Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Kritik atas Wahabisme

Posted on February 27, 2013

Oleh Abdul Moqsith Al-Ghazali
(Peneliti Senior Wahid Institute & Koordinator Jaringan Islam Liberal)

Wahabisme makin gencar mengkampanyekan doktrin dan ajarannya ke masyarakat Islam. Tak hanya di kawasan Timur Tengah, Wahabisme coba merambah negeri-negeri lain. Dengan topangan dana kampanye yang cukup, Wahabisme mulai tumbuh di negara-negara kawasan Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Ada yang setuju, tapi tak sedikit umat Islam yang mengajukan keberatan terhadap doktrin dan fatwa para ulama Wahabi. Bahkan, penolakan tak hanya pada doktrin Wahabisme, melainkan juga pada cara orang Wahabi menyebarkan ideologinnya.

Sejumlah orang mengkritik Wahabisme, karena beberapa hal. Pertama, dalam mendakwahkan doktrinnya, orang-orang Wahabi terlalu banyak menyerang ke dalam, ke sesama umat Islam. Terhadap orang-orang Islam non Wahabi, mereka bersikap asyidda’u ‘ala al-muslimin. Tak puas dengan jenis keislaman yang berkembang di lingkungan umat Islam non-Wahabi, mereka hendak mengislamkan kembali orang-orang Islam. Bagi mereka, orang Islam non-Wahabi telah terjatuh ke dalam kemusyrikan sehingga perlu segera diselamatkan.

Dengan merujuk pada al-Qur’an, sebagaimana umat Islam pada umumnya, orang-orang Wahabi memandang dosa syirik sebagai dosa tak terampuni. Allah berfirman, inna Allah la yaghfiru an yusyraka bihi wa yaghfiru ma duna dzalika liman yasya’u [sesungguhnya Allah tak akan mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dan hanya mengampuni dosa selain syirik]. Jika kebanyakan umat Islam menjadikan ayat ini sebagai dasar untuk memusyrikkan orang-orang yang menyembah patung-berhala, maka orang Wahabi justru menjadikan ayat ini sebagai argumen untuk memusyrikkan umat Islam yang bertawassul dan ziarah kubur. Dan karena orang Islam non-Wahabi telah musyrik, maka orang Wahabi merasa berkewajiban untuk mengembalikan mereka ke dalam doktrin ajaran Islam seperti yang mereka pahami.

Jika umat Islam non-Wahabi tak segera bertobat atau enggan diajak kembali kepada “ajaran Islam yang benar” (al-ruju’ ila al-haq), maka orang-orang Wahabi tak ragu untuk melenyapkan nyawa mereka. Itu sebabnya orang Wahabi kerap terlibat dalam tindak kekerasan dengan menyerang orang Islam lain. Sejarah telah menunjukkan sejumlah keonaran orang-orang Wahabi, dari awal kelahirannya hingga sekarang. Mereka tak hanya mengobrak-abrik orang-orang Syiah, melainkan juga para pengikut Sunni yang telah dianggap menyimpang dari ajaran Islam atau yang dipandang telah terperangkap dalam kemusyrikan.

Teologi pemusyrikan orang Islam lain tampaknya telah lama menggelayuti pikiran orang Wahabi. Pemusyrikan seperti ini terus terang akan mengguncang hubungan sesama umat Islam. Yang satu mencaci maki yang lain. Akhirnya konflik dan ketegangan di internal umat Islam menjadi tak terhindarkan. Ini jelas tak produktif buat kepentingan (umat) Islam secara keseluruhan. Energi umat Islam akan terkuras habis karena problem-problem domestik umat Islam.

Kedua, ijtihad orang-orang Wahabi hanya berputar di perkara-perkara receh yang partikular. Mereka berijtihad dalam soal-soal kecil seperti tentang hukum perempuan menyetir mobil, hukum memelihara jenggot, hukum ziarah kubur, hukum bertawassul, hukum menggunakan tasbih dalam berdzikir. Ulama Wahabi mungkin menyangka bahwa ziarah kubur, bercelana di atas tumit, dan bertawassul adalah masalah pokok. Padahal jelas soal-soal seperti ini masuk ke dalam kategori masa’il khilafiyah yang tak akan pernah berhasil disepakati oleh seluruh umat Islam.

Sekarang adalah saat yang tepat bagi orang-orang Wahabi untuk berfikir atau berijtihad tentang soal-soal kemasyarakatan yang lebih penting. Untuk kepentingan berijtihad ini, orang-orang Wahabi mesti memiliki cadangan ulama yang kridibel dan memenuhi standar-kualifikasi sebagai mujtahid. Orang-orang Wahabi tak boleh terus-menerus bertaqlid pada para pendahulunya, seperti Muhammad ibn Abdil Wahab. Atau hanya sekedar mengutip pendapat-pendapat fikih Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Taymiyah, dan Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah.

Bahkan, sekiranya orang Wahabi ingin konsisten mengikuti metodologi Imam Ahmad ibn Hanbal pun, buku-buku ushul fikih Hanabilah yang lebih belakangan boleh dipertimbangkan sebagai rujukan untuk mendinamisasi hukum Islam di lingkungan kelompok Wahabi. Najmuddin Sulaiman ibn Abdul Qawi al-Thufi al-Hanbali misalnya menulis buku Syarh Mukhtashar al-Rawdlah. Ibn Qudamah menulis buku Rawdhah al-Nazhir wa Jannah al-Munazhir. Ibnu al-Qayyim al-Jawziyah pun tak boleh hanya dibaca melalui kitab-kitab fikih yang berhasil ditulisnya, melainkan juga melalui kitab-kitab ushul fikihnya seperti I’lam al-Muwaqqi’in.

Inilah saya kira salah satu cara untuk mendinamisasi aktivitas ijtihad di lingkungan kelompok Wahabi setelah sekian lama terkurung dalam ijtihad tentang perkara-perkara remeh temeh dalam Islam. Dengan perkataan lain, itu merupakan jalan yang mesti ditempuh kelompok Wahabi agar terhindar dari kecenderungan taqlid buta terhadap argumen-argumen lama. Sebab, sungguh aneh, kelompok Wahabi menolak tradisi bermadzhab atau bertaqlid, sementara pada saat yang bersamaan mereka melakukan hal yang sama; dengan bertaqlid kepada Muhammad ibn Abdil Wahab. Kita memerlukan ulama Wahabi yang pemikiran-pemikirannya bisa melampaui pemikiran Muhammad ibn Abdil Wahab.

Ketiga, kelompok Wahabi cenderung tak memanusiakan kaum perempuan. Perempuan selalu saja dianggap sebagai manusia tak sempurna; separuhnya adalah manusia dan separuhnya yang lain adalah setan yang mengganggu keimanan laki-laki. Cara pandang demikian menyebabkan orang-orang Wahabi punya kecenderungan untuk memarginalisasikan perempuan. Dehumanisasi terhadap perempuan berlangsung di berbagai sisi kehidupan.

Betapa perempuan tak boleh dilibatkan dalam pengambilan keputusan, tak hanya di ruang publik melainkan juga di ruang domestik seperti keluarga. Perempuan atau istri tak boleh mencari nafkah walau untuk menanggulangi beban perekonomian keluarga yang tak mungkin lagi bisa diatasi oleh para suami. Dalam konteks Indonesia misalnya, beratnya beban ekonomi keluarga menyebabkan seluruh anggota keluarga tak terkecuali istri tumpah ruah bergerak ke luar rumah untuk mengais rezeki. Saya kira karena itu, di antaranya, tafsir-tafsir Wahabi mengenai domestikasi perempuan tak cukup diminati umat Islam Indonesia.

Sementara di lingkungan keluarga Wahabi, perempuan sejak dulu diposisikan sebagai obyek (munfa’il atau maf’ul) dan tak pernah dianggap sebagai subyek (fa’il). Ketika laki-laki tak bisa mengendalikan hawa nafsu, maka tubuh perempuanlah yang mesti ditutup rapat. Batas-batas aurat perempuan dibuat sangat kaku dan seakan sengaja diciptakan untuk menyengsarakan perempuan. Ruang gerak perempuan terus dibatasi. Perempuan tak boleh memegang jabatan publik, sebagai hakim apalagi kepala negara. Sampai sekarang taraf pendidikan kaum perempuan masih jauh di bawah laki-laki. Tak ada ulama perempuan yang lahir dari lingkungan Wahabi. Padahal, jelas istri-istri Nabi adalah perempuan-perempuan yang tangguh dan mandiri. Jika Khadijah tangguh secara ekonomi, maka Aisyah mumpuni secara intelektual bahkan cakap memimpin pasukan di medan pertempuran.

Dalam kaitan itu, di lingkungan Wahabi kiranya perlu digerakkan semangat untuk memartabatkan dan memanusiakan perempuan. Tak zamannya lagi, perempuan hanya disembunyikan di ruang-ruang tertutup. Sebagaimana telah diteladankan puteri-puteri dan isteri-isteri Nabi Muhammad, perempuan mesti tampil sebagai penggerak ekonomi-sosial dan moral-intelektual di tengah masyarakat. Dengan cara itu, kehadiran Wahabi niscaya tak dirasakan sebagai ancaman bagi perempuan dan umat Islam lain, melainkan justru sebagai rahmat lil alamin. Wallahu A’lam bis Shawab.

Jakarta, 16 Juni 2011

Terbaru

  • Studi Kasus Sukses Instagram Maria Wendt Dapat 12 Juta View Instagram Per Bulan
  • ZenBook S16, Vivobook Pro 15 OLED, ProArt PX13, dan ROG Zephyrus G14, Laptop Bagus dengan Layar OLED!
  • Caranya Ngebangun Website Directory dengan Traffic Tinggi dalam Seminggu!
  • Cara Mengembangkan Channel YouTube Shorts Tanpa Wajah
  • Inilah Cara Menghitung Diskon Baju Lebaran Biar Nggak Bingung Saat Belanja di Mall!
  • Cara Jitu Ngebangun Bisnis SaaS di Era AI Pakai Strategi Agentic Workflow
  • Inilah Rincian Gaji Polri Lulusan Baru 2026, Cek Perbedaan Jalur Akpol, Bintara, dan Tamtama Sebelum Daftar!
  • Inilah 5 Channel YouTube Membosankan yang Diam-diam Menghasilkan Banyak Uang
  • Inilah Cara Pakai Google Maps Offline Biar Mudik Lebaran 2026 Nggak Nyasar Meski Tanpa Sinyal!
  • Inilah Alasan Mahkamah Agung Tolak Kasasi Google, Denda Rp202,5 Miliar Resmi Menanti Akibat Praktik Monopoli
  • Inilah Cara Daftar dan Syarat SPMB SMK Boarding Jawa Tengah 2026, Sekolah Gratis Sampai Lulus!
  • Inilah Daftar Sekolah Kedinasan 2026 untuk Lulusan SMK, Bisa Kuliah Gratis dan Berpeluang Besar Langsung Jadi CPNS!
  • Inilah Pajak TER: Skema Baru PPh 21 yang Nggak Bikin Pusing, Begini Cara Hitungnya!
  • Inilah Jadwal Resmi Jam Buka Tol Jogja-Solo Segmen Prambanan-Purwomartani Saat Mudik Lebaran 2026
  • Inilah Cara Mendapatkan Witherbloom di Fisch Roblox, Rahasia Menangkap Ikan Paling Sulit di Toxic Grove!
  • Kenapa Indomart Point Bisa Kalahkan Bisnis Kafe?
  • Inilah Cara Mendapatkan Rotten Seed di Fisch Roblox, Lokasi Rahasia di Toxic Grove Buat Unlock Toxic Lotus!
  • Inilah Cara Zakat Crypto Kalian Bisa Jadi Pengurang Pajak Berdasarkan Aturan Resmi Pemerintah!
  • Inilah Perbandingan Airwallex vs Payoneer 2026: Jangan Sampai Profit Kalian Ludes Gara-Gara Biaya Admin!
  • Inilah Roadmap 7 Tahap Bangun Bisnis Digital dari Nol Biar Nggak Cuma Putar-Putar di Tempat!
  • Inilah Cara Tetap Gajian dari YouTube Meski View Masih Ratusan, Penasaran?
  • Inilah Alasan Akun TikTok Affiliate GMV 270 Juta Kena Banned Permanen!
  • Inilah Bahaya Astute Beta Server APK, Jangan Sembarang Klik Link Download FF Kipas 2026!
  • Inilah Bahaya Nonton Film di LK21 dan IndoXXI, Awas Data Pribadi dan Saldo Rekening Kalian Bisa Ludes!
  • Inilah Kronologi & Video Lengkap Kasus Sejoli Tambelangan Sampang Viral, Ternyata Gini Awal Mulanya!
  • Inilah Alasan Kenapa Koin Nego Neko Shopee Nggak Bisa Dipakai Bayar Full dan Cara Rahasia Dapetinnya!
  • Inilah Cara Menjawab Pertanyaan Apakah di Sekolahmu Sudah Ada IFP/PID dengan Benar dan Profesional
  • Inilah Fakta Isu Roblox Diblokir di Indonesia 2026, Benarkah Akan Ditutup Total?
  • Inilah Penyebab dan Cara Mengatasi FF Kipas My ID Verify UID Biar Akun Tetap Aman
  • Inilah Deretan HP RAM 8GB Harga di Bawah 2 Juta Terbaik 2026, Spek Dewa Tapi Nggak Bikin Kantong Jebol!
  • How to Fix Python Not Working in VS Code Terminal: A Troubleshooting Guide
  • Game File Verification Stuck at 0% or 99%: What is it and How to Fix the Progress Bar?
  • Why Does PowerPoint Underline Hyperlinks? Here is How to Remove Them
  • AI Bug Hunting with Semgrep
  • What is the Excel Power Query 0xc000026f Error?
  • Claude Code Tips: Don’t Overuse SKILL.md!
  • How to Planning Cinematic AI Film Production: A Step-by-Step Tutorial Using LitMedia Tools
  • 6 Innovative AI Tools for 2026: From Voice Cloning to Advanced Automation Systems
  • How to Run Hunter Alpha: The Free 1 Trillion Parameter AI Agent on OpenClaw
  • Build Your Own Self-Improving AI: A Guide to Andrej Karpathy’s Autoresearch and Claude Code
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme