JAKARTA – Pernahkah Anda melangkah masuk ke sebuah ruang bawah tanah yang lembap, melewati lorong bangunan tua yang sunyi, lalu tiba-tiba merasakan bulu kuduk berdiri? Atau mungkin, Anda merasakan gelombang kecemasan yang tidak beralasan, perasaan gelisah yang menghimpit dada, hingga sensasi seolah-olah ada sepasang mata yang sedang mengawasi Anda dari kegelapan? Selama berabad-abad, fenomena psikologis dan fisik ini hampir selalu dikaitkan dengan hal-hal mistis, keberadaan entitas supranatural, atau kehadiran makhluk halus yang menghuni tempat tersebut.
Namun, sebuah terobosan ilmiah terbaru kini hadir untuk menantang narasi mistis tersebut. Sebuah penelitian mendalam yang dilakukan oleh para ilmuwan dari MacEwan University telah berhasil membedah mekanisme biologis di balik sensasi mencekam tersebut. Hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi, Frontiers in Behavioral Neuroscience, mengungkapkan bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai gangguan gaib, ternyata merupakan reaksi fisiologis tubuh terhadap fenomena fisik yang disebut sebagai infrasound.
Apa sebenarnya infrasound itu dan bagaimana ia mampu memanipulasi emosi serta fisik manusia tanpa kita sadari?
Memahami Infrasound: Suara yang Tak Terdengar Namun Terasa
Secara teknis, infrasound adalah gelombang suara dengan frekuensi yang sangat rendah, yakni berada di bawah ambang batas pendengaran manusia, yaitu di bawah 20 Hertz (Hz). Sebagai perbandingan, telinga manusia umumnya hanya mampu menangkap getaran suara mulai dari 20 Hz hingga 20.000 Hz. Karena frekuensinya yang sangat rendah, otak kita tidak mampu memproses getaran ini sebagai “suara” dalam pengertian konvensional. Kita tidak mendengar melodi atau bunyi, namun tubuh kita tetap mampu merespons getaran mekanis yang dihasilkan oleh gelombang tersebut.
Infrasound bukanlah fenomena langka yang hanya ada di laboratorium. Menurut Prof. Rodney Schmaltz, seorang peneliti utama dari MacEwan University, infrasound sebenarnya adalah bagian tak terpisahkan dari lingkungan sehari-hari kita. Ia bisa muncul dari fenomena alam yang masif seperti badai besar, gempa bumi, atau pergerakan awan. Namun, yang lebih sering terjadi di lingkungan urban adalah infrasound yang bersumber dari aktivitas manusia.
“Infrasound ada di mana-mana dalam lingkungan sehari-hari. Ia muncul di dekat sistem ventilasi gedung, lalu lintas kendaraan yang padat, hingga mesin-mesin industri yang sedang beroperasi,” ujar Prof. Schmaltz dalam kutipan yang diambil dari laporan Science Daily.
Dalam konteks bangunan tua atau ruang bawah tanah, sumber infrasound ini bisa sangat spesifik. Pipa-pipa air tua yang bergetar, sistem ventilasi yang sudah usang dan tidak efisien, hingga mesin generator di lantai dasar sering kali menjadi produsen utama gelombang frekuensi rendah ini. Getaran yang dihasilkan oleh mesin-mesin tersebut merambat melalui struktur bangunan dan udara, menciptakan atmosfer yang secara tidak sadar memengaruhi sistem saraf manusia.
Eksperimen Laboratorium: Lonjakan Hormon Stres dan Perubahan Mood
Untuk membuktikan keterkaitan antara infrasound dan reaksi emosional, tim peneliti melakukan sebuah eksperimen terkontrol yang melibatkan 36 partisipan. Dalam studi ini, para peserta dipaparkan pada gelombang infrasound dengan frekuensi spesifik, yakni 18 Hz. Angka ini sangat krusial karena berada tepat di ambang batas bawah pendengaran manusia.
Hasilnya sangat mengejutkan. Meskipun para partisipan melaporkan bahwa mereka tidak mendengar suara apa pun selama eksperimen berlangsung, data biologis menunjukkan perubahan drastis pada tubuh mereka. Para peneliti menemukan adanya lonjakan signifikan pada kadar kortisol dalam air liur partisipan. Kortisol dikenal secara luas dalam dunia medis sebagai “hormon stres”. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar adrenal sebagai bagian dari respons alami tubuh terhadap ancaman atau situasi yang menekan.
Kale Scatterty, penulis pertama dari studi tersebut, menjelaskan bahwa peningkatan kadar kortisol ini berkorelasi langsung dengan perubahan perilaku dan suasana hati. “Peningkatan iritabilitas atau sifat mudah marah dan kadar kortisol yang lebih tinggi secara alami berhubungan satu sama lain. Ketika seseorang merasa lebih kesal atau mengalami stres, kortisol cenderung naik sebagai bagian dari respons stres normal tubuh,” jelas Scatterty.
Lebih lanjut, para partisipan melaporkan perubahan psikologis yang nyata. Mereka merasa lebih mudah marah, lebih cepat merasa kesal terhadap hal-hal kecil, dan merasa kehilangan fokus atau kurang terlibat (disengaged) dalam aktivitas yang sedang mereka lakukan. Fenomena ini menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa sangat tidak nyaman atau “terganggu” di suatu ruangan tanpa tahu apa penyebab pastinya.
Dampak pada Persepsi Estetika: Musik yang Terasa Lebih Sedih
Salah satu temuan paling menarik dan unik dari penelitian ini adalah bagaimana infrasound memengaruhi cara manusia memproses informasi sensorik lainnya, dalam hal ini adalah musik. Ketika para partisipan terpapar getaran frekuensi rendah tersebut, persepsi mereka terhadap seni berubah. Mereka cenderung menilai musik yang sedang didengarkan terasa jauh lebih sedih, melankolis, atau suram dibandingkan saat mereka berada dalam kondisi normal.
Hal ini menunjukkan bahwa infrasound tidak hanya memengaruhi fisik secara langsung, tetapi juga mampu mengubah “lensa” emosional yang digunakan manusia untuk melihat dan merasakan dunia di sekitar mereka. Jika emosi dasar seseorang sedang ditekan oleh hormon stres akibat infrasound, maka interpretasi mereka terhadap rangsangan eksternal (seperti musik) akan cenderung mengarah pada nuansa negatif.
Peringatan Kesehatan: Bahaya Polusi Suara Tak Terdengar
Meskipun fenomena ini sering dianggap sebagai hal yang menarik secara ilmiah, para ahli memberikan peringatan serius. Paparan infrasound yang bersifat kronis atau terjadi dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Pelepasan hormon kortisol yang terus-menerus bukanlah kondisi yang sehat bagi tubuh.
Secara fisiologis, kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan tidur, peningkatan tekanan darah, kecemasan kronis, hingga penurunan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, penelitian ini juga menyoroti pentingnya pengendalian “polusi suara tak terdengar” di lingkungan kerja, industri, maupun area pemukiman untuk menjaga kesejahteraan mental dan fisik masyarakat.
Menepis Mitos: Mengapa Kita Mengaitkannya dengan Hantu?
Penelitian ini memberikan jawaban ilmiah yang sangat masuk akal mengapa banyak orang merasa “merinding” di gedung tua. Prof. Schmaltz menjelaskan bahwa terdapat faktor psikologis tambahan yang memperkuat persepsi supranatural tersebut. Jika seseorang sudah memiliki sugesti atau telah diberi tahu sebelumnya bahwa sebuah bangunan itu “berhantu”, maka otak mereka akan secara otomatis mencari penjelasan atas rasa gelisah yang mereka rasakan akibat infrasound.
Alih-alih menyimpulkan bahwa “tubuh saya sedang bereaksi terhadap getaran pipa di dinding”, otak manusia yang cenderung mencari pola akan menyimpulkan, “saya merasa gelisah karena ada penampakan di sini”. Inilah yang disebut dengan bias konfirmasi, di mana sensasi fisik yang nyata (akibat infrasound) langsung dikaitkan dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya (hal gaib).
Langkah Awal Menuju Pemahaman yang Lebih Dalam
Meskipun studi ini memberikan fondasi yang sangat kuat, para peneliti mengakui bahwa penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan. Studi mendatang diharapkan dapat mengeksplorasi berbagai variasi frekuensi infrasound lainnya untuk melihat spektrum reaksi manusia yang lebih luas. Namun, temuan saat ini sudah cukup untuk menjadi langkah awal yang revolusioner dalam memahami bagaimana polusi suara yang tidak kasat mata dapat membentuk emosi, perilaku, dan persepsi manusia di dunia nyata.
Sebagai kesimpulan, fenomena “atmosfer berat” atau perasaan mencekam di bangunan tua mungkin bukanlah tanda kehadiran makhluk dari dunia lain. Bisa jadi, itu hanyalah cara tubuh Anda merespons getaran mekanis dari pipa tua atau sistem ventilasi yang tidak beraturan. Jadi, lain kali jika Anda merasa tidak nyaman saat memasuki sebuah ruangan sunyi, cobalah untuk tidak langsung takut pada bayangan di sudut ruangan, melainkan sadarilah bahwa tubuh Anda mungkin hanya sedang bereaksi terhadap gelombang suara yang tak terdengar.
Studi ini secara resmi dipublikasikan dengan judul “Infrasound exposure is linked to aversive responding, negative appraisal, and elevated salivary cortisol in humans” dalam jurnal Frontiers in Behavioral Neuroscience pada tanggal 27 April 2026.