Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Ibadah Puasa Menurut Teologi Pembebasan

Posted on April 21, 2022

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Saidun Fiddaraini

Secara legal formal syariah (hukum Islam), ibadah puasa merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat Muslim di dunia. Sebab, ia termasuk salah satu dari kelima rukun Islam yang wajib ditunaikan. Sehingga apabila ada orang mengklaim dirinya Islam, kemudian tidak menjalankan kewajiban puasa maka keislamannya tidaklah sempurna dan patut kiranya untuk dipertanyakan kembali.

Dalam literatur kitab fiqh baik klasik maupun kontemporer, para ulama konsensus bahwa kewajiban ibadah puasa hanya berlaku bagi orang Islam, berakal, balig, serta mampu untuk menunaikannya. Sebaliknya, apabila tidak sesuai dengan kriteria atau ketentuan tersebut maka kewajiban puasa tidak berlaku baginya. Namun perlu dicatat, ketidakmampuan seseorang bukan berdasarkan diri sendiri, melainkan sesuai dengan syariat atau orang yang kompeten di bidangnya, dokter misalnya.

Perihal kewajiban ibadah puasa ini, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 183, yaitu:

يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dari sini, kita bisa memahami bahwa ibadah puasa dalam konteks legal formal syariah adalah bertujuan untuk membentuk ketakwaan setiap umat Muslim. Artinya, orang yang berpuasa bukan sekadar menjalankan kewajiban agama, melainkan juga sebagai bentuk latihan rohani atau spiritual dalam mencapai tingkatan hidup yang lebih baik di sisi Allah dengan memperoleh predikat makhluk bertakwa.

Karena itulah, orang yang berpuasa berupaya semaksimal mungkin untuk menghindari hal-hal yang dapat membatalkan terhadap ibadah puasa, baik dari segi dhohir (seperti makan, minum, dan berjimak) maupun batin (menggunjing, memfitnah, menyakiti, mengadu domba, ujaran kebencian, menyebarkan hoax, dan lain-lain). Kesemuanya ini merupakan sudut pandang legal formal syariah.
Baca juga:  Empat Perjalanan Hidup Manusia Versi Sadra
Lantas bagaimanakah ibadah puasa dari sudut pandang teologi pembebasan? Atau, apakah sekadar ritual keagamaan yang wajib dijalankan? Untuk itu, patut kiranya mengetahui terlebih dahulu apa itu teologi pembebasan dan bagaimanakah teologi pembebasan memaknai ibadah puasa.
Hakikat Teologi Pembebasan
Dalam khazanah keislaman kontemporer, wacana keagamaan yang progresif dan pro-transformasi sosial kemudian populer dengan nama Teologi Pembebasan  (liberation theology), tentu sudah tak asing lagi bagi sebagian orang terutama di kalangan para aktivis sosial. Wacana ini berawal di tubuh Gereja Katolik yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Gustavo Gutierrez (1971) dan Oscar Romero, seorang Uskup yang tewas sebagai martir karena memimpin perjuangan membela kelompok marginal dan melawan otoritarianisme.

Dalam perjalanannya, Teologi Pembebasan bermula dari sebuah refleksi para pemuka agama atas kondisi yang memilukan; kemiskinan, otoritarianisme, dan pelbagai macam bentuk penindasan dan eksploitasi lain di Amerika Latin. Pesan-pesan religiositas, terutama solidaritas terhadap kaum lemah yang miskin dan tertindas serta keberpihakan pada kebenaran yang terkandung di dalam ajaran agama, diperkuat oleh penerapan prinsip-prinsip politik progresif dalam perjuangannya, seperti pendidikan untuk massa dan kritik terhadap pemerintahan yang sewenang-wenang.

Sementara di lingkungan umat Islam, gagasan Teologi Pembebasan dihembuskan secara santer oleh Farid Esack (1997), seorang intelektual, aktivis, dan pemimpin komunitas Muslim Afrika Selatan yang turut serta berjuang melawan rezim Apartheid. Dengan menjadikan agama sebagai panggilan universal untuk melawan penindasan, ia berhasil menggalang dukungan tidak hanya dari komunitas Muslim, melainkan juga kelompok lain di Afrika Selatan dalam gerakan anti-Apartheid.
Baca juga:  Fikih Tanah-Air Indonesia (7) Paruhan Hasil Pertanian
Yang tidak kala progresifnya dalam menggulirkan gagasan Teologi Pembebasan adalah Asghar Ali Engineer, seorang intelektual Muslim dan aktivis gerakan sosial asal India. Menurutnya, memahami teologi dalam Islam tak melulu berkutat atau mengurusi Tuhan (hubungan hamba dengan Sang Pencipta),  tetapi bagaimana teologi itu bisa hidup berdampingan di tengah-tengah masyarakat untuk berdialog dengan masalah sosial, politik,  dan ekonomi sehingga tercipta tatanan kehidupan yang adil dan sejahtera.

Artinya, teologi harus berpihak pada kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, dan eksploitasi dalam kehidupan masyarakat. Bukan sebaliknya, yakni sebagai power atau instrumen untuk menindas dan melanggengkan dehumanisasi terhadap masyarakat lemah yang termarginalkan. Dengan demikian, maka Teologi Pembebasan bisa dimaknai sebagai suatu gerakan keagamaan yang berorientasi sosial dan tetap bertolak pada nilai-nilai ajaran agama dengan tujuan terciptanya suatu tatanan kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera.
Makna Puasa Menurut Teologi Pembebasan
Dilihat dari uraian di atas, tampak sudah jelas bahwa ibadah puasa dalam sudut pandang Teologi Pembebasan bukan sekadar ritual keagamaan yang berkutat pada ranah kewajiban seorang hamba kepada Tuhan. Tetapi, suatu ritual keagamaan yang tidak kosong akan nilai-nilai sosial. Sebab, salah satu hikmah adanya puasa agar kita bisa merasakan penderitaan orang-orang miskin.

Mengutip Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi (w. 1380 H/1961 M), seorang ulama terkemuka alumnus Al-Azhar, Mesir dalam kitabnya Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuhu, bahwa salah satu hikmah yang terkandung dalam puasa, yakni mengingatkan pelakunya pada kondisi orang-orang fakir sehingga turut memberikan simpati dan rasa kasih sayang terhadap mereka. Sebaliknya, seseorang yang tidak pernah merasakan kesulitan, tentu tidak akan pernah merasakan kesulitan yang dialami orang lain. Dan orang yang tidak pernah lapar pasti tidak kan pernah merasakan kelaparan yang diderita orang lain. Artinya, hanya orang yang pernah merasakan sakit yang dapat merasakan kesempitan dan kepedihan.
Baca juga:  Pesantren dan Pemberdayaan Ekonomi (1): Ekonomi Pesantren Mampu Bersaing dalam Skala Global
Hal senada juga diungkapkan oleh Hassan Hanafi, seorang pemikir Islam progresif di era kontemporer asal Mesir dalam jurnalnya Al-Yasar al-Islami (Kiri Islam) menyatakan, bahwa kewajiban berpuasa bagi umat Muslim di bulan Ramadhan adalah bertujuan untuk melatih solidaritas sosial, dalam hal merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan. Artinya, dalam ibadah puasa kita juga dituntut untuk bersikap empati dan melatih kepekaan terhadap kaum Mustadhafin (orang-orang lemah) yang tertindas oleh kaum borjuis dan kapitalis.

Bahkan, perihal nilai transformasi sosial dalam ibadah puasa ini dipertegas oleh Nabi Muhammad dalam salah satu hadisnya;

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa memberi makan orang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala sedikit pun dari orang yang berpuasa itu.” (HR. Tirmizi)

Jadi, bisa dipahami bahwa hakikat ibadah puasa dalam sudut pandang Teologi Pembebasan bukan semata-mata kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Akan tetapi, lebih dari itu sebagai bentuk kepedulian dan keterlibatan kita dalam merasakan kesengsaraan orang lain, terutama kelompok yang lemah, miskin, dan termarginalkan. Ini berarti, puasa bisa menjadi senjata melawan segala penindasan dan eksploitasi yang mengakibatkan maraknya kemiskinan serta ketidakadilan di tengah masyarakat. Wallahu A’lam

Baca Juga

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.

Terbaru

  • Cara Mengembangkan Channel YouTube Shorts Tanpa Wajah
  • Inilah Cara Menghitung Diskon Baju Lebaran Biar Nggak Bingung Saat Belanja di Mall!
  • Cara Jitu Ngebangun Bisnis SaaS di Era AI Pakai Strategi Agentic Workflow
  • Inilah Rincian Gaji Polri Lulusan Baru 2026, Cek Perbedaan Jalur Akpol, Bintara, dan Tamtama Sebelum Daftar!
  • Inilah 5 Channel YouTube Membosankan yang Diam-diam Menghasilkan Banyak Uang
  • Inilah Cara Pakai Google Maps Offline Biar Mudik Lebaran 2026 Nggak Nyasar Meski Tanpa Sinyal!
  • Inilah Alasan Mahkamah Agung Tolak Kasasi Google, Denda Rp202,5 Miliar Resmi Menanti Akibat Praktik Monopoli
  • Inilah Cara Daftar dan Syarat SPMB SMK Boarding Jawa Tengah 2026, Sekolah Gratis Sampai Lulus!
  • Inilah Daftar Sekolah Kedinasan 2026 untuk Lulusan SMK, Bisa Kuliah Gratis dan Berpeluang Besar Langsung Jadi CPNS!
  • Inilah Pajak TER: Skema Baru PPh 21 yang Nggak Bikin Pusing, Begini Cara Hitungnya!
  • Inilah Jadwal Resmi Jam Buka Tol Jogja-Solo Segmen Prambanan-Purwomartani Saat Mudik Lebaran 2026
  • Inilah Cara Mendapatkan Witherbloom di Fisch Roblox, Rahasia Menangkap Ikan Paling Sulit di Toxic Grove!
  • Kenapa Indomart Point Bisa Kalahkan Bisnis Kafe?
  • Inilah Cara Mendapatkan Rotten Seed di Fisch Roblox, Lokasi Rahasia di Toxic Grove Buat Unlock Toxic Lotus!
  • Inilah Cara Zakat Crypto Kalian Bisa Jadi Pengurang Pajak Berdasarkan Aturan Resmi Pemerintah!
  • Inilah Perbandingan Airwallex vs Payoneer 2026: Jangan Sampai Profit Kalian Ludes Gara-Gara Biaya Admin!
  • Inilah Roadmap 7 Tahap Bangun Bisnis Digital dari Nol Biar Nggak Cuma Putar-Putar di Tempat!
  • Inilah Cara Tetap Gajian dari YouTube Meski View Masih Ratusan, Penasaran?
  • Inilah Alasan Akun TikTok Affiliate GMV 270 Juta Kena Banned Permanen!
  • Inilah Bahaya Astute Beta Server APK, Jangan Sembarang Klik Link Download FF Kipas 2026!
  • Inilah Bahaya Nonton Film di LK21 dan IndoXXI, Awas Data Pribadi dan Saldo Rekening Kalian Bisa Ludes!
  • Inilah Kronologi & Video Lengkap Kasus Sejoli Tambelangan Sampang Viral, Ternyata Gini Awal Mulanya!
  • Inilah Alasan Kenapa Koin Nego Neko Shopee Nggak Bisa Dipakai Bayar Full dan Cara Rahasia Dapetinnya!
  • Inilah Cara Menjawab Pertanyaan Apakah di Sekolahmu Sudah Ada IFP/PID dengan Benar dan Profesional
  • Inilah Fakta Isu Roblox Diblokir di Indonesia 2026, Benarkah Akan Ditutup Total?
  • Inilah Penyebab dan Cara Mengatasi FF Kipas My ID Verify UID Biar Akun Tetap Aman
  • Inilah Deretan HP RAM 8GB Harga di Bawah 2 Juta Terbaik 2026, Spek Dewa Tapi Nggak Bikin Kantong Jebol!
  • Contoh Cara Buat SK Panitia TKA 2026
  • Inilah Cara Download Point Blank ID Versi Terbaru 2026, Gampang Banget Ternyata!
  • Inilah Persiapan Lengkap Gladi Bersih TKA 2026 SD dan SMP: Jadwal, Teknis Proktor, dan Aturan yang Wajib Kalian Tahu
  • Why Does PowerPoint Underline Hyperlinks? Here is How to Remove Them
  • AI Bug Hunting with Semgrep
  • What is the Excel Power Query 0xc000026f Error?
  • How to Build Your Own Homelab AI Supercomputer 2026
  • How to Enable SSH in Oracle VirtualBox for Beginners
  • How to Connect Claude Code to 200+ Apps Instantly with Fabi AI
  • The Ultimate Guide to Local AI: Setting Up OpenClaw with NVIDIA Nemotron-3 Super and Ollama for Free!
  • Claude Code Desktop: How to Make Your AI Assistant Work While You Sleep
  • How to Vibe Coding a Game in 2026
  • Running NVIDIA’s Nemotron-3 Super 120B Model Locally with Ollama: A Complete Guide for Young Tech Enthusiasts
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme