia, fantasi itu mula-mula dimengerti dalam dongeng-dongeng, sebelum mendapat rumusan melalui kehadiran buku-buku. Sekian buku disahkan fantasi bila berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Fantasi telah dimengerti dalam kategori bacaan. Pengertian itu diterima dalam perbukuan dan pengajaran sastra di Indonesia. Orang-orang menanggung bingung agak kelabakan dalam memihak imajinasi atau fantasi.

Dick Hartoko melanjutkan: “Maka dari itu fantasi bertugas menjalin suatu dialektik, wawancara, antara kenyataan dan kemungkinan. Tanpa fantasi, maka daya pemikiran kita yang kerja secara diskursif akan menjadi pincang dan terkurung dalam sebuah sistem yang tertutup dan beku. Tetapi dengan fantasi, hidup seorang manusia yang utuh akan bergerak menurut suatu ritme tertentu, antara kenyataan dan impian.” Kita agak mengerti dengan sodoran penjelasan Dick Hartoko bersumber dari pemikiran-pemikiran Eropa dan Amerika Serikat.
Baca juga:  Cak Nur dan Konsep Sakral-Profan Emile Durkheim
Kita mengangguk dan mengakui keampuhan fantasi saat Indonesia kedatangan Harry Potter. Buku tebal itu dilahap anak, remaja, dan orang tua. Mereka keranjingan dengan fantasi. Kehebohan terjadi sejak dalam pemesanan dan pembelian buku. Pameran komentar orang-orang makin menjadikan Harry Potter itu “sihir” mendunia. Di Indonesia, jutaan orang mengaku pembaca Harry Potter, menemukan pukau fantasi berpengaruh dalam hidup kadang monoton atau menjemukan. Fantasi memberi gairah, keselamatan, dan peta tak terduga.

Dick Hartoko tak mewariskan gubahan cerita atau album puisi. Di sastra Indonesia, ia menjadi penerjemah atau pembuat saduran. Ia menulis esai-esai bertema sastra dan menekuni masalah estetika. Kita mengingat buku-buku terjemahan dan saduran sering dari Eropa, terutama Belanda. Dick Hartoko berketetapan bahwa orang-orang memerlukan bacaan, bergumul dalam cerita-cerita memungkinkan hidup tambah gairah dan ketakjuban-ketakjuban terperoleh.

Pada 1978, Dick Hartoko menulis “Paspor Sastra” dimuat dalam rubrik “Tanda-Tanda Zaman” di majalah Basis. Ia berpendapat: “Untuk memahami sastra dan puisi diperlukan literary competence, sebuah paspor untuk dapat ‘Republik Sastra’, sebuah ijazah guna mengarungi samudera sastra dengan aman.” Keteranan mengacu pemikiran A Teeuw dan para ahli sastra. Kita menduga masalah itu berkaitan pembaruan-pembaruan sastra terjadi di Indonesia. Konon, masa 1970-an masa mengejutkan dengan publikasi sastra di majalah dan penerbitan buku-buku. Sastra di Indonesia bergolak dan menderu seru.
Baca juga:  Pengajian Tuan Guru dan Penanaman Sistem Nilai di Pulau Lombok
Dick Hartoko mementingkan sastra dalam pembentukan biografi kaum muda. Sekian tahun sekolah belum menjamin murid-murid di Indonesia gandrung cerita atau berani khatam buku-buku. Mata pelajaran-mata pelajaran di sekolah mungkin “kepatutan” dan “kegagahan” ketimbang merangsang murid-murid menempuhi jalan panjang kesusastraan.

Pada 1987, Dick Hartoko memberi tulisan pendek untuk peringatan seabad Multatuli (Eduard Douwes Dekker): 17 Februari 1887. Saran terberikan: “Max Havelaar masih perlu dibaca oleh generasi muda kita, baik untuk menyimak gaya bahasanya maupun untuk juga terbakar semangatnya, melawan segala kemunafikan dan politik dagang sapi.” Di Indonesia, penerjemahan Max Havelaar dilakukan oleh HB Jassin. Dulu, Djambatan menerbitkan edisi utuh dan “remaja”, berharap warisan Multatuli terbaca oleh murid-murid di sekolah.

Keseriusan mengabarkan sastra dan mengajak orang-orang ketagihan buku bisa disimak dalam tulisan-tulisan Dick Hartoko terbit berjudul Dari Maliho O Borok Sampai Seni Sono (1992). Ia membuat amatan-amatan untuk ditanggapi dengan kritis dan reflektif. Indonesia memerlukan keberlimpahan buku. Kaum muda berhak mendapatkan persembahan-persembahan sastra atau ajakan berfantasi agar hari-hari mereka tak murung. Buku-buku bisa berpengaruh ketimbang pidato-pidato pejabat atau acara-acara tak bermutu di televisi. Seruan buku itu berulang tapi Dick Hartoko mengerti ada masalah ruwet di Indonesia: buku dan pembaca.
Baca juga:  Ulama Banjar (104): KH. Ismail Jaferi
Di buku persembahan 70 tahun Dick Hartoko berjudul Tantangan Kemanusiaan Universal (1992), kita disuguhi esai-esai bertema sastra dari para sahabat dan ahli sastra. Dick Hartoko memang terakui tekun dalam semaian sastra di Indonesia.

Di situ, kita membaca esai CA van Peursen berjudul “Bahasa Penyair dan Kenyataan.” Dulu, para mahasiswa dan intelektual Indonesia pernah kagum dengan buku van Peursen berjudul Strategi Kebudayaan, hasil terjemahan Dick Hartoko. Buku terbitan BPK Gunung Mulia dan Kanisius itu laris, sering dikutip dalam makalah dan omongan.

Pengajar asal Belanda itu menjelaskan: “Bahasa puitis memikat banyak orang karena bahasa itu menciptakan suatu dunia yang lain sama sekali, dunia yang melawan kenyataan.” Di Indonesia, bahasa puitis cuma milik segelintir orang gara-gara sekolah dan birokrasi mengajarkan bahasa amburadul. Orang-orang Indonesia lumrah susah berbahasa puitis. Susah itu terbukti bila mereka mendengar lagu-lagu lekas mengecap: “lirik puitis”. Dick Hartoko tak jauh beda dengan penjelasan van Peursen, berharapan pikat bahasa dan sastra membahagiakan kaum muda.

Kini, kita mengingat 100 tahun Dick Hartoko. Sosok diakrabi sebagai penggerak majalah Basis dan pengajar di Jogjakarta. Pesan-pesan terbaca melalui ratusan tulisan bisa terulang terbaca atau mendapat sanggahan-sanggahan saat zaman (terlalu) berubah. Kita mengangguk saja bahwa sastra itu penting meski lazim terpencil di Indonesia. Begitu.

Baca Juga

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.

Terbaru

  • Cara Mencairkan Saldo Game Sumatra The Island ke e-Wallet
  • Apakah Aplikasi Pinjol AksesDana Penipu/Resmi OJK?
  • Apakah Aplikasi RupiahMaju Pinjol Penipu/Legal?
  • Apakah Aplikasi MBA Itu Ponzi/Penipuan Atau Tidak?
  • Cara Menghilangkan Iklan dari Aplikasi Melolo
  • Cara Atasi Saldo Melolo yang Gagal Cair ke Dompet Digital
  • Cara Mengatasi Kode Undangan/Invite Code Melolo Tidak Berhasil
  • Apakah Aplikasi FreeReels Penipuan?
  • Gini Caranya Nonton Drama Pendek FreeReels dan Dibayar
  • Inilah Panduan Lengkap Persiapan TKA Madrasah 2026 Biar Nggak Ketinggalan!
  • Ini Trik Supaya Gelembung Game Clear Blast Cepat Pecah dan Bisa Withdraw!
  • Cara Main Game Gold Combo, Sampai Cuan ke e-Wallet
  • Update YouTube 2026:Sekilas Tentang Inauthentic Content yang Makin Ketat
  • Inilah Cara Lapor SPT Tahunan di Coretax 2026 Biar Nggak Bingung!
  • Gak Perlu Root! Ini Cara Buka Folder Android/Data Tanpa ZArchiver di HP Android Modern
  • Apa itu ClawdBot?
  • Ini Caranya Lapor SPT Shopee Affiliate Biar Nihil, Nggak Perlu Bingung Lagi!
  • 08559 Nomor Daerah Mana dan Kartu Apa? Ini Penjelasan Lengkapnya!
  • Ini Daftar 8 Keluarga Paling Mengerikan dalam Sejarah, Ada yang Sampai Bikin Dunia Gemetar!
  • Inilah Trik Rahasia Pindahkan Video Melolo ke Galeri Tanpa Aplikasi Tambahan
  • Ini Arti Kode Transaksi Bank ‘Kor MCD Transaction DB Otomatis’
  • Update Terbaru Januari 2026! Ini Trik Kode Plant Brainrot Simulator Biar Garden Kalian Makin OP
  • Belum Tahu? Inilah Asal Nomor Telepon 021 300 yang Sering Ganggu Kalian!
  • Bingung Menu Multi Payment Livin Mandiri Hilang? Inilah Cara Bayar Tagihan Apapun dengan Mudah!
  • Cara Nonton Anime di Anoboy dan Gabung Komunitas Discord Official Anoboy
  • Inilah Cara Nonton dan Link Website Anime Samehadaku Terbaru yang Paling Update!
  • Inilah Cara Kerja APK Sumber Dana, Penipuan atau Tidak?
  • Apakah Aplikasi Nonton Drama ReelFlick Penipuan?
  • Inilah Fakta di Balik Isu Video Blunder Risaatjan yang Viral di Media Sosial
  • Menu Hadiah Melolo Hilang Tiba-Tiba? Jangan Panik, Ini Trik Ampuh Mengatasinya!
  • Topical Authority Explained: How to Rank Higher and Outsmart Competitors
  • Skills.sh Explained
  • Claudebot Explained: How to Create Your Own 24/7 AI Super Agent for Beginners
  • How to Create Viral Suspense Videos Using AI
  • The Secret “Niche Bending” Trick To Go Viral On YouTube, January 2026
  • Cara Mengubah Model Machine Learning Jadi API dengan FastAPI dan Docker
  • Cara Ubah Tumpukan Invoice Jadi Data JSON dengan LlamaExtract
  • Cara Buat Audio Super Realistis dengan Qwen3-TTS-Flash
  • Tutorial Python Deepseek Math v2
  • Cara Menggunakan SAM3D untuk Segmentasi dan Pembuatan Model 3D dari Teks
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
Beli Pemotong Rumput dengan Baterai IRONHOOF 588V Mesin Potong Rumput 88V disini https://s.shopee.co.id/70DBGTHtuJ
Beli Morning Star Kursi Gaming/Kantor disini: https://s.shopee.co.id/805iTUOPRV

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme