Belakangan ini, industri game tanah air lagi ramai ngomongin soal isu perpajakan yang menimpa Toge Productions. Masalah ini ngebuat banyak pelaku industri kreatif ngerasa khawatir sama masa depan ekspor karya digital mereka. Yuk, kita bedah bareng apa sih yang sebenarnya terjadi dan kenapa hal ini jadi sangat krusial buat kalian ketahui.
Dunia industri kreatif kita kayaknya lagi dapet tantangan besar, bukan dari kompetitor luar negeri, tapi dari urusan administrasi di rumah sendiri. Belum lama ini, Kris Antoni selaku pendiri Toge Productions membagikan keresahannya di platform X (Twitter) soal pengalaman mereka berurusan sama kantor pajak. Hal ini langsung viral karena ternyata banyak banget pengembang game dan kreator konten yang ngerasain beban serupa. Masalah utamanya bukan karena mereka nggak mau bayar pajak, tapi lebih ke arah ketidaksinkronan antara regulasi yang ada dengan model bisnis industri game modern yang serba digital dan global.

Kami ngelihat ada beberapa poin teknis yang ngebuat situasi ini jadi rumit buat mereka. Berikut adalah penjelasan detail mengenai keluhan dan kendala perpajakan yang sedang dihadapi oleh industri game kita:
1. Ketidakjelasan Klasifikasi Ekspor Jasa Digital
Pemerintah sebenarnya punya aturan soal PPN 0% buat ekspor jasa. Tapi masalahnya, pihak otoritas pajak sering kali punya interpretasi yang berbeda soal apa itu “ekspor” dalam konteks game. Buat mereka, ekspor itu kayaknya harus ada barang fisik yang keluar atau dokumen pengiriman yang ribet. Padahal, developer game kayak Toge Productions itu ngejual produk digital lewat platform kayak Steam, PlayStation, atau Xbox. Kami melihat sering terjadi perdebatan apakah pendapatan dari platform internasional itu masuk kategori royalti atau penjualan jasa, yang mana perlakuan pajaknya beda banget.
2. Masalah Pajak Royalti (PPh 23/26) yang Memberatkan
Banyak kreator ngeluh soal tarif pajak royalti yang dirasa ngebikin cashflow perusahaan berantakan. Kalau pendapatan dari luar negeri dianggap royalti, mereka bisa kena potong pajak yang lumayan gede di negara asal (withholding tax) dan harus lapor lagi di sini. Masalahnya, proses buat klaim agar nggak kena pajak ganda (P3B/Tax Treaty) itu administrasinya seringkali bikin pusing. Kalian harus nyiapin dokumen DGT yang validitasnya kadang didebat sama petugas pajak setempat karena mereka nggak terbiasa sama model bisnis distribusi digital.
3. Sulitnya Membuktikan Biaya Riset dan Pengembangan (R&D)
Dalam industri game, biaya terbesar itu ada di SDM dan riset. Pemerintah sebenarnya ngasih insentif Super Tax Deduction buat R&D, tapi praktiknya di lapangan nggak segampang itu. Banyak developer ngerasa syarat buat dapetin insentif itu terlalu kaku. Petugas pajak seringkali nggak ngerti kalau proses bikin coding atau art itu adalah bagian dari riset teknologi. Hal ini ngebuat mereka susah buat ngeklaim pengurangan pajak yang seharusnya jadi hak mereka.
4. Kurangnya Pemahaman Petugas Pajak soal Ekosistem Game
Ini yang paling sering dikeluhkan di X. Sepertinya ada kesenjangan pengetahuan antara pelaku industri sama petugas di lapangan. Kami sering denger cerita kalau petugas pajak nanya hal-hal yang nggak relevan, kayak minta bukti fisik pengiriman barang buat produk yang sepenuhnya digital. Ketidaktahuan ini ngebikin proses audit jadi lama dan penuh tekanan, yang ujung-ujungnya malah ngehambat produktivitas tim buat bikin game baru.
5. Beban Administrasi bagi Perusahaan Kecil-Menengah
Buat studio indie, urusan administrasi pajak ini ngebikin operasional jadi mahal karena mereka harus nyewa konsultan pajak profesional cuma buat ngejelasin model bisnis mereka ke kantor pajak. Kalau nggak, mereka berisiko kena denda yang jumlahnya bisa ngebikin studio bangkrut. Mereka ngerasa kayak “dihukum” karena sukses go international, padahal mereka itu pahlawan devisa.

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan supaya industri kreatif kita nggak jalan di tempat? Berikut adalah langkah-langkah yang diharapkan bisa memperbaiki keadaan:
- Edukasi Kolektif bagi Petugas Pajak: Perlu ada pelatihan khusus bagi petugas di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) biar mereka paham gimana sebenernya alur duit di industri game dan konten digital. Jangan disamain sama pabrik tekstil atau toko kelontong.
- Penyederhanaan Dokumen Tax Treaty: Proses pengurusan form DGT atau bukti potong pajak luar negeri harusnya bisa lebih simpel dan terintegrasi secara digital, jadi para developer nggak perlu ngabisin waktu berhari-hari cuma buat urusan kertas.
- Dialog Terbuka antara Asosiasi dan Pemerintah: Asosiasi Game Indonesia (AGI) bareng Kemenparekraf perlu duduk bareng sama Kemenkeu buat ngebahas regulasi khusus (lex specialis) buat industri kreatif digital.
- Kejelasan Aturan PPN Ekspor Digital: Harus ada hitam di atas putih yang jelas kalau penjualan game di platform global itu adalah ekspor jasa yang dapet tarif 0%, tanpa perlu diperdebatkan lagi soal bukti fisiknya.
Rasanya memang nggak adil kalau industri yang lagi harum namanya di kancah internasional ini malah terhambat sama birokrasi yang belum siap move on ke era digital. Pajak itu penting buat ngebangun negara, tapi jangan sampai aturannya malah ngebikin para talenta terbaik kita milih buat pindah ke luar negeri atau ngebangun perusahaan di Singapura cuma gara-gara urusan administrasi yang nggak masuk akal. Kami berharap pemerintah bisa segera ngasih solusi nyata, bukan cuma janji dukungan di pidato-pidato formal aja.
Sintesisnya, industri game butuh kepastian hukum dan perlakuan pajak yang adil supaya bisa terus bersaing global. Kami merekomendasikan buat kalian para developer buat mulai mendokumentasikan setiap transaksi dengan sangat rapi dan mulai konsultasi sama ahli pajak yang paham industri kreatif sejak dini. Jangan nunggu dapet surat cinta dari kantor pajak baru sibuk nyari solusi.
Terima kasih sudah membaca sampai habis, rekan-rekanita sekalian. Semoga ekosistem industri kreatif kita makin sehat dan nggak ribet lagi urusan pajaknya!