Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Ferry Irwandi Bahas Apa itu Friction Shifting Theory?

Posted on August 15, 2025

Fenomena menarik tengah melanda lini masa pengguna media sosial. Konten-konten yang dulunya didominasi oleh “giveaway yang menjual kemiskinan” kini mulai tergantikan oleh diskusi dan perdebatan mendalam. Pergeseran ini menunjukkan adanya perubahan preferensi khalayak, di mana minat terhadap literasi dan pendidikan semakin meningkat. Tidak jarang pengguna kini mulai merasa ada yang salah dengan sistem pendidikan mereka di masa lalu, bahkan merencanakan untuk melanjutkan jenjang studi ke tingkat yang lebih tinggi.

Fenomena ini juga ditandai dengan berkurangnya ketertarikan pada kemewahan selebriti, beralih pada kualitas pemikiran. Bahkan, figur-figur yang sebelumnya tidak dikenal kini mulai menjadi sorotan dan diikuti. Konten misteri yang dulu menyeramkan, kini dianggap sebagai hiburan. Puncaknya, masyarakat mulai mengembangkan kemampuan kritis, melakukan validasi dan mencari kebenaran alternatif dari setiap informasi yang mereka terima.

Jika perubahan ini dirasakan, maka ini adalah pertanda bahwa “sistem telah runtuh,” dan kita sedang menyongsong “masyarakat baru.” Perubahan drastis ini menjadi subjek studi mendalam yang diinisiasi oleh seorang akademisi yang baru saja menuntaskan dua gelar master (MM dan MBA), dan kini bersiap menempuh program PhD di Monash University, Australia, salah satu kampus terkemuka di dunia yaitu Ferry Irwandi.

Tantangan Meraih Gelar Doktoral dan Penemuan Teori Baru

Proses pendaftaran PhD, terutama di kampus-kampus kelas dunia, bukan perkara mudah. Banyak lulusan beasiswa yang terkendala karena harus mendapatkan supervisor yang mau mengakui dan membimbing riset mereka. Kesesuaian riset dengan minat atau beban kerja profesor menjadi faktor krusial. Namun, riset yang diajukan oleh sang akademisi ini, yang berhubungan dengan algoritma dan data engineering, berhasil diterima.

Riset Ferry ini bermuara pada pengembangan teori baru dalam komunikasi massa yang dinamakan Friction Shifting Theory (FST). Penamaan teori ini terinspirasi dari mekanisme perpindahan gigi pada sepeda balap manual, di mana gesekan antara ban dan kabel menjadi kunci. Ini menjadi metafora bagi FST, sebuah teori yang masih dalam tahap beta testing dan prototype, namun telah menunjukkan hasil yang memuaskan.

Memahami Algoritma: Bukan Tentang Apa yang Netizen Mau

Sebelum menyelami FST dan model matematikanya, penting untuk memahami dasar kerja algoritma. Banyak yang keliru beranggapan bahwa untuk menjadi content creator yang sukses, seseorang harus membuat konten yang “dibutuhkan” atau “diinginkan” oleh netizen. Pernyataan ini dianggap keliru fatal.

Justru sebaliknya, keinginan dan kebutuhan netizen seringkali terbentuk karena paparan di media sosial. Seseorang yang awalnya tidak mengenal dark comedy atau ASMR, bisa menjadi tertarik setelah konten tersebut muncul di lini masa mereka. Inilah default cara kerja media sosial. Oleh karena itu, dalam membuat konten, yang penting bukanlah “apa yang orang mau,” melainkan “apa yang Anda ingin orang mau.” Ini adalah formula rahasia di balik konten viral.

Hal ini krusial karena merupakan dasar cara kerja algoritma. Machine learning dalam algoritma bersifat prediktif, tidak pernah fix. Setiap video yang diunggah akan diprediksi, diberi skor, dan diberi kesempatan sesuai prediksi tersebut. Untuk memahami metodologi, model, dan cara kerjanya, diperlukan pengujian berulang.

Dalam bahasa sederhana, setiap video akan diberi skor berdasarkan berbagai variabel, mulai dari angka yang ditentukan oleh machine learning hingga retensi menonton (W), interaksi sosial (S), metadata, dan Natural Language Processing (NLP). Karena sifatnya prediktif, pendekatan yang digunakan adalah progresivitas linear. Misalnya, jika video berdurasi 90 detik ditonton selama 60 detik, maka skor retensinya adalah 60/90. Interaksi seperti like, comment, dan share juga memiliki bobot yang berbeda. Metadata seperti deteksi wajah (CNN) dan ekstraksi teks (OCR) turut berkontribusi dalam penilaian.

Setelah total skor dihitung, akan ditentukan threshold. Jika video melewati threshold, ia akan masuk ke pengujian batch pertama, disebarkan ke 500 orang. Jika skornya masih tinggi, akan disebar ke 1.000, lalu 10.000 orang, dan seterusnya hingga mencapai titik jenuh. Inilah yang disebut initial test batch.

Saat membuat akun baru di TikTok, Reels, atau YouTube, pengguna akan diuji dengan berbagai jenis video. Algoritma akan menilai video mana yang menarik, ditonton penuh, dilewati, atau disukai. Machine learning kemudian menghitung data ini, membuat model prediksi, dan menyimpulkan jenis video apa yang disukai pengguna. Semakin tinggi minat, semakin besar porsi jenis video tersebut di lini masa, dan semakin sedikit ruang untuk jenis video lain.

Artinya, daripada membongkar kompleksitas algoritma, bagaimana jika algoritma dapat merekomendasikan 10 jenis video yang memang dirancang untuk terus diperbincangkan? Di sinilah FST berperan.

Friction Shifting Theory: Memaksa Algoritma Berubah

Algoritma tidak pernah netral. Ia selalu mencari konten, tema, atau topik yang dapat meningkatkan atensi pengguna terhadap platform mereka, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan mereka. Konsep “Game of Attention” sudah dikenal luas, namun FST adalah evolusinya. Game of Attention relatif mudah dilakukan jika seseorang memiliki angka (jumlah follower atau subscriber), tetapi memberikan dampak adalah tantangan lain.

Dari Game of Attention inilah teori FST dikembangkan menjadi model baru yang bermanfaat bagi banyak orang. Sebagai bukti keberhasilan, akun pribadi sang akademisi mencatat All-Time High (ATH) dalam performa. Akun Instagram-nya meraih hampir 200 juta views dalam 30 hari, jauh melampaui akun-akun dengan follower berkali-kali lipat lebih banyak. Bahkan, selisihnya tipis dengan salah satu influencer terbesar di Indonesia, Deddy Corbuzier, meskipun jumlah follower Om Deddy sepuluh kali lebih banyak.

FST, atau Friction Shifting Theory, adalah sebuah metode atau model yang dapat memberikan perubahan besar pada algoritma banyak orang ketika dilakukan secara tepat dan kolektif. FST tidak bisa dilakukan sendirian; ia melibatkan banyak unsur, baik langsung maupun tidak langsung. Dalam penelitian, ada tiga faktor penting:

  1. Sumber: Content creator atau influencer sebagai penyedia bahan konten.

  2. Amplifier: Clipper atau pihak yang memperkuat penyebaran konten.

  3. Banter: Pihak yang pro atau mendukung gagasan/ide yang berusaha dibawa dalam perubahan algoritma.

Pendekatan ini telah diterapkan dalam isu-isu seperti filsafat, IQ, dan kasus hukum Tom Lembong. Sebagai contoh, pembicaraan mengenai filsafat melonjak 650% pada Juli 2025 dibandingkan Juni 2025. Hal serupa terjadi pada isu IQ. Dalam kasus hukum Tom Lembong, FST berhasil memecah narasi dominan di TikTok yang awalnya dikuasai oleh mereka yang pro terhadap putusan hukum terhadap Tom Lembong.

Dampak langsungnya juga terasa di marketplace, dengan lonjakan luar biasa dalam pembelian buku filsafat, buku Melaka, dan buku tes IQ dalam 30 hari.

Bagaimana FST Bekerja: Model Prediksi dan Lingkaran Interaksi

Dasar algoritma adalah: tidak netral, selalu mencari konten potensial, dan machine learning-nya prediktif. Setiap video diberi peringkat berdasarkan model dan unsur tertentu. Jika algoritma memprediksi video akan menghasilkan view tinggi, maka video itu akan terus di-up.

Setelah pengembangan teori, diperkenalkan “Score Sigma” (N index + 1 performa + model video) yang masuk ke persamaan candidate generation: P(V|U) = E(U, T, V)/sigma. Jika skornya bagus, video akan dimunculkan ke lebih banyak pengguna. Misalnya, beta testing ke 1.000 pengguna, jika interaksinya tinggi, akan dilanjutkan ke 10.000, lalu 100.000 pengguna. Faktor penentu seperti CNN untuk deteksi wajah dan OCR untuk ekstraksi teks juga berpengaruh. Inilah mengapa video dengan wajah atau pola yang dikenal algoritma dapat naik meskipun tanpa penyebutan nama.

Setelah memahami model algoritma, FST menyisipkannya dengan model matematikanya sendiri. FST mengidentifikasi unsur-unsur yang menentukan seberapa tinggi video akan naik dalam model prediksi engagement: W1(pay watch) + W2(like) + W3(comment) + W4(share).

FST memungkinkan interaksi antar pengguna dalam kondisi looping. Misalnya, ketika sebuah isu seperti “hapuskan jurusan filsafat” diangkat, video tersebut akan memicu perdebatan, bantahan, dukungan, dan generasi konten baru. Isu filsafat, sebagai keyword dalam kategori edukasi, akan terus mendorong produksi konten terkait. Contohnya, pencarian hashtag #filsafat di TikTok menghasilkan 168.000 video (bukan views). Bayangkan jika ini dilakukan oleh puluhan orang, bukan hanya satu. Kita akan berhasil “bruteforce” algoritma untuk berubah sesuai model matematika FST.

Saat ini, FST sedang memasuki beta testing kedua, salah satunya dengan pembukaan beasiswa “Revolusi Kritik” terhadap sistem perguruan tinggi. Ini adalah upaya untuk memenuhi algoritma dengan konten yang telah dirancang.

Pesan bagi content creator, public figure, dan influencer adalah untuk tidak melupakan pentingnya pendidikan. Bagi para akademisi, tantang diri sendiri, eskalasikan permainan. Pengetahuan dan ide tidak akan berarti jika tidak dapat ditantang, diterima, dijalankan, atau didebat oleh orang lain.

Terbaru

  • Inilah Panduan Lengkap Jalur Afirmasi Disabilitas SPMB Kota Malang 2026, Simak Syarat dan Jadwalnya!
  • Inilah Cara Lengkap Daftar UM Undip 2026: Panduan Teknis, Jadwal, dan Syarat Biar Nggak Salah Langkah!
  • Inilah Daftar Kampus Swasta Terbaik di Indonesia 2026 Versi Webometrics dan QS WUR, Nggak Kalah Sama Negeri!
  • Inilah Cara Daftar PPKB UI 2026, Kesempatan Emas Masuk Kampus Jaket Kuning Tanpa Tes!
  • Inilah Tampilan Baru Aplikasi Cek Bansos Kemensos 2026, Cara Cek Status dan Nominal Bantuan yang Cair!
  • Inilah Aturan PIN SPMB Jatim 2026, Bisa Dipakai Berapa Kali Sih?
  • Apa itu Common Techniques in Data Classification?
  • Inilah Cara Mengatasi Error Loading File Default.rdp Saat Menggunakan Remote Desktop
  • Anak Anies, Mutiara Baswedan Sukses Lulus S2 di Harvard University Sambil Momong Anak, Inspiratif Pol!
  • Inilah Kenapa Nama Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Bikin Netizen Penasaran Banget!
  • Inilah Panduan Lengkap Fakultas Vokasi UNY Kampus Wates 2026: Jurusan, Biaya Kuliah, dan Bedanya dengan Gunungkidul
  • Inilah Arti FOMO yang Sebenarnya dan Cara Biar Jenengan Nggak Gampang Ikut-ikutan Tren Viral
  • Inilah Perbedaan Red Flag dan Green Flag Serta Cara Mengenalinya dalam Hubungan
  • Inilah Cara Menghitung Nilai Gabungan Rapor dan TKA SPMB 2026 Supaya Peluang Lolos Makin Besar
  • Inilah Sisi Gelap Dunia Kotak-Kotak, Mengenal Creepypasta Minecraft yang Bikin Pemain Merinding Seharian
  • Inilah Caranya Plotting Bidang Tanah Mandiri Lewat Aplikasi Sentuh Tanahku Supaya Data Jenengan Makin Akurat
  • Inilah Debut Yua Mikami di Drama Netflix Sins of Kujo, Perannya Bikin Banyak Orang Kaget!
  • Inilah Alasan Kenapa Video Viral Rok Hijau di Dapur Jadi Trending Topik dan Bikin Geger Netizen
  • Inilah Arti Rizz yang Viral di Media Sosial dan Rahasia Punya Karisma Alami Tanpa Perlu Banyak Gaya
  • Inilah Cara Menghapus Game Steam Sampai Bersih Biar Penyimpanan Lega dan Library Tetap Rapi
  • Inilah Cara Melacak iPhone Hilang Biar Bisa Motret Muka Pencurinya Secara Otomatis
  • Iki Loh Mitos Jam Posting Instagram yang Sering Bikin Bingung
  • Inilah Arti Withdrawn dalam Saham dan Cara Melakukannya Biar Nggak Bingung Pas Trading
  • Inilah Cara Melihat Nilai UTBK SNBT 2026 dan Tutorial Download Sertifikat Resminya
  • Inilah Kenapa Kalian Harus Pilih View TikTok Gratis Tanpa Login Biar Akun Tetap Aman dan Cepat FYP
  • Inilah Bedanya SSD NVMe vs SATA di Laptop Bisnis, Kitorang Kasih Tau Biar Kalian Tra Salah Pilih!
  • Inilah Cara Cek Tier Akun FF Pakai AI yang Lagi Viral, Ternyata Gampang Sekali!
  • Is it Legal? How to Use Fake Website to Generate Leads?
  • Get 4000 Watch Hours with Only One Video Easy Way
  • How to Connect Podman Containers with Network Volume and Pod Unit Files
  • Read SELinux AVC Denial Log Simple Guide for Noob
  • How Check and Fix SELinux Block Things in Fedora Linux
  • How Actually SELinux is Work?
  • How to Install Elementary OS 8 Easy and Make It Good
  • How to Install UniFi OS Server on Ubuntu Linux Without Cloud Key
  • How to Automate Your Entire SEO Strategy Using a Swarm of 100 Free AI Agents Working in Parallel
  • How to create professional presentations easily using NotebookLM’s AI power for school projects and beyond
  • How to Master SEO Automation with Google Gemini 3.1 Flash-Lite in Google AI Studio
  • How to create viral AI video ads and complete brand assets using the Claude and Higgsfield MCP integration
  • How to Transform Your Mac Into a Supercharged AI Assistant with Perplexity Personal Computer
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme