Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Perkenalanku dengan NU

Posted on August 2, 2015

Bagi sebagian besar orang, apalagi sekarang, mungkin tak penting mengetahui apalagi membahas apa itu NU? Siapa yang bikin? Tujuannya apa? Perjuangan dan dinamikanya seperti apa? Sampai seberapa pentingnya NU untuk diketahui? Buang-buang waktu. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diurus. Mending mikirin anak belajar di sekolah favorit agar bisa bekerja di tempat yang terhormat, agar bisa dibanggakan kepada tetangga. Masih mending lihat gosip apa yang terbaru dari artis Anung dan Syahroini atau sinetron Tukang Tipu Naik Haji. Masih mending membahas bagaimana dinamika politik tanah air yang seakan tak ada yang benar. Masih mending membahas tren musik, film, mode atau teknologi gadget terbaru dari negeri adidaya. Intinya apa itu NU sangat-sangat tak penting di kehidupan ini untuk dibahas. Hanya buang-buang waktu saja.

Namun jangan salah. Di tengah gempuran modernitas yang sedemikian tak terbendung, ada sekelompok manusia yang unik. Mengapa unik? Yah, karena mereka begitu cinta dengan NU. Hari-harinya dipenuhi diskusi dan pembahasan dengan NU. NU seakan sudah menjadi agama dan nadi. NU seakan sumur yang tak pernah kering airnya ditimba dalam berbagai kalangan dan pembahasan. Bahkan, lantai kantor pusatnya diinjak sepatu presiden Ahmadinejad sampai sendal jepitnya Koirul, Nahdliyin dari desa. Selalu menarik dan menjadi tema bahasan pagi jamaahnya. Juga bagi “musuh-musuhnya.” Menjelang muktamar ke-33 ini, aku ingin menulis perkenalanku dengan NU.

Sama seperti kebanyakan orang, aku tak tahu dan tak menganggap penting apa itu NU. Masa kecilku kuhabiskan untuk bermain layang-layang, membuat mobil-mobilan, cari ikan di sungai dan tentunya ngaji di madrasah dengan lampu-lampu senthir atau teplok yang kini sudah tiada lagi. Bermain, sekolah dan ngaji itulah kuhabiskan.

Disela itu, kadang ibuku mengajakku untuk ikut berjanjen secara bergilir setiap malam Senin. Aku senang meskipun motivasikuku lebih banyak karena faktor snack dan makanan yang disajikan. Bahkan, pernah aku diajak acara ibu-ibu di kecamatan. Sama. Aku hanya tidur dan bangun ketika snack atau makanan datang. Belakangan, ku ketahui nama perkumpulan ibu muda tersebut bernama Fatayat NU, sayap organisasi NU untuk pemudi dewasa. Kini, ibuku menjabat sebagai ketua Ranting Fatayat NU di desaku.

Untuk bapakku, ia punya komunitas dan gank tersendiri. Kegemarannya adalah keliling kenduren (kenduri). Membaca kalimah thayyibah untuk kebaikan, mengingat tuhan dan ditransfer kepada arwah leluhur. Tiap kali dapat jatah giliran, aku senang karena bisa makan telur ayam bahkan kadang ayam. Perlu dimengerti, waktu itu daging, roti dan mie instant amat mahal dan mewah. Kalau pas bapak kenduren di luar, sampai malam kutunggu berkatnya di rumah. Kadang telur atau daging yang sepotong itu harus dibagi-bagi. Itu dulu, beda dengan kini yang semua gampang dicari.

Kuketahui, kakekku juga aktivis NU. Ini kulihat dari undangan yang sering ada di meja beliau ketika aku minta uang saku. Ternyata kakeklah penggagas sekolah Ma’arif NU pertama di kecamatanku, atas bantuan rekan seperjuangannya di NU, KH Saifuddin Zuhri Sokaraja, Banyumas.

Setelah makan bangku SD aku nyantri dan sekolah di pesantren. Baru kemudian kenal dan dengar apa itu IPNU, PMII, NU serta semua nevennya. Kupelajari dan kupelajari sampai kemudian menjadi salah satu pengurus struktural. Ternyata, apa yang telah aku dan masyarakat secara umum lakukan adalah ritual NU. Baik kenduren, tahlilan, berjanjen, ngaji utawi iki iku, riyadlah, dan berbagai tradisi lain. Kebanyakan ini dilakukan di desa-desa, karena dampak penjajah yang menggiring pesantren, ulama dan juga orientasi Mataram Islam dari maritim ke agraria. Baru ratusan tahun kemudian visi maritim digagas kembali oleh Gus Dur dengan membentuk kementeriannya.

Awalnya, kusangka NU adalah hanya ritual-ritual itu saja. Kusangka NU itu organisasi pinggiran orang-orang ndeso yang katrok. Kusangka ditengah gempuran modernisme, NU akan habis dan punah. Ternyata tidak! Justru sebaliknya. Masa depan Islam dan dunia adalah milik NU.

Secerdas-cerdasnya presiden Amerika, masih kalah bijak dengan ulama NU. Peradaban Barat gagal setelah menggunakan pengetahuan untuk menindas, menghancurkan dan memerkosa sumber daya alam. NU adalah penerus Walisongo, organisasi terstruktur untuk membentengi mapping dunia yang waktu itu dikuasai oleh Potugis dan Spanyol dalam Perjanjian Zaragoza dan Tordesillas. Dunia dibagi dua bagian untuk diperkosa diambil segala potensi dan sumber dayanya. Meski jebol pada 1511 dengan adanya Portugis di Malaka, sekaligus pertama kali pembangunan gereja, toh di Jawa para wali sudah kuat dan mampu mendirikan Kesultanan Islam Demak. Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor melawan habis Portugis dengan berkoalisi Kerajaan-kerajaan di Jawa dan luar Jawa, namun kalah. Dulu di benak masyarakat Jawa yang dinamakan gentleman itu, berkelahi satu lawan satu. Ini Portugis tidak, bahkan bawa meriam. Main keroyokan. Kita kalah. Namun setidaknya Demak sebagai pusat pemerintahan sudah berjuang. Kisah apik dan heroiknya peperangan direkam oleh Pram dalam novel Arus Balik.

Pada 1900-an, dimana kita masih dalam cengkraman penjajah, cikal bakal NU yaitu ulama dan kiai-kiai pesantren sudah aktif berjuang. Mereka tidak kooperatif dengan Londo atau Belanda. Jauh sebelum sekolah umum dibangun atas dasar politik etis, nenek moyang ulama NU sudah banyak mendirikan pesantren dan madrasah, mencedaskan pribumi. Malang, ketika sudah merdeka, lulusan madrasah tak diakui. Oleh karena dianggap tak resmi jika tak berijazah. NU mengalah.

Ketika Inggris dan AS berhasil memisahkan Tanah Hijaz dari Turki Utsmani agar minyaknya bisa di eksploitasi, lalu diresmikan paham Wahabi sampai pada ingin membongkar makam Baginda Nabi, kiai-kiai ndeso ini tak tinggal diam. Mereka membentuk Komite Hijaz untuk berdiplomasi menyelamatkan. Berhasil. Makam Nabi tak jadi dibongkar.

Situs sejarah terpenting diselamatkan. Kekuatan besar dunia dilawan. Ternyata tak sesederhana yang aku kira sebelumnya. Jaringan ulama dan kiai dan pengetahuan geo-politiknya begitu kuat dan hebat. Bahkan, ulama Jawa banyak diakui di Makkah menjadi Imam Masjidil Haram dan menciptakan banyak kitab dan karya. Tradisi intelektual di pesantren juga luar biasa. Banyak karya dan ijtihad lahir dari soal sesuci sampai kaidah berbangsa dan bernegara.

NU ternyata lengkap, tak seperti yang dulu kuduga. Lahirnya karena faktor agama, politik, ekonomi dan budaya Nusantara agar tak diinjak-injak asing dan sesuai dengan syariat Islam. NU-lah yang selalu setia kepada agama dan negara tercinta. Bahkan ketika dikebiri selama 32 tahun oleh otoritarianisme Orde Baru, NU tak jua memberontak. Sampai-sampai sekolah Maarifnya mau ambruk. 32 tahun tak pernah mencicipi manisnya pembangunan dan hasil perjuangan, yang justru mengalir kepada organisasi yang dulu membunuh tradisi bangsa dan ingin berkiblat ke Eropa.

Pasca reformasi ada angin segar untuk NU. Bisa memiliki presiden dari kaum sarungan, yang menggemparkan dunia karena humor, terobosan, ide, kecerdasan dan tentunya karena kebutaannya. Baru NU bisa bikin perguruan tinggi. Baru NU bisa meneladani seniornya KH Wahid Hasyim yang membikin negara, untuk turut mengelola negara.

Perkenalanku dengan NU memang baru sebentar, namun seolah panjang. NU memang masih banyak kekurangan, namun aku yakin untuk selalu ikut memperjuangkan. Tak hanya dunia yang kecil dan sebentar ini, tetapi juga ikut perahunya sampai akhirat kelak. Hanya ulama NU hari ini yang bisa kupercaya dan bertanggung jawab membawaku di dunia sampai alam baqa.

NU, pada 1-5 Agustus akan melaksanakan muktamar ke-33-nya di Jombang, tanah kelahiran. Semoga periode lalu yang dapat membangun 24 Universitas, puluhan sekolah dan banyak lainnya, bisa lebih baik di kepengurusan mendatang. Rumah sakit, panti asuhan, lembaga ekonomi, media, budaya, pendidikan tinggi dan pesantren harus terus dipikirkan agar berkemajuan sesuai kebutuhan zaman. Sudah tidak saatnya lagi berduel sengit menyoal bid’ah dan transfer pahala. Kini tantangannya lebih komplek dan nyata. Semoga ke depan semakin maju dan bermanfaat untuk semua.

Selamat bermuktamar NU. Insya Allah aku akan berkunjung ke sana, menyaksikan muktamar untuk pertama kalinya. Sowan kepada alim ulama para panutan anak bangsa.
Kiriman dari Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Wakil Ketua PW IPNU Jawa Tengah (2013-2016)

Sumber: NU Online

Terbaru

  • SALAH! MIT Ungkap AI Tidak Ganti Karyawan Karena Efisiensi
  • Inilah Inovasi Terbaru Profesor UI: Pelumas Mobil dari Minyak Nabati!
  • Daftar Sekarang! Beasiswa S2 di Italia dari IYT Scholarship 2026 Sudah Dibuka
  • Sejarah Hantavirus dan Perkembangannya Sampai ke Indonesia
  • Kementerian Pendidikan: Mapel Bahasa Inggris Wajib di SD Mulai 2027!
  • Ketua Fraksi PKB MPR-RI: Kemenag Respon Cepat Pendidikan Santri Ndolo Kusumo Pati yang Terdampak
  • Viral Video Sejoli Di Balai Kota Panggul Trenggalek, Satpol PP Janji Usut
  • Video Viral Wakil Wali Kota Batam Tegur Keras Pasir Ilegal
  • LPDP Buka Peluang Beasiswa S3 Prancis 2026, Simak Syaratnya!
  • Inilah Panduan Lengkap dan Aturan Main Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA dan SMK Negeri Jawa Tengah Tahun 2026
  • Inilah Syarat dan Cara Daftar MOFA Taiwan Fellowship 2027
  • RESMI! Inilah Macam Jalur di SPMB Sekolah Tahun Ajaran 2026
  • Ini Loh Rute Terbaru TransJOGJA Per Mei 2026, Jangan Salah Naik!
  • Inilah Jadwal Operasional MRT Jakarta Per Mei 2026, Berubah Dimana?
  • Inilah Syarat dan Mekanisme Seleksi Siswa Unggul ITB Jalur Talenta (OSN, Seniman, Hafidz, Atlet dll) 2026/2027
  • Inilah Daftar Saham Farmasi di BEI Per Mei 2026, Pilih Mana?
  • Kesehatan Mental Itu Penting: Inilah Isi Chat Terakhir Karyawan Minimarket Sukabumi Bundir
  • Inilah Kampus Swasta Terbaik Jurusan Farmasi di Area Malang Raya
  • Cara Login EMIS 4.0 Kemenag Terbaru 2026 Pakai Akun Lembaga dan PTK Guru Madrasah Aktivasi
  • Survei Parpol Terbaru: Gerindra Unggul, PDIP Ketiga, PKB 5%
  • PKB Resmi Jalin Kerjasama dengan Institut Teknologi & Sains NU Kalimantan
  • Inilah Urutan Terbaru Pangkat TNI Angkatan Darat! (Update 2026)
  • Inilah Panduan Lengkap Operator Sekolah Mengelola SPTJM e-Ijazah dan Menghindari Kesalahan Fatal Data Kelulusan
  • Inilah Syarat dan Penilaian Seleksi Siswa Unggul ITB Jalur UTBK
  • Download Video Viral Guru Bahasa Inggris? Awas Berisi Virus!
  • PKB Minta Kasus C4bul Pendiri Ponpes Pati Tidak Ada Ampunan & Tuntutan Maksimal
  • Inilah Kronologi Video Viral Preman vs Sopir Di Sumedang
  • Ini Alasan UKP Pariwisata Disindir Konten Kreator Drone Gunung Rinjani
  • Inilah Kronologi Viral Video Dugaan Asusila Pegawai Disdik Pasuruan di Mobil Dinas
  • Polisi Polda Sumut Resmi Dipecat: Dari Video Viral Sampai Sidang Etik Ini Kronologinya
  • How to build a high-performance private photo cloud with Immich and TrueNAS SCALE
  • How to Build an Endgame Local AI Agent Setup Using an 8-Node NVIDIA Cluster with 1TB Memory
  • How to Master Windows Event Logs to Level Up Your Cybersecurity Investigations and SOC Career
  • How to Build Ultra-Resilient Databases with Amazon Aurora Global Database and RDS Proxy for Maximum Uptime and Performance
  • How to Build Real-Time Personalization Systems Using AWS Agentic AI to Make Every User Feel Special
  • How to Automate Your Entire SEO Strategy Using a Swarm of 100 Free AI Agents Working in Parallel
  • How to create professional presentations easily using NotebookLM’s AI power for school projects and beyond
  • How to Master SEO Automation with Google Gemini 3.1 Flash-Lite in Google AI Studio
  • How to create viral AI video ads and complete brand assets using the Claude and Higgsfield MCP integration
  • How to Transform Your Mac Into a Supercharged AI Assistant with Perplexity Personal Computer
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme